Respons Disrupsi AI, Universitas Sanata Dharma Bahas Masa Depan Perguruan Tinggi

Media Digital
Media Digital Minggu, 11 Oktober 2026 11:02 WIB
Respons Disrupsi AI, Universitas Sanata Dharma Bahas Masa Depan Perguruan Tinggi

Universitas Sanata Dharma menggelar Seminar Nasional Sanata Dharma Berbagi 2026 dengan tema “Tradisi Pendidikan Tinggi dan Disrupsi AI” pada Jumat (9/10/2026)./ Istimewa

JOGJA—Universitas Sanata Dharma menggelar Seminar Nasional Sanata Dharma Berbagi 2026 dengan tema “Tradisi Pendidikan Tinggi dan Disrupsi AI” pada Jumat (9/10/2026). Seminar yang berlangsung secara hibrida melalui platform Zoom tersebut menghadirkan sejumlah pakar untuk membahas masa depan perguruan tinggi di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan doa pembukaan. Ketua Panitia Laurentia Sumarni, S.Pd., Ph.D., kemudian menyampaikan laporan kegiatan, dilanjutkan sambutan pimpinan universitas yang diwakili Plh. Rektor Prof. Ir. Sudi Mungkasi, Ph.D., dan Wakil Rektor IV Cecilia Tutyandari, Ph.D. Acara dipandu Carolus Pedro Ngiso Tokan.

Diskusi panel yang dipandu Christina Kristiyani, M.Pd., Ph.D., menjadi agenda utama seminar. Tiga narasumber dari berbagai disiplin ilmu membahas perubahan peran perguruan tinggi di tengah perkembangan AI yang semakin memudahkan akses terhadap pengetahuan.

Perguruan tinggi kini dituntut tidak hanya menjadi penyedia informasi, tetapi juga membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir kritis untuk memilah, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara bijak.

Dalam paparan bertajuk “Masa Depan Universitas di Era AI”, Rm. Dr. Johanes Haryatmoko, SJ., menyoroti pergeseran peran mendasar perguruan tinggi. Menurutnya, universitas perlu menjadi ruang untuk mengembangkan pemikiran kritis, bukan sekadar tempat mencari jawaban.

“Universitas masa depan bukan pusat jawaban tetapi menjadi pusat pertanyaan,” tegasnya.

Ia menambahkan, teknologi harus tetap ditempatkan sebagai sarana pendukung dalam proses pendidikan, bukan sebagai pengganti peran manusia dalam membangun pemahaman dan mengambil keputusan.

Perspektif humanistik disampaikan Prof. Iwan Pranoto, M.Sc., Ph.D., melalui materi “Perguruan Tinggi Bersumber pada Cinta ke Sesama”. Akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut menekankan pentingnya menjaga nilai kepedulian terhadap sesama di tengah meningkatnya penguasaan teknologi.

Menurutnya, nilai kemanusiaan harus tetap menjadi landasan utama pendidikan tinggi agar kemajuan teknologi tidak mengesampingkan hubungan antarmanusia.

Sementara itu, Drs. Johanes Eka Priyatma, Ph.D., mengulas aspek filosofis perkembangan teknologi melalui materi “Menggagas Ulang Perguruan Tinggi di Era AI”. Ia menjelaskan bahwa AI tidak hanya menjadi alat untuk berinteraksi dengan dunia, tetapi juga memengaruhi cara manusia memahami dan menilai realitas.

“AI tidak hanya untuk berhubungan dengan dunia, tapi ikut membentuk bagaimana kita mengalami, memahami, menilai, dan bertindak di dunia,” ujarnya.

Ia juga menyoroti perubahan mendasar dalam proses pendidikan akibat kehadiran AI. “AI tidak hanya membantu belajar, AI mengubah makna belajar,” katanya.

Setelah sesi diskusi dan tanya jawab, panitia menyerahkan penghargaan kepada para narasumber. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan istirahat, salat, dan makan (ISHOMA), sebelum peserta mengikuti Simposium Riset dan Sesi Paralel melalui sejumlah breakout room.

Melalui seminar ini, Universitas Sanata Dharma menegaskan komitmennya untuk merespons perkembangan teknologi digital tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan. Perguruan tinggi diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki daya kritis, kepedulian sosial, serta penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia di tengah perkembangan AI.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online