Griya Batik Jogja Jadi Ruang Edukasi untuk Jaga Predikat Kota Batik Dunia

Media Digital
Media Digital Rabu, 02 September 2026 07:52 WIB
Griya Batik Jogja Jadi Ruang Edukasi untuk Jaga Predikat Kota Batik Dunia

Ketua Tim Pengelola Griya Batik, Tazbir Abdullah, ditemui di Kantor Dekranasda DIY, Jumat (21/8/2026). Anisatul Umah/Harian Jogja.

JOGJA— Sejak diresmikan tahun lalu, Griya Batik Jogja mulai disiapkan sebagai ruang edukasi sekaligus promosi batik Jogja. Tidak hanya menampilkan koleksi batik Keraton, Puro Pakualaman, dan kabupaten/kota di DIY, tempat ini juga disiapkan sebagai ruang untuk mengenalkan sejarah, filosofi, hingga proses pembuatan batik.

Ketua Tim Pengelola Griya Batik, Tazbir Abdullah, menyampaikan Jogja telah ditetapkan sebagai Kota Batik Dunia sejak 2014 oleh World Crafts Council (WCC) setelah melalui proses penilaian yang cukup ketat.

Dia mengatakan saat itu sejumlah daerah seperti Solo, Pekalongan, dan Cirebon juga mengikuti penilaian. Namun, Jogja yang akhirnya ditetapkan sebagai Kota Batik Dunia. Menurutnya, Jogja dipilih karena memiliki tradisi batik yang masih terjaga.

Selain memiliki sejarah dan filosofi yang kuat, batik di Jogja juga terus berkembang sebagai bagian dari aktivitas ekonomi dan telah mendapatkan pengakuan di tingkat internasional.

"Setelah Jogja ditetapkan sebagai Kota Batik Dunia, kita berusaha menjaga agar status Jogja sebagai Kota Batik Dunia tetap bisa dipertanggungjawabkan secara nasional maupun internasional," ujarnya saat ditemui di Kantor Dekranasda DIY, Jumat (21/8/2026).

Ia menilai batik memiliki posisi penting dalam budaya Jogja karena menjadi warisan leluhur yang terus dilestarikan. Tradisi batik di Jogja juga tidak terlepas dari sejarah Keraton yang mengenal sejumlah motif khusus. Pada masa tertentu, beberapa motif bahkan hanya boleh dikenakan oleh keluarga kerajaan.

Tazbir menyampaikan salah satu tugas Griya Batik adalah melestarikan batik. Dalam upaya tersebut, diperlukan ruang yang dapat menjadi tempat masyarakat melihat, mengenal, sekaligus mempelajari batik.

"Melalui Griya Batik ini kita bisa mengedukasi batik kepada masyarakat, tapi juga bisa menjadi tempat wisatawan berkunjung. [Griya Batik] tidak berorientasi pada bisnis penjualan, tapi mempromosikan batik," jelasnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan tantangan Griya Batik saat ini adalah tidak mendapatkan pembiayaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Oleh karena itu, pengelola harus mencari dukungan melalui berbagai bentuk kerja sama.

Ia mengatakan jumlah kunjungan ke Griya Batik sangat bergantung pada upaya promosi dan pengenalan kepada masyarakat. Pengelola akan memanfaatkan media sosial untuk memperluas informasi mengenai keberadaan Griya Batik, termasuk menggandeng anak muda dan influencer yang memiliki perhatian terhadap batik.

Mereka diharapkan dapat ikut mempromosikan Griya Batik melalui media sosial. Selain itu, pengelola juga terbuka terhadap dukungan sponsor untuk berbagai kegiatan promosi.

"Kalau sekarang batik itu baru ada dari Puro Pakualaman dan batik Keraton. Kemudian yang kita minta dari kabupaten/kota. Jadi dikurasi oleh Dekranasda masing-masing kabupaten/kota. Griya Batik ini harus menjadi milik bersama," ungkapnya.

Menurutnya, Griya Batik juga ditujukan bagi wisatawan sebagai sarana edukasi agar mereka dapat mengenal batik Keraton, mulai dari motif hingga filosofinya.

Hal ini dinilai penting karena akses wisatawan untuk melihat batik Keraton secara langsung di dalam Keraton kini semakin terbatas. Dengan demikian, wisatawan yang berkunjung ke Jogja tidak hanya melihat batik, tetapi juga mendapatkan pengalaman dan pemahaman mengenai sejarah serta makna di balik setiap motif batik.

"Tahun ini kami sudah mulai garap. Dari Keraton, Tamansari, Griya Batik itu kan dekat sekali, jadi harus ada komunikasi dengan pelaku di industri pariwisata," lanjutnya. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online