The 1O1 Yogyakarta Tugu Angkat Kotagede lewat Sketsa Nusantara

Media Digital
Media Digital Senin, 10 Agustus 2026 14:22 WIB
The 1O1 Yogyakarta Tugu Angkat Kotagede lewat Sketsa Nusantara

General Manager The 1O1 Yogyakarta Tugu, Wahyu Wikan (tengah) dan Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo (tengah) berfoto bersama dalam 12th Anniversary THE 1O1 Yogyakarta Tugu: Sketch Tour Kotagede di Rumah Prof. Kahar Abdoel Moezakir, Kotagede pada Minggu (9/8/2026)./ Harian Jogja -Stefani Yulindriani

Harianjogja.com, JOGJA—The 1O1 Yogyakarta Tugu kembali menggelar 12th Anniversary THE 1O1 Yogyakarta Tugu: Sketch Tour Kotagede dengan mengangkat kawasan Kotagede sebagai objek eksplorasi wisata melalui seni sketsa. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari perayaan ulang tahun ke-12 hotel sekaligus upaya mendorong kembali geliat wisata Kotagede.

General Manager The 1O1 Yogyakarta Tugu, Wahyu Wikan Trispratiwi, mengatakan Kotagede dipilih karena kawasan tersebut memiliki kekayaan budaya, sejarah, arsitektur, aktivitas masyarakat, hingga kuliner yang potensial diangkat sebagai daya tarik wisata.

"Kali ini kami mengangkat Kotagede sebagai satu tempat yang akan di-sketch oleh teman-teman. Kotagede dipilih karena wilayah ini merupakan salah satu destinasi wisata kota yang unggulan selain Malioboro," ujarnya di Rumah Prof. Kahar Abdoel Moezakir, Kotagede, Minggu (9/8/2026).

Menurutnya, Kotagede sempat mengalami kondisi yang relatif lesu sehingga diperlukan berbagai kegiatan kreatif untuk kembali memperkenalkan kawasan tersebut kepada wisatawan.

"Kotagede sempat agak lesu, kita angkat kembali melalui para sketsa," katanya.

Wikan mengatakan seni sketsa dipilih karena karya para sketcher dapat menjadi media promosi wisata yang menggambarkan secara langsung karakter sebuah destinasi. Tidak hanya bangunan, peserta juga mengeksplorasi budaya, aktivitas masyarakat, hingga kuliner.

"Kami melihat bagaimana para sketsa itu bisa menjadi media promosi wisata Kota Jogja melalui budaya, melalui kegiatan aktivitas daripada penduduk dan melalui kuliner," ujarnya.

Kegiatan tersebut menyasar wisatawan dengan minat khusus atau quality tourism. Konsep travel sketch memungkinkan wisatawan tidak sekadar berkunjung, tetapi juga melakukan aktivitas menggambar selama mengeksplorasi destinasi.

"Yang kami bidik bukan mass tourism, tetapi quality tourism. Mereka mau punya minat untuk menggunakan sketsa ini sebagai traveling. Jadi mereka sekalian traveling, tur, tapi juga menggambar," kata Wikan.

Ia berharap konsep tersebut turut berdampak terhadap peningkatan lama tinggal wisatawan di Kota Jogja. Wikan menyebut rata-rata lama tinggal wisatawan di Kota Jogja saat ini masih sekitar 1,8 hari.

"Bagaimana caranya meningkatkan lama tinggal di Kota Jogja, salah satunya adalah kami mengadakan acara ini," ujarnya.

Dia menuturkan kegiatan tersebut diikuti sekitar 60 peserta. Sebanyak 70% peserta berasal dari luar Kota Jogja, dengan peserta datang dari sejumlah daerah seperti Medan, Banjarbaru, Bandung, Jakarta, Surabaya, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Para peserta telah berada di Jogja sejak Jumat. Rangkaian kegiatan diawali dengan lokakarya bersama sejumlah mentor sketsa profesional, kemudian praktik menggambar di kawasan Tugu dan Titik Nol Kilometer serta kegiatan food sketching.

Pada hari berikutnya, peserta diajak mengeksplorasi Kotagede dan menuangkan berbagai objek yang mereka temukan ke dalam karya sketsa.

Wikan mengatakan kegiatan tersebut telah menjadi agenda berkelanjutan. Kegiatan serupa sebelumnya digelar pada 2018 dan 2024.

"Ini sudah ketiga. Tahun 2018, 2024, dan saat ini 2026," katanya.

Sementara itu, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengapresiasi inisiatif The 1O1 Yogyakarta Tugu yang menggelar kegiatan kreatif untuk mendatangkan wisatawan ke Kotagede.

Menurut Hasto, keterlibatan pelaku perhotelan dan komunitas kreatif dapat membantu menghidupkan kembali destinasi wisata yang memiliki kekayaan sejarah dan budaya.

"Luar biasa kreatif teman-teman dari hotel, PHRI, dan The 1O1 Hotel yang tidak hanya sebagai pengkhidmat kehadiran para tamu mancanegara maupun tamu pariwisata, tetapi juga membuat kegiatan yang akan mendatangkan wisatawan. Ini saya apresiasi," ujarnya.

Ia berharap Kotagede dapat menjadi destinasi wisata yang semakin dikenal dan memiliki daya tarik tersendiri di samping destinasi utama seperti Malioboro.

"Meramaikan Kota Jogja sebagai destinasi wisata dan lebih khusus Kotagede ini menjadi spesial destinasi wisata yang bisa terus dihidupkan," katanya.

Hasto juga menilai sejarah dan budaya Kotagede perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda. Menurutnya, keberadaan museum, bangunan bersejarah, karya seni, serta aktivitas budaya dapat menjadi bagian yang melengkapi pengalaman wisatawan.

Salah satu peserta asal Godean, Choirul Huda, mengatakan dirinya tertarik mengikuti kegiatan tersebut karena memiliki kecintaan terhadap seni sketsa sekaligus ingin mengeksplorasi budaya Kotagede.

"Saya ikut karena memang senang sketch. Yang kedua memang ingin tahu budaya di Kotagede. Gang-gangnya di Kotagede ini sangat menarik untuk di-sketch," ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, Choirul memilih menggambar deretan rumah dan gang di Kotagede. Ia menilai karakter kawasan tersebut memiliki keunikan yang tidak mudah ditemukan di daerah lain.

"Deretan rumah-rumah ini sangat unik. Kalau di daerah lain mungkin tidak ada gang-gang seperti ini. Ada rumah kayu, ini masuk dalam frame sketch saya biar ada identitasnya," katanya.

Choirul telah menekuni seni sketsa sejak sekitar 2015 dan mengikuti berbagai kegiatan komunitas sketsa di Jogja. Ia juga aktif dalam komunitas Indonesia Sketchers serta komunitas lukis cat air.

Menurutnya, seni sketsa dapat menjadi cara sederhana untuk mendokumentasikan sekaligus memperkenalkan sebuah kawasan. Ia menggunakan tinta Cina dan kuas sederhana dalam menghasilkan karya.

"Tinta Cina ini murah sekali, sekitar Rp5.000. Kuasnya diruncingi bisa jadi seperti pena. Sangat murah dibandingkan harus melukis pakai cat minyak atau cat akrilik," ujarnya.

Bagi Choirul, eksplorasi Kotagede melalui sketsa memberikan pengalaman berbeda karena peserta dapat mengamati secara langsung detail bangunan, gang, dan kehidupan masyarakat yang kemudian dituangkan ke dalam karya.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk promosi destinasi melalui karya kreatif yang dapat dibagikan dan diperkenalkan kembali kepada masyarakat luas. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online