Pemprov Jateng Siapkan Ekosistem Industri Halal, Gaet Investor dari Berbagai Daerah
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan ekosistem industri halal di wilayahnya guna menggait investor dari berbagai daerah.
CEO sekaligus Founder Batik Enom, Devie Fransisca (kanan)./ Harian Jogja
JOGJA—Sembilan tahun perjalanan Batik Enom, Devie Fransisca berhasil membuktikan bahwa batik tidak harus identik dengan pakaian formal, seragam, atau busana kondangan. Melalui inovasi warna, potongan, dan gaya, CEO sekaligus Founder Batik Enom itu membawa batik lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Devie mengatakan bicara tentang batik artinya berbicara tentang sesuatu yang penuh nilai, cerita, dan filosofi. Menurutnya, keresahan yang pertama kali dirasakan adalah masih banyak anak muda yang menganggap batik sebagai pakaian untuk kondangan atau acara-acara formal lainnya.
Ia berpandangan jika cara pandang tersebut terus dipertahankan, lama-kelamaan batik akan ditinggalkan. Padahal, menurutnya, untuk melestarikan batik, warisan tersebut tidak cukup hanya disimpan, tetapi harus dihidupkan.
"Saya ingin keresahan itu tidak hanya dibicarakan, tetapi kita harus benar-benar tunjukkan dengan bukti nyata," ujarnya dalam talkshow Beyond the Title: Membuat Batik Menjadi Enom, Dari Warisan Menjadi Gaya Keseharian bersama Harian Jogja beberapa waktu lalu.
Berangkat dari keresahan tersebut, Devie Fransisca membuat brand batik bernama Enom. Dalam bahasa Jawa, enom memiliki arti anak muda. Menurutnya, anak muda memiliki jiwa yang energik dan aktif. Oleh karena itu, ia berharap batik bisa selalu dikenal dan tetap hidup dengan cara mendekatkannya pada kehidupan sehari-hari.
"Batik tidak hanya dipakai acara-acara formal, seragam, tetapi bisa dipakai untuk sehari-hari," jelasnya.
Devie menceritakan saat pertama kali berdiri, Enom tidak langsung menggunakan warna-warna cerah pada koleksinya. Pihaknya terlebih dahulu melakukan uji pasar dengan menghadirkan berbagai pilihan warna, mulai dari warna gelap, pastel, hingga warna cerah.
Seiring berjalannya waktu, Enom melihat bahwa warna-warna cerah lebih banyak diminati pelanggan. Oleh karena itu, Enom mulai banyak menghadirkan kombinasi warna cerah dalam koleksinya, seperti biru dengan hijau atau kuning dengan hijau.
"Jadi misalnya ini atasnya kuning, bawahnya hijau. Kalau mau dibilang warna apa yang paling best seller, hampir semuanya warnanya itu best seller," jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan tim Enom juga memiliki sertifikasi personal color untuk membantu seseorang mengetahui warna yang paling sesuai dengan undertone kulitnya. Layanan ini diberikan secara gratis dengan minimal pembelanjaan tertentu.
Menurutnya, personal color digunakan untuk menentukan pilihan warna yang dapat membuat penampilan seseorang terlihat lebih cerah, menonjol, dan sesuai dengan karakter kulitnya.
"Jadi memang ada ilmunya. Di kita, setiap pembelanjaan ada minimal berapa akan ada free personal color," jelasnya.
Perkembangan zaman yang sangat cepat membuat batik semakin berkembang luas. Batik tidak hanya semakin familiar digunakan untuk berbagai kegiatan sehari-hari, tetapi juga mulai digunakan untuk olahraga.
Devie yang juga memiliki hobi olahraga kemudian melihat komunitas olahraga sebagai ruang untuk memperkenalkan batik dengan cara yang lebih dekat dengan aktivitas masyarakat. Menurutnya, komunitas tidak hanya menjadi tempat untuk menjalankan hobi, tetapi juga menjadi ruang untuk bertemu, membangun relasi, dan melakukan networking.
"Karena saya juga olahraga, saya ingin mengenalkan bahwa batik ini bisa untuk olahraga. Biar dekat juga dengan kehidupan sehari-hari," paparnya.
Ia menceritakan tahun lalu, bertepatan dengan Hari Batik, Enom menggelar fun batik padel match. Dalam kegiatan tersebut, peserta menggunakan pakaian bermotif batik. Menurutnya, respons peserta cukup baik dan ada yang meminta dibuatkan jersey batik.
Namun, proses pembuatan jersey bermotif batik saat ini masih menggunakan teknik printing. Menurut Devie, ke depan pihaknya berharap dapat menemukan metode agar proses pembuatan jersey tetap menggunakan proses batik, bukan sekadar mencetak motif batik.
"Kalau untuk saat ini, untuk jerseynya memang masih print. Tapi motifnya batik," paparnya.
Devie menceritakan meski sehari-hari menjadi CEO dan Founder Batik Enom, saat berada di rumah ia menanggalkan semua peran tersebut dan menjalani kehidupan sehari-hari sebagai seorang istri sekaligus ibu.
Ia mengaku bisa menjadi dirinya sendiri saat di rumah karena tidak perlu memikirkan target maupun membuat keputusan bisnis.
"Di rumah saya seperti manusia biasa ya, ada capek, kadang ingin hari-harinya di rumah rebahan, santai-santai, kadang juga bercanda," ujarnya.
Ia menyebut sebagai perempuan yang memimpin Enom selama sembilan tahun, terkadang ada perasaan bahwa dirinya harus bekerja lebih keras untuk menunjukkan bahwa ia layak berada di posisi tersebut.
Menurutnya, perempuan kerap tidak dilihat dari sisi ketegasannya, tetapi justru lebih menonjolkan keraguannya.
Oleh karena itu, ia berpandangan tidak semua hal harus selalu diungkapkan dengan kata-kata, tetapi dapat ditunjukkan melalui sikap.
"Sikap yang diberikan seperti konsistensi, memberikan hasil kerja, dan berani mengambil keputusan serta bertanggung jawab dengan keputusan yang diambil," lanjutnya. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan ekosistem industri halal di wilayahnya guna menggait investor dari berbagai daerah.
Pratikno menghadiri pelantikan Wantimpres di Istana. Soal posisi ketua, ia mengaku belum menerima salinan Keppres.
Mario Aji finis P25 di Practice Moto2 Jepang 2026 dan harus melewati Q1 setelah jatuh di akhir sesi. David Alonso menjadi yang tercepat.
AI Muse Meta memberikan alamat rumah pengguna kepada calon pembeli. Kasus ini bermula dari salah tafsir pengaturan izin.
Operasional Pos Damkar Bokoharjo Sleman belum berjalan karena kebutuhan personel. BKPP masih menunggu kepastian formasi dari pemerintah pusat.
Honda kembali menggandeng Red Bull di MotoGP 2027. Kerja sama ini juga berdampak pada Fabio Quartararo yang meninggalkan Monster Energy.