270 Tahun Kota Jogja, Karakter dan Budaya Jadi Identitas yang Perlu Dijaga

Media Digital
Media Digital Rabu, 07 Oktober 2026 13:02 WIB
270 Tahun Kota Jogja, Karakter dan Budaya Jadi Identitas yang Perlu Dijaga

Budayawan asal Kotagede, Achmad Charris Zubair./Harian Jogja- Anisatul Umah

JOGJA—Pada 7 Oktober 2026, Kota Jogja akan merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-270. Budayawan asal Kotagede, Achmad Charris Zubair, menilai karakter masyarakat merupakan salah satu identitas penting Kota Jogja yang perlu dijaga di tengah perkembangan zaman.

Menurutnya, pembangunan kota tidak cukup hanya berorientasi pada kemajuan fisik, tetapi juga harus tetap berakar pada nilai budaya dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ia menjelaskan identitas fisik Kota Jogja dibangun berdasarkan konsep Catur Gatra, yakni empat elemen dengan fungsi berbeda. Selain itu, letak Kota Jogja berada di antara Gunung Merapi dan Laut Kidul.

Dalam konsep Catur Gatra terdapat Keraton sebagai pusat pemerintahan, Alun-alun Utara dan Selatan sebagai ruang publik, masjid sebagai pusat peribadatan, serta pasar di sisi timur laut sebagai pusat perekonomian.

"Jadi identitas Kota Jogja itu ya sebetulnya diawali dengan identitas yang jelas karena konsep kotanya jelas," ujarnya, Minggu (4/10/2026).

Identitas fisik lainnya terlihat dari toponim. Nama perkampungan dan jalan di Kota Jogja memiliki makna, sejarah, dan narasi tertentu. Misalnya Mangkubumen dan Yudonegaran yang berkaitan dengan kepangeranan, Gerjen dan Dagen yang berasal dari profesi, serta Patehan dan Kauman yang berkaitan dengan abdi dalem.

Selain identitas fisik, Kota Jogja memiliki identitas nonfisik. Saat membangun kota, Hamengkubuwono I atau Pangeran Mangkubumi juga merancang konsep yang kini dikenal sebagai Sumbu Filosofis.

Ia menjelaskan Sumbu Filosofis merupakan perjalanan Sangkan Paraning Dumadi yang dimulai dari Panggung Krapyak menuju utara, melewati Keraton, Pagelaran, Alun-alun, Pangurakan, Margo Mulyo, Malioboro, Margo Utomo, hingga Tugu Golong Gilig.

"Jadi kalau kita lihat itu menjadi identitas fisik dan nonfisik dari Kota Jogja. Apalagi kemudian juga dikembangkan tidak hanya Sumbu Filosofis tetapi juga sumbu imajiner: Laut Kidul, Kota, kemudian sampai ke Gunung Merapi," jelasnya.

Identitas Kota Jogja Mengalami Dinamika Sejak Awal

Achmad Charris menyebut Kesultanan Jogja sejak awal berdiri telah melalui berbagai konflik dan perubahan. Kesultanan lahir dari konflik internal Mataram Islam yang bermula di Kotagede, kemudian berkembang setelah perpecahan Mataram melalui Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755.

Setelah itu, Kesultanan Jogja berada dalam pengawasan Belanda. Kondisi tersebut membuat identitas kota sejak awal terus mengalami dinamika.

Ia mencontohkan ketika Keraton berdiri, Belanda membangun kediaman residen di selatan Alun-alun Utara yang kini dikenal sebagai Gedung Agung. Hal tersebut menunjukkan adanya pengawasan Belanda terhadap Kesultanan.

Menurutnya, kawasan Pangurakan di Titik Nol secara simbolik merupakan ruang kosong yang menyimbolkan kekosongan diri sebelum memasuki jalan kemuliaan, Margo Mulyo.

"Tetapi kemudian oleh Belanda kan dibangun De Javasche Bank, yang sekarang jadi kantor pos. Kemudian juga bank BNI dan sebagainya," ujarnya.

Secara simbolik, Sultan Hamengkubuwono yang berada di Pagelaran dan menghadap ke utara menuju Tugu Golong Gilig memiliki satu jalur yang menghubungkan keduanya. Namun, jalur tersebut kemudian terputus setelah Belanda membangun Stasiun Tugu sehingga kawasan itu secara fisik terbelah.

