Pamerkan 30 Karya Seniman, Jogja Komik Week 2026 Usung Tema Merayakan Bahasa Gambar

Media Digital
Media Digital Rabu, 09 September 2026 18:22 WIB
Pamerkan 30 Karya Seniman, Jogja Komik Week 2026 Usung Tema Merayakan Bahasa Gambar

Suasana pembukaan Yogyakarta Komik Week 2026 di GIK UGM, Selasa (8/9/2026)./Harian Jogja—Catur Dwi Janati

SLEMAN— Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY resmi membuka Yogyakarta Komik Week 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Selasa (8/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi salah satu pre-event Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2026.

Mengusung tema “Merayakan Bahasa Gambar”, pameran ini menghadirkan 30 karya komikus lintas generasi. Kegiatan tersebut sekaligus menegaskan komik sebagai medium komunikasi visual, ekspresi kreatif, hingga dokumentasi sosial dan budaya.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, dalam sambutan yang dibacakan Sekretaris Dinas Kebudayaan DIY, Nur Ikhwan Rahmanto, mengatakan Yogyakarta Komik Week 2026 menjadi bagian dari rangkaian pre-event FKY 2026 yang mengangkat tema “Bahasa”.

Melalui Yogyakarta Komik Week, Dinas Kebudayaan DIY ingin menghadirkan perspektif mengenai bahasa visual dan bagaimana gambar dapat menjadi sarana komunikasi.

“Bagaimana gambar, panel, karakter, dan cerita dalam komik dapat menjadi sebuah cara untuk berkomunikasi, menyampaikan gagasan, serta merekam berbagai pengalaman dan kehidupan masyarakat,” tuturnya.

Pameran tersebut diharapkan menjadi ruang pembuka menuju FKY 2026 sekaligus memperkenalkan bahwa bahasa tidak hanya hadir melalui kata-kata, tetapi juga dapat disampaikan melalui gambar dan karya visual.

Sejalan dengan tema FKY 2026, Yogyakarta Komik Week dihadirkan sebagai ruang apresiasi terhadap komik sebagai bagian dari budaya visual yang hidup dan terus berkembang.

“Tema ini mengajak masyarakat untuk melihat komik bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bentuk komunikasi kreatif yang mampu menghubungkan gagasan, pengalaman, dan ekspresi visual dalam kehidupan sehari-hari,” terangnya.

Menurutnya, komik Indonesia merupakan bagian dari budaya visual yang terus berkembang dan memiliki peran sebagai medium ekspresi, komunikasi, serta dokumentasi sosial dan budaya.

Dalam perkembangannya, komik tidak memiliki satu bentuk atau identitas tunggal. Medium ini terus bergerak mengikuti dinamika zaman, baik melalui media cetak maupun platform digital. Perkembangan media sosial, forum diskusi, dan komunitas kreatif juga turut memperluas ruang apresiasi sekaligus memperkuat ekosistem komik Indonesia.

“Sebagai seni sekuensial, komik menghadirkan hubungan yang kuat antara bahasa dan gambar. Teks dan visual bekerja bersama untuk membangun narasi, emosi, dan pengalaman membaca yang khas,” tuturnya.

Kombinasi teks dan visual tersebut membuat komik mampu menjadi medium yang dekat dengan masyarakat lintas generasi. Komik juga dapat menjadi sarana penyampaian gagasan yang relevan sekaligus bagian dari kegiatan kreatif di Yogyakarta yang turut memperkuat posisi DIY sebagai salah satu ruang penting bagi perkembangan komik Indonesia.

“Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta konsisten melaksanakan kegiatan Yogyakarta Komik Week sebagai bentuk apresiasi dan dukungan kepada para seniman komik di tanah air, utamanya di DIY,” jelasnya.

Kundha Kabudayan DIY berharap Yogyakarta Komik Week dapat menjadi ruang perayaan dan apresiasi karya sekaligus sarana untuk terus menggulirkan semangat pelestarian budaya yang memperkuat karakter generasi muda.

“Semoga kegiatan ini dapat memberikan manfaat dan terus menginspirasi di masa yang akan datang. Selamat berpameran, selamat membaca, dan selamat berkegiatan,” tegasnya.

Sekretaris Dinas Kebudayaan DIY, Nur Ikhwan Rahmanto, mengatakan tema “Merayakan Bahasa Gambar” menegaskan bahwa gambar juga merupakan bentuk bahasa. Menurutnya, rangkaian gambar dalam komik dapat menyampaikan pesan melalui sekuens visual.

“Walaupun kita tahu bahasa tidak hanya yang sifatnya lisan, tapi juga sebenarnya gambar itu kan juga bahasa. Ketika kita melihat gambar ada sekuensnya, ini sebenarnya juga bahasa. Bahasa yang diterjemahkan melalui gambar-gambar yang ada sekuensinya,” ujarnya.

Ia berharap Yogyakarta Komik Week 2026 dapat menjadi ruang bagi para komikus untuk mengekspresikan karya sekaligus mempertemukan karya tersebut dengan masyarakat.

Pamerkan Karya Lintas Generasi

Ketua Acara Yogyakarta Komik Week 2026, Yudha Sandy Wijayasakti, menjelaskan pameran tahun ini menampilkan 30 karya seniman yang terdiri dari 15 karya alumni Kukuruyug dan 15 karya seniman undangan.

“Jadi, sangat beranekaragam, ada yang junior, ada yang senior, ada berbagai macam gaya. Ada latar belakangnya musik, ada yang latar belakangnya patung, jadi bermacam-macam,” tuturnya.

Menurut Yudha, Yogyakarta Komik Week mengusung konsep eksibisi dan edukasi. Ia berharap kegiatan tersebut dapat mendorong lahirnya karya-karya komik baru sekaligus memperluas pemahaman masyarakat mengenai keberagaman medium komik.

“Harapannya tentu orang yang datang akan melihat bahwa komik itu ada berbagai macam, ceritanya juga macam-macam dan ada juga dari luar [negeri], jadi mungkin lebih banyak inspirasi juga,” ujarnya.

Ia menambahkan, karya yang ditampilkan tidak hanya berbentuk buku, tetapi juga menghadirkan karya tiga dimensi dan berbagai bentuk eksplorasi visual lainnya.

Perwakilan Kurator Yogyakarta Komik Week 2026, Danang Catur, mengatakan gambar merupakan salah satu bentuk tanda yang relatif mudah dipahami. Gambar juga dapat mewakili kata-kata yang terkadang sulit diungkapkan.

“Jadi nanti bisa dilihat di galeri bagaimana seniman dan para alumni [Kukuruyug] ini merespons tema yang kami berikan,” tandasnya. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online