Kunjungan Wisata ke Jogja Harus Membawa Manfaat bagi Warga Sekitar
Bedah buku Ragam Wisata di Jogja dan UMKM membahas pentingnya pariwisata berdampak pada kesejahteraan masyarakat lokal serta mendorong budaya membaca.
Anggota DPRD Kota Jogja, Muhammad Syafi ’i (berdiri, dua kiri) memaparkan tentang pentingnya masyarakat memiliki kebiasaan membaca dalam bedah buku Homepower: Menumbuhkan Keluarga Memaknai Hidup yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY di Hotel Nugroho, Mantrijeron, Kota Jogja, Kamis (24/9)./ Harian Jogja - Stefani Yulindriani
JOGJA—Komunikasi dan ketahanan keluarga menjadi bagian penting dalam membangun rumah sebagai ruang yang aman bagi setiap anggota keluarga. Persoalan keluarga yang tidak diselesaikan berpotensi menumpuk dan berdampak terhadap anak.
Hal tersebut disampaikan dalam bedah buku berjudul Homepower: Menumbuhkan Keluarga Memaknai Hidup yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY di Hotel Nugroho, Mantrijeron, Kota Jogja, Kamis (24/9).
Penulis buku, Taat Setyabudi, mengatakan keluarga perlu memiliki kemampuan menghadapi persoalan atau resiliensi. Menurutnya, masalah dalam keluarga merupakan sesuatu yang tidak selalu dapat dihindari. Namun, persoalan tersebut perlu diselesaikan agar keluarga dapat belajar dan tumbuh.
“Ketika ada masalah diselesaikan dan keluarganya akan bertumbuh,” katanya, Kamis.
Taat mengatakan buku tersebut lahir dari proses belajar dirinya dan sang istri dalam menjalani kehidupan keluarga sekaligus mendidik anak. Dia mencontohkan pasangan suami istri yang memilih saling diam ketika menghadapi persoalan.
Menurutnya, ketika konflik tidak dibicarakan dan diselesaikan, anak dapat menjadi pihak yang terdampak.
Buku tersebut memuat lima dimensi homepower, yakni rumah sebagai ruang bertumbuh, tempat bernaung, ruang membangun resiliensi, tempat menanamkan nilai, serta ruang untuk memberikan dampak.
Menurut Taat, konsep home tidak sekadar merujuk pada bangunan rumah (house), tetapi juga makna rumah sebagai tempat yang aman dan nyaman untuk pulang serta menjadi diri sendiri.
“Rumah itu hangat, rumah itu nyaman untuk pulang, rumah itu menjadi tempat yang enak untuk menjadi apa pun,” ujarnya.
Taat menilai salah satu tantangan keluarga saat ini adalah berkurangnya kelekatan emosional akibat kesibukan dan penggunaan perangkat digital. Karena itu, orang tua perlu membangun komunikasi dengan anak dan menerapkan aturan yang konsisten bagi seluruh anggota keluarga.
Dia mencontohkan aturan penggunaan telepon seluler. Menurutnya, orang tua tidak cukup hanya melarang anak menggunakan ponsel jika pada saat yang sama orang tua terus menggunakan perangkat tersebut tanpa memberikan penjelasan.
“Sering kali karena kita belum menjelaskan, kita sudah marah dulu ke anak,” katanya.
Dia juga menekankan rumah harus menjadi tempat yang aman bagi anak untuk belajar dari kesalahan. Orang tua, menurutnya, perlu memberikan ruang bagi anak untuk melakukan kesalahan tanpa langsung merespons dengan kemarahan.
Taat mencontohkan ketika anaknya yang masih kecil tidak sengaja memecahkan gelas saat membantu kakaknya. Dia dan istrinya berusaha menahan diri untuk tidak memarahi anak karena khawatir pengalaman tersebut justru membuat anak kehilangan semangat untuk membantu.
Menurut Taat, resiliensi keluarga bukan berarti keluarga terbebas dari persoalan. Keluarga yang resilien adalah keluarga yang mampu menghadapi masalah, menyelesaikannya, kemudian belajar dari pengalaman tersebut.
Dia mengibaratkan masalah yang tidak diselesaikan seperti sampah yang disembunyikan di bawah karpet. Permasalahan tersebut mungkin tidak terlihat, tetapi tetap ada dan sewaktu-waktu dapat kembali menimbulkan persoalan.
Praktisi, Dwi Budi Utomo, mengatakan komunikasi yang tidak berjalan dapat membuat pasangan membangun persepsi masing-masing. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat berdampak terhadap anak.
“Bapak Ibu ada persoalan yang jadi korban sinten? Anak,” katanya.
Sementara itu, Pustakawan Ahli Pertama DPAD DIY, Saniyatin Nadziroh, mengatakan bedah buku tersebut merupakan bagian dari upaya DPAD DIY mendorong budaya membaca masyarakat.
Menurut Saniyatin, membaca tidak hanya menjadi sarana memperoleh pengetahuan, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi dalam kehidupan. Karena itu, dia berharap kegiatan bedah buku tidak berhenti pada membaca dan mendengarkan, tetapi dilanjutkan menjadi kebiasaan.
Anggota DPRD Kota Jogja, Muhammad Syafi’i, turut mendorong budaya membaca diterapkan dalam keluarga. Menurutnya, buku bertema keluarga dapat dibaca lintas generasi, mulai dari orang tua hingga anak dan cucu.
Dia berharap kegiatan bedah buku tidak berhenti setelah acara selesai, tetapi menjadi gerakan membaca di keluarga dan masyarakat. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Bedah buku Ragam Wisata di Jogja dan UMKM membahas pentingnya pariwisata berdampak pada kesejahteraan masyarakat lokal serta mendorong budaya membaca.
Jadwal SIM Gunungkidul September 2026 tersedia di Satpas, SIMMADE, SIMPITU hingga layanan malam. Cek lokasi dan syaratnya.
Jadwal SIM Sleman Jumat 25 September 2026 tersedia di MPP Sleman. Cek lokasi, jam layanan, jenis SIM, dan syarat perpanjangan.
Bedah buku Ragam Wisata di Jogja dan UMKM membahas pentingnya pariwisata berdampak pada kesejahteraan masyarakat lokal serta mendorong budaya membaca.
SIM Keliling Polda DIY Jumat 25 September 2026 hadir di Kantor Kalurahan Kalitirto Berbah, Cek jadwal, syarat, biaya perpanjangan SIM A dan SIM C.
Jadwal SIM Keliling Jogja Jumat 25 September 2026 tersedia di Alkid. Cek lokasi, jam layanan, dan syarat perpanjangan SIM A dan C.