Pegadaian Masuk 10 Besar BUMN dengan Layanan Terbaik pada CX100 Award 2026
Pegadaian meraih peringkat kedelapan dalam Danantara Indonesia CX100 Award 2026 sebagai salah satu BUMN dengan layanan terbaik berkat transformasi digital dan p
Wakil Ketua DPRD DIY, Umaruddin Masdar (berdiri) memaparkan materinya dalam bedah buku di Wisma Dharmais, Sendangsari, Kapanewon Pengasih, Kulonprogo, Selasa (13/10).
KULONPROGO—Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY menggelar bedah buku di Wisma Dharmais, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pengasih, Kulonprogo, Selasa (13/10/2026). Kegiatan ini menjadi upaya menyosialisasikan budaya baca secara langsung kepada masyarakat sekaligus meningkatkan pemahaman dan literasi.
Buku yang dibedah kali ini berjudul Gus Dur: Pembela Minoritas Etnis-Keagamaan Pencinta Ulama Sepanjang Zaman karya Umaruddin Masdar.
Wakil Ketua Komisi A DPRD DIY, Hifni Muhammad Nasikh, mengatakan penurunan minat dan daya baca masyarakat menjadi tantangan yang kian memprihatinkan di tengah perubahan zaman. Perubahan pola hidup dan minimnya akses fisik ke toko buku menjadi salah satu gambaran merosotnya budaya literasi saat ini.
“Daya baca kita cenderung menurun. Karena itu, kita harus terus menggalakkan membaca buku, terlebih buku-buku yang mengulas tokoh-tokoh yang membukakan cakrawala pemikiran dan wawasan kita,” ujarnya saat memberikan sambutan dalam kegiatan bedah buku di Kulonprogo, Selasa.
Menurutnya, membaca buku bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu, melainkan sarana penting untuk membentuk landasan berpikir, memotivasi hidup, serta membekali diri dengan ilmu dan pengetahuan.
Melalui bedah buku karya Umaruddin Masdar tersebut, masyarakat diharapkan dapat mengambil iktibar dan memetik nilai-nilai keteladanan dari sosok Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
“Pulang dari kegiatan ini diharapkan tidak hanya lebih memahami makna perjuangan Gus Dur, tetapi juga sadar akan pentingnya melestarikan tradisi membaca. Dari buku, kita temukan literasi, wawasan, dan inspirasi untuk berjuang serta bertindak sesuai kaidah yang benar,” ucap dia.
Riset Mendalam
Penulis buku Gus Dur: Pembela Minoritas Etnis-Keagamaan Pencinta Ulama Sepanjang Zaman, Umaruddin Masdar, mengungkapkan karyanya lahir dari komitmen pribadi dan riset mendalam untuk meluruskan sejarah serta memperkuat pemahaman terhadap pemikiran Gus Dur yang menempatkan nilai-nilai kemanusiaan di atas kepentingan politik.
Menurut Umaruddin, Gus Dur dikenang bukan sekadar sebagai tokoh besar dan mantan Presiden RI, melainkan juga sebagai sosok kiai universal yang melampaui batas agama, fikih, maupun sekat politik.
Umaruddin, yang mengawali karier sebagai penulis sejak usia muda, menekankan kegemaran membaca dan menulis yang ditanamkan sejak kecil memberikan dampak besar terhadap perkembangan pemikirannya.
“Gus Dur adalah sosok yang luar biasa. Ia lahir dari garis keturunan pahlawan nasional, tetapi kebesarannya terutama terletak pada pemikirannya yang melampaui ruang dan waktu. Jika banyak kiai besar hanya menjadi kiai bagi umat Islam, Gus Dur diakui sebagai kiai bagi semua agama,” ucap Umaruddin.
Melalui buku tersebut, dia menegaskan Gus Dur selalu menempatkan kepentingan manusia di atas norma atau hukum yang bersifat formalistik.
Praktisi Fariq Nur Rokhim menambahkan, pemikiran Gus Dur memiliki keistimewaan karena menempatkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai landasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dia menjelaskan salah satu prinsip utama pemikiran Gus Dur, yakni al-insaniyyah fauqa as-siyasah, yang menegaskan bahwa kekuasaan negara maupun kepentingan politik praktis tidak boleh mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan.
“Gus Dur selalu berperspektif husnudzon dan berorientasi pada kebaikan. Ketika beliau menghadapi berbagai dinamika politik hingga pelengseran dari kursi kepresidenan, beliau menolak menggerakkan massa atau mengorbankan jiwa manusia demi mempertahankan kekuasaan. Bagi Gus Dur, kemanusiaan jauh lebih penting daripada siasat politik,” kata Fariq.
Sementara itu, Pustakawan Ahli Madya DPAD DIY, Hadi Pranoto, menyoroti pentingnya bedah buku sebagai stimulus untuk merawat tradisi literasi masyarakat di tengah perkembangan era digital.
Untuk memperkuat ekosistem literasi hingga tingkat akar rumput, DPAD DIY terus mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak melalui program bedah buku di ratusan titik wilayah DIY.
“Fenomena saat ini menunjukkan bahwa meskipun masyarakat aktif membaca unggahan singkat atau menonton video di media sosial, kemampuan atau daya baca terhadap teks panjang, misalnya dalam bentuk buku, terus menurun,” ujarnya. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pegadaian meraih peringkat kedelapan dalam Danantara Indonesia CX100 Award 2026 sebagai salah satu BUMN dengan layanan terbaik berkat transformasi digital dan p
Ketua Komisi D DPRD Sleman M. Arif Priyosusanto mengajak warga peduli terhadap keluarga dengan anak stunting dan meningkatkan pemahaman gizi.
DPRD Kota Jogja memperluas batas desil tiga program bantuan sosial untuk menjangkau warga yang membutuhkan tetapi belum terakomodasi.
KPK menangkap 14 orang dalam OTT BNPB, termasuk Sestama Rustian. Penyidik menyita uang sekitar Rp1,4 miliar dan sejumlah emas.
TNI AU mengerahkan 15 personel Lanud Sjamsudin Noor untuk memadamkan karhutla di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Calvin Verdonk menjadi pemain Indonesia pertama di Liga Champions saat Lille kalah 0-3 dari Arsenal lewat gol Timber, Eze, dan Saka.