Ganjar Pranowo Gembleng Kader PDIP Jogja, Tekankan Pentingnya Mendengarkan Suara Gen Z

Media Digital
Media Digital Minggu, 25 Oktober 2026 11:12 WIB
Ganjar Pranowo Gembleng Kader PDIP Jogja, Tekankan Pentingnya Mendengarkan Suara Gen Z

Ketua DPP PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo, menekankan pentingnya partai politik mendengarkan aspirasi generasi Z (Gen Z), termasuk berbagai kecemasan mereka terhadap masa depan./ Ist

Ganjar Ajak Gen Z Meneladani Bung Karno yang Gemar Membaca dan Berdiskusi

Harianjogja.com, JOGJA—Ketua DPP PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo, menekankan pentingnya partai politik mendengarkan aspirasi generasi Z (Gen Z), termasuk berbagai kecemasan mereka terhadap masa depan. Hal tersebut disampaikan Ganjar saat memberikan pembekalan dalam Kaderisasi Tingkat Pratama PDI Perjuangan Kota Yogyakarta di Kaliurang, Sleman, Jumat (23/10/2026) malam.

Setelah sebelumnya mendapat pembekalan dari Ketua DPP PDI Perjuangan Djarot Saiful Hidayat, sebanyak 64 kader mengikuti pendidikan politik bersama Ganjar Pranowo. Sebagian besar peserta merupakan generasi muda.

Dalam kegiatan tersebut, Ganjar didampingi Sekretaris DPD PDI Perjuangan DIY Ian Kurnia dan Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta Eko Suwanto.

Ganjar mengatakan salah satu fungsi partai politik adalah memberikan pendidikan politik kepada masyarakat dan kader, termasuk generasi muda. Menurutnya, kaderisasi menjadi bagian penting dalam menyiapkan calon pemimpin yang mampu memperjuangkan kepentingan masyarakat.

“Rekrutmen kader itu sendiri adalah untuk menciptakan kader kepemimpinan, bisa mengabdi sebagai legislatif, eksekutif, kepala daerah, bahkan jadi kades. Merekalah yang bisa mendengarkan dan memenuhi keinginan rakyat,” kata mantan Gubernur Jawa Tengah dua periode tersebut.

Ganjar juga mengapresiasi DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta yang didukung DPD PDI Perjuangan DIY dalam menyelenggarakan kaderisasi tingkat pratama.

“DPC PDI Perjuangan Jogja memang top,” ujarnya sembari mengacungkan jempol.

Sementara itu, Eko Suwanto menyampaikan jumlah generasi muda di Kota Jogja mencapai sekitar 69.000 orang. Jumlah tersebut terdiri atas sekitar 25.000 penduduk berusia 14–17 tahun dan 44.000 penduduk berusia 17–24 tahun.

Menanggapi data tersebut, Ganjar menilai partai politik harus mampu menyesuaikan pendekatan dengan karakter dan kebutuhan generasi muda.

“Gen Z potensial pemilih, menjadi tanggung jawab partai politik untuk memberikan penjelasan, sosialisasi, diseminasi agar mereka tahu berpolitik itu apa. Ada yang bilang, mengapa harus berpartai politik kalau isinya koruptor. Nah, inilah yang harus dijelaskan kepada mereka,” jelas Ganjar.

Menurutnya, partai politik tidak cukup hanya memberikan pendidikan politik, tetapi juga harus membuka ruang dialog dan mendengarkan berbagai persoalan yang dihadapi generasi muda.

Ganjar menilai Gen Z memiliki kedekatan dengan perkembangan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, kemajuan teknologi tersebut perlu diimbangi dengan penguatan nilai kemanusiaan dan kebangsaan.

“Mereka ini setiap hari pegang gadget, bergulat dengan AI, tapi harus selalu diingatkan tentang kesantunan, adab, budi pekerti, agar nilai-nilai kemanusiaan, kebangsaan tidak hilang. Di sinilah peran partai politik untuk mendidik dan melatih mereka,” pesannya.

Ganjar menambahkan partai politik perlu memberikan ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan kegelisahan mengenai masa depan. Aspirasi tersebut dapat menjadi bahan dalam merumuskan kebijakan publik yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, keterlibatan dalam politik memungkinