Harga Cabai Tembus Rp90.000, Pemprov Jateng Gelar Pangan Murah

Media Digital
Media Digital Senin, 12 Oktober 2026 16:07 WIB
Harga Cabai Tembus Rp90.000, Pemprov Jateng Gelar Pangan Murah

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Lutfi memantau langsung pasar murah yang digelar di Kantor Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Kompleks Tarubudaya, Ungaran, Kabupaten Semarang, Senin (12/10/2026)./Istimewa

Harianjogja.com, SEMARANG—Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Bank Indonesia (BI) memperkuat upaya pengendalian inflasi melalui gerakan pangan murah dan pemberian bantuan kepada masyarakat serta petani. Langkah ini dilakukan di tengah kenaikan harga sejumlah bahan pokok, termasuk cabai merah yang mencapai Rp80.000-Rp90.000, serta beras yang turut menjadi perhatian pemerintah.

Aksi peduli tersebut digelar di Kantor Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Kompleks Tarubudaya, Ungaran, Kabupaten Semarang, Senin (12/10/2026). Kegiatan ini menyasar pedagang warung, pelaku usaha katering, petani, serta masyarakat di Kabupaten Semarang dan Kota Semarang.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengatakan pemerintah menggandeng berbagai pihak, mulai dari BI, Bulog, hingga petani, untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan bahan pokok tetap terjangkau.

"Kerja kolaboratif ini yang dijadikan sebagai role model, sehingga Jawa Tengah tetap menjadi provinsi yang inflasinya terkendali. Tidak hanya di Semarang tetapi juga daerah lain agar inflasi kita terjaga," kata Luthfi di sela membuka dan meninjau pelaksanaan aksi peduli tersebut.

Cabai Lebih Murah, Pedagang Warung Terbantu
Bagi pelaku usaha makanan, kenaikan harga bahan pokok berdampak langsung terhadap biaya produksi. Salah satunya dirasakan Joko, pedagang nasi goreng yang mengaku terbantu dengan adanya gerakan pangan murah karena bisa membeli bahan baku dengan harga lebih terjangkau.

Ia menyebut tingginya harga cabai dalam dua minggu terakhir menyulitkan usahanya. Padahal, cabai merupakan bahan penting untuk membuat sambal yang dijual bersama nasi goreng.

"Ini baru beli cabai 3kg. Harga cabai di pasaran terakhir beli Rp65 ribu, di sini dapat Rp45 ribu. Biasanya untuk buat sambal saya butuh 5kg untuk satu minggu. Sangat membantu sekali," ujarnya.

Joko mengatakan dalam kegiatan tersebut dirinya membeli 3 kilogram cabai dengan harga Rp45.000, lebih rendah dibandingkan harga Rp65.000 yang terakhir dibayarkannya di pasaran. Kebutuhan cabainya untuk membuat sambal mencapai 5 kilogram setiap minggu.

Harga Beras Rp11.000 Bantu Usaha Katering
Manfaat gerakan pangan murah juga dirasakan pelaku usaha katering. Dari, seorang pengusaha katering, mengatakan harga bahan pokok berpengaruh besar terhadap biaya produksi usahanya.

Ia mencontohkan harga beras yang di pasaran biasanya mencapai Rp14.000-Rp15.000 dapat dibeli dengan harga Rp11.000 melalui kegiatan tersebut. Penurunan harga cabai juga dinilai membantu menekan pengeluaran usaha.

"Kenaikan harga bahan pokok sangat berpengaruh untuk usaha katering kami. Kalau kita naikkan harga pelanggan tidak mungkin karena pelanggan bisa lari. Jadi program ini sangat membantu. Yang berpengaruh bagi kami itu harga ayam dan beras," ujarnya.

Menurut Dari, kenaikan biaya bahan baku menjadi tantangan karena menaikkan harga jual berisiko membuat pelanggan beralih. Karena itu, ketersediaan bahan pangan dengan harga lebih terjangkau membantu pelaku usaha mempertahankan biaya produksi.

Bantuan Petani untuk Antisipasi El Nino
Selain menjaga keterjangkauan harga pangan, Pemprov Jateng juga mengarahkan intervensi untuk mengantisipasi dampak El Nino atau kekeringan. Dalam kegiatan tersebut, pemerintah memberikan bantuan beras serta bantuan sarana perpipaan dan rumah burung hantu bagi petani.

Bantuan sarana pertanian itu ditujukan untuk menjaga produktivitas pangan di Jawa Tengah. Pemerintah juga menyesuaikan pola tanam petani melalui program Dinas Pertanian dan Peternakan agar produksi tetap terjaga di tengah ancaman kekeringan.

"Pola tanam petani juga disesuaikan dengan program dari Distannak. Karena El Nino inilah maka kita harus mempunyai ide kreatif dalam rangka pengendalian bahan pokok penting di wilayah kita dari hulu-hilir," ungkap Luthfi.

Upaya tersebut menggabungkan intervensi harga di tingkat konsumen dengan dukungan terhadap produksi di tingkat petani. Pemerintah berharap ketersediaan pangan tetap terjaga sekaligus membantu mengendalikan tekanan harga bahan pokok.

Produksi Padi Jateng Diperkirakan 8,4 Juta Ton GKG
Berdasarkan catatan periode Januari-Oktober 2026, produksi padi di Jawa Tengah diperkirakan mencapai 8,4 juta ton gabah kering giling (GKG), setara dengan 4,9 juta ton beras.

Pada periode yang sama, produksi cabai diperkirakan mencapai 404,91 ribu ton, sedangkan produksi bawang merah mencapai 408,76 ribu ton.

Data produksi tersebut menjadi bagian dari gambaran ketersediaan komoditas pangan di Jawa Tengah. Di tengah kenaikan harga sejumlah bahan pokok dan potensi kekeringan akibat El Nino, pemerintah memperkuat upaya pengendalian dari sisi distribusi dan keterjangkauan harga hingga dukungan terhadap produksi pertanian.

Melalui kolaborasi dengan BI, Bulog, petani, dan pihak terkait lainnya, Pemprov Jateng berupaya menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan kebutuhan pangan masyarakat dan pelaku usaha tetap dapat dipenuhi dengan harga yang lebih terjangkau.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online