Suluh Sumurup Art Festival 2026 Tegaskan Eksistensi Seniman Disabilitas Lewat Karya

Media Digital
Media Digital Senin, 28 September 2026 11:42 WIB
Suluh Sumurup Art Festival 2026 Tegaskan Eksistensi Seniman Disabilitas Lewat Karya

: Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY, GKR Bendara melihat salah satu karya seniman difabel yang ditampilkan dalam Suluh Sumurup Art Festival 2026 di Galeri Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Jumat (24/9/2026). - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat

JOGJA—Empat tahun perjalanan Suluh Sumurup Art Festival 2026 menandai semakin kuatnya ruang bagi seniman disabilitas untuk menunjukkan karya dan eksistensinya di tengah ekosistem seni budaya. Tahun ini, festival tersebut memasuki babak baru melalui tema Maneges, yang berarti menegaskan keberadaan diri melalui karya.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, mengatakan perjalanan Suluh Sumurup Art Festival sejak pertama kali digelar terus berkembang, dari sekadar membangun kebersamaan hingga menegaskan posisi seniman disabilitas sebagai bagian yang setara dalam dunia seni.

“Di tahun pertama kita ge gandengan, kemudian jumangkah, lalu jejer. Sekarang di tahun keempat kita benar-benar maneges atau menegaskan keberadaan kita,” kata Dian saat menghadiri pembukaan Suluh Sumurup Art Festival 2026 di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Kamis (24/9).

Menurut Dian, rangkaian tema tersebut bukan sekadar pergantian konsep setiap tahun. Setiap istilah dipilih untuk menggambarkan tahapan perjalanan Suluh Sumurup Art Festival sekaligus harapan agar ruang berkesenian bagi penyandang disabilitas semakin kuat.

Ia menyebut Suluh Sumurup Art Festival bahkan menjadi salah satu agenda yang banyak mendapat perhatian dari daerah lain.

Tahun ini, festival tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia ke-25 yang digelar di Jogja.

“Cukup banyak yang iri dengan Jogja dengan agenda ini dan ingin tahu bagaimana Suluh Sumurup Art Festival 2026 bisa terjadi sampai tahun keempat,” ujarnya.

Menurut dia, keberlanjutan tersebut menjadi penting karena Suluh Sumurup Art Festival tidak hanya menghadirkan karya seniman disabilitas, tetapi juga membangun ekosistem yang memberikan kesempatan lebih luas untuk berkarya dan berkolaborasi.

Dian mengatakan kualitas karya menjadi salah satu hal yang terus didorong. Ia berharap karya seniman disabilitas semakin dikenal bukan semata karena dibuat oleh penyandang disabilitas, tetapi karena memiliki kualitas artistik yang memang layak mendapat tempat di ruang seni.

“Kita berbangga bahwa karya-karya disabilitas itu diakui tidak hanya di level nasional, tetapi internasional karena kualitasnya, bukan karena disabilitasnya,” katanya.

Berani Hadir

Kurator Suluh Sumurup Art Festival 2026, Nano Warsono, mengatakan tema Maneges menjadi momentum bagi para seniman untuk semakin berani hadir sebagai seniman dengan karya yang memiliki kualitas.

Ia berharap penyelenggaraan tahun keempat ini dapat menjadi pijakan bagi perkembangan seni disabilitas di Yogyakarta dan Indonesia. Menurutnya, Yogyakarta memiliki modal sebagai ruang budaya yang memberi kesempatan bagi seniman dengan beragam latar belakang untuk berkembang.

“Maneges ini bisa menjadi stepping stone untuk kemajuan seni disabilitas di Yogyakarta khususnya dan juga di Indonesia,” ujar Nano.

Kurator lainnya, Sukri Budi Dharma, menilai inklusivitas Suluh Sumurup Art Festival tidak berhenti pada karya yang dipamerkan. Penyandang disabilitas juga dilibatkan dalam proses penyelenggaraan, termasuk dalam kepanitiaan festival.

Menurut Sukri, keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa ruang yang dibangun Suluh Sumurup bukan hanya ruang untuk tampil, tetapi juga ruang untuk bekerja dan mengambil peran dalam penyelenggaraan kegiatan seni.

Ia menambahkan, sejumlah seniman yang pernah mengikuti Suluh Sumurup juga mulai memperoleh kesempatan tampil di ruang yang lebih luas.

Nano menyebut terdapat seniman asal Jogja yang pernah membuat mural di Kedutaan Besar Inggris, sementara seniman asal Bali yang pernah mengikuti Suluh Sumurup mendapat penghargaan di Taiwan.

“Ruang-ruang ini dibuka dan ternyata sangat memberikan dampak bagi teman-teman disabilitas,” kata Sukri.

Suluh Sumurup Art Festival 2026 berlangsung di Galeri Taman Budaya Yogyakarta pada 24 September hingga 2 Oktober 2026. Selain pameran, rangkaian kegiatan juga mencakup lokakarya seni, pertunjukan, artist talk, serta stan UMKM yang menghadirkan produk karya pelaku UMKM disabilitas. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online