BEDAH BUKU: Tak Sekadar Memilih, Warga Diminta Ikut Mengawasi Wakil Rakyat

Media Digital
Media Digital Jum'at, 02 Oktober 2026 08:02 WIB
BEDAH BUKU: Tak Sekadar Memilih, Warga Diminta Ikut Mengawasi Wakil Rakyat

Anggota DPRD DIY, Danang Wahyu Broto (berdiri) memaparkan materinya dalam bedah buku yang digelar di Triwidadi, Kapanewon Pajangan, Bantul, Kamis (1/10)./ Harian Jogja - Kiki Lukman

BANTUL – Memilih wakil rakyat tidak cukup hanya dengan mencoblos saat pemilu. Warga juga perlu mengetahui program, menagih penggunaan anggaran, hingga mempertanyakan kinerja wakil yang telah mereka pilih.

Pesan tersebut dikemas dalam acara bedah buku berjudul 1001 Tanya untuk Wakil Rakyat yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY di Triwidadi, Kapanewon Pajangan, Bantul, Kamis (1/10).

Tidak hanya membahas isi buku, dalam kegiatan tersebut masyarakat juga didorong untuk lebih aktif memahami kerja lembaga legislatif dan menggunakan haknya untuk mengawasi wakil rakyat.

Anggota DPRD DIY, Danang Wahyu Broto, menilai kemampuan masyarakat dalam memilah informasi menjadi semakin penting di tengah derasnya arus media sosial dan berita yang belum tentu benar.

Dia mengatakan literasi menjadi hal penting di tengah perkembangan teknologi dan media sosial. Menurutnya, masyarakat saat ini tidak hanya menghadapi persoalan keterbatasan informasi, tetapi justru berhadapan dengan banjir informasi yang belum tentu seluruhnya benar.

Kemampuan membaca dan memahami informasi, menurut Danang, dapat menjadi salah satu cara masyarakat menyaring berita yang diterima. Tanpa kemampuan tersebut, masyarakat lebih mudah terpengaruh berita bohong maupun informasi yang telah mengalami perubahan atau penyuntingan.

“Itulah alasan pentingnya literasi. Salah satu cara memfilter benar atau tidaknya kabar berita ya dengan bekal literasi,” ujar Danang.

Danang mengatakan membaca juga tidak cukup dilakukan secara sekilas. Menurutnya, sebuah buku perlu dibaca berulang agar gagasan yang disampaikan dapat benar-benar dipahami.

Kebiasaan membaca, menurut dia, penting dalam membangun gagasan. Semakin banyak bahan bacaan yang dipahami, semakin banyak pula pengetahuan yang dapat digunakan untuk melihat sebuah persoalan dari berbagai sudut pandang.

Menurut Danang, gagasan seorang wakil rakyat juga tidak semata-mata lahir dari pemikiran pribadi. Pengetahuan yang diperoleh dari membaca dan memahami berbagai persoalan dapat menjadi bahan dalam menyusun gagasan ketika menjalankan tugas sebagai anggota legislatif.

Praktisi literasi, Abdul Rochman, mengatakan buku 1001 Tanya untuk Wakil Rakyat hadir sebagai panduan praktis agar masyarakat tidak berhenti sebagai pemilih, tetapi bertransformasi menjadi pengawas kedaulatan yang aktif.

Menurut dia, rakyat memiliki kedaulatan tertinggi dalam sistem demokrasi. Namun, mandat yang diberikan melalui pemilu tidak selalu berjalan efektif apabila tidak disertai pengawasan dari masyarakat.

“Melalui buku ini masyarakat didorong untuk bertransformasi dari pemilih pasif menjadi pengawas kedaulatan yang aktif,” kata Abdul.

Pertanyaan Kritis

Sementara itu, editor buku 1001 Tanya untuk Wakil Rakyat, Rio Anggi Fernando, menjelaskan masyarakat perlu mengetahui bidang kerja masing-masing komisi di DPRD DIY. Pengetahuan tersebut diperlukan agar aspirasi yang disampaikan dapat diarahkan kepada wakil rakyat atau komisi yang memiliki keterkaitan dengan persoalan.

Rio mencontohkan kebutuhan masyarakat terhadap infrastruktur dapat disampaikan kepada komisi yang membidangi persoalan tersebut. Demikian pula persoalan pendidikan inklusif, kesehatan, kebudayaan, ekonomi, maupun pembangunan memiliki jalur pembahasan yang berbeda di DPRD DIY.

Karena itu, Rio mendorong masyarakat memanfaatkan pertanyaan yang terdapat dalam buku sebagai panduan untuk berinteraksi dengan wakil rakyat. Menurutnya, semakin kritis pertanyaan yang diajukan, semakin terbuka pula ruang bagi masyarakat untuk mengetahui kerja wakil mereka.

Buku 1001 Tanya untuk Wakil Rakyat, kata Rio, juga menyoroti dilema yang dihadapi wakil rakyat antara instruksi partai, kepentingan konstituen, dan tanggung jawab kepada negara.

Buku tersebut mengajak masyarakat memahami prinsip checks and balances agar pengawasan terhadap lembaga legislatif tidak hanya menjadi slogan.

Pustakawan Ahli Utama DPAD DIY, Budiyono, mengatakan kegiatan bedah buku tersebut merupakan bagian dari kegiatan perpustakaan tingkat provinsi yang dilaksanakan bersama DPRD DIY.

Menurutnya, masyarakat yang hadir tidak hanya diajak membahas buku, tetapi juga diberikan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan wakil rakyat.

“Jadi nanti tidak hanya terkait dengan bedah buku, tetapi yang lain-lain bisa juga Anda sampaikan,” kata Budiyono. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online