Bregada Jaga Malioboro Jadi Daya Tarik Wisatawan
Bregada Jaga Malioboro Jadi Daya Tarik Wisata, Pengunjung Antusias Berfoto dan Bertanya Seputar Budaya Jogja
Anggota Bregada Saeko Kapti, Kelurahan Sosromenduran, Andhika Budi Mahendra, (pertama dari kiri) berfoto di Jalan Malioboro pada Minggu (13/7/2026)./ Harian Jogja - Stefani Yulindriani
JOGJA—Kehadiran Bregada Jaga Malioboro tak hanya berperan menjaga ketertiban di kawasan wisata Malioboro, tetapi juga menjadi daya tarik bagi wisatawan. Balutan busana prajurit tradisional Yogyakarta membuat banyak pengunjung berhenti untuk berfoto hingga bertanya mengenai budaya dan destinasi wisata di Kota Jogja.
Salah seorang anggota Bregada Saeko Kapti, Kelurahan Sosromenduran, Andhika Budi Mahendra, mengatakan para anggota Bregada bertugas sebagai petugas informasi sekaligus memperkenalkan budaya Yogyakarta kepada wisatawan. Menurutnya, jadwal bertugas dilakukan pada akhir pekan dan menyesuaikan hari libur atau peak season kunjungan wisatawan.
"Jadwalnya belum tetap karena menunggu dari dinas. Biasanya bisa satu sampai dua kali dalam sebulan, bertugas pada Sabtu atau Minggu," katanya, Minggu (13/7/2026).
Selain membantu menjaga kawasan Malioboro, anggota Bregada juga kerap memberikan informasi kepada wisatawan mengenai lokasi wisata, kuliner, fasilitas umum, hingga rute menuju sejumlah tempat di Kota Jogja.
"Kalau ada yang tanya tempat kuliner, wisata, masjid, ATM, atau lokasi lainnya, kami berikan informasi. Jadi selain berjaga, kami juga membantu wisatawan," ujarnya.
Menurut Andhika, penampilan Bregada dengan pakaian adat mampu menarik perhatian wisatawan. Tidak sedikit pengunjung yang penasaran dengan busana yang dikenakan maupun makna keberadaan prajurit tradisional tersebut.
"Banyak yang bertanya ini pakaian apa, dalam rangka apa, kenapa berjaga memakai pakaian seperti ini. Kami jelaskan bahwa ini menjadi bagian dari suasana khas Malioboro sekaligus daya tarik wisata," katanya.
Berdasarkan pengamatannya selama musim libur sekolah, wisatawan yang datang ke Malioboro didominasi keluarga. Sementara itu, kunjungan wisatawan mancanegara belum sebanyak tahun-tahun sebelumnya, meski beberapa di antaranya tetap datang dan meminta informasi dalam bahasa Inggris.
"Ada wisatawan mancanegara yang mengajak ngobrol juga. Tidak semua anggota bisa berbahasa Inggris, tetapi ada beberapa yang bisa membantu memberikan informasi," ujarnya.
Ia berharap wisatawan turut menjaga kebersihan dan ketertiban selama berkunjung ke Malioboro, terutama dengan tidak membuang sampah maupun puntung rokok sembarangan.
"Yang paling penting tetap menjaga kebersihan, apalagi ini kawasan wisata. Sampah, terutama puntung rokok, jangan dibuang sembarangan karena di Malioboro banyak anak-anak dan keluarga yang berkunjung," katanya.
Sementara itu, salah seorang wisatawan asal Jakarta, Amelia, mengaku baru pertama kali melihat Bregada Jaga Malioboro secara langsung. Menurutnya, kehadiran prajurit tradisional tersebut menjadi pengalaman menarik sekaligus memperkenalkan budaya Yogyakarta kepada wisatawan.
"Ini bagus sehingga Bregada prajurit bisa dikenal banyak orang," ujarnya.
Hal senada disampaikan Hani, warga Kota Jogja. Ia mengaku senang melihat Bregada Jaga Malioboro bertugas karena mampu menghadirkan nuansa budaya yang khas di kawasan wisata tersebut.
"Senang lihatnya," katanya.
Keberadaan Bregada Jaga Malioboro yang didukung Dinas Pariwisata (Dinpar) DIY menjadi salah satu upaya memperkuat identitas budaya di kawasan Malioboro. Tak hanya bertugas menjaga ketertiban, para prajurit berbusana tradisional itu juga menghadirkan atraksi budaya yang menarik perhatian wisatawan serta menciptakan pengalaman berwisata yang lebih berkesan. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Bregada Jaga Malioboro Jadi Daya Tarik Wisata, Pengunjung Antusias Berfoto dan Bertanya Seputar Budaya Jogja
Empat remaja diamankan dalam kasus pembacokan pelajar di Sanden, Bantul. Polisi masih memburu pelaku lain yang diduga terlibat dalam aksi tersebut.
Hasto Wardoyo meminta sekolah tidak menjadikan seragam sebagai beban orang tua dan memberi toleransi bagi siswa yang belum mampu membeli seragam.
Jelang Muktamar NU ke-35, Majlis Musyawarah Taswirul Afkar membahas arah NU 100 tahun ke depan dan penguatan kemandirian jamiyah.
Polsek Semin mengingatkan bahaya pembakaran lahan saat musim kemarau karena dapat memicu kebakaran dan mengganggu habitat monyet di Gunungkidul.
Libur sekolah membawa lebih dari 200 ribu wisatawan ke Bantul. PAD dari retribusi wisata mencapai Rp2,76 miliar dan okupansi hotel naik menjadi 70 persen.