"Ketika kota ini sudah berdiri dengan mapan, di awal abad 20, akhir abad 19, Belanda membangun satu kota, kawasan kota yang sangat Eropa, yaitu Kotabaru. Kawasan Kotabaru itu kan sangat-sangat Belanda," ujarnya.

Berbagai bangunan peninggalan Belanda tersebut menunjukkan identitas Kota Jogja terbentuk melalui berbagai dinamika. Saat ini, karakter kota merupakan perpaduan tradisi Jawa dengan pengaruh Eropa, khususnya Belanda.

"Wilayah administratif Kota Jogja sebetulnya dua pertiganya merupakan satu kawasan yang bisa dikategorikan sebagai kawasan cagar budaya."

Kota Budaya hingga Kota Pergerakan

Kota Jogja tidak hanya tumbuh sebagai pusat budaya, tetapi juga berkembang sebagai kota pendidikan dan pergerakan. Dalam perjalanan sejarahnya, berbagai organisasi dan gerakan kebangsaan lahir atau berkembang di Jogja, mulai dari Budi Utomo, Muhammadiyah, hingga Taman Siswa.

Menurut Achmad Charris, akar budaya yang kuat membuat Jogja berkembang sebagai kota budaya sekaligus kota pergerakan. Berbagai gagasan dan gerakan yang tumbuh di kota ini turut membentuk karakter masyarakat.

Bahkan setelah Indonesia merdeka, Jogja pernah menjadi ibu kota Republik Indonesia.

"Jadi satu fenomena yang cukup menarik bahwa Kota Jogja ternyata tumbuh berkembang karena ada konflik kepentingan, kemudian ada inspirasi gerakan-gerakan," ucapnya.

Perkembangan tersebut turut membentuk masyarakat dengan rasa nasionalisme yang kuat. Karakter itu tidak hanya dirasakan warga asli, tetapi juga pendatang yang tinggal di Jogja.

Menurutnya, Jogja juga memiliki karakter yang terbuka terhadap kemajuan zaman dan dinamika dunia. Suasana sosial dan budaya tersebut tidak terlepas dari sejarah panjang yang membentuk kehidupan masyarakat hingga saat ini.

Budaya Kesahajaan Masih Jadi Identitas Kota

Achmad Charris mengatakan karakter Jogja juga tercermin dari kesahajaan para pemimpinnya. Ia mencontohkan Gubernur DIY yang kerap berkendara tanpa pengawalan. Contoh lain terlihat dari kebiasaan masyarakat, seperti tidak membunyikan klakson ketika berhenti di lampu merah.

Menurutnya, hal-hal sederhana tersebut merupakan karakter yang perlu dijaga. Kesahajaan tidak terbentuk dalam waktu singkat, tetapi tumbuh dari atmosfer sosial Jogja yang mendorong sikap rendah hati dan bersahaja.

Kesahajaan juga ditunjukkan sejumlah tokoh organisasi besar seperti Muhammadiyah. Meski menjadi salah satu organisasi besar, para pemimpinnya tetap memilih tampil sederhana.

"Sampai sekarang pun misalnya kita banyak mengenal tokoh-tokoh yang memimpin itu justru tampil bersahaja," ujarnya.

Kenyamanan Warga Jadi Tantangan Utama Sebuah Kota

Menurutnya, tantangan terbesar sebuah kota adalah menciptakan lingkungan yang membuat masyarakat nyaman tinggal dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Jogja, kata dia, tidak cukup hanya mempertahankan karakter dan kultur, tetapi juga harus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pengembangan kota tidak seharusnya sekadar meniru pola kota-kota besar lainnya.

Achmad Charris menyebut sekitar dua pertiga wilayah administratif Kota Jogja masih memiliki karakter budaya yang kuat. Kondisi tersebut menjadi modal penting dalam menentukan arah pembangunan kota.

"Jogja tidak hanya kota, tetapi juga wilayah Kesultanan Jogja di masa lalu, sekarang menjadi Daerah Istimewa Yogyakarta. Berarti dia secara tidak langsung kan ada kontrol kultural dari Keratonnya," ucapnya.

Menurutnya, Keraton juga perlu menjaga nilai-nilai budaya tersebut. Nilai budaya memengaruhi pandangan hidup, norma, sikap, perilaku, dan karakter masyarakat. Dari sana kemudian lahir berbagai karya yang tetap berakar pada kebudayaan.(*)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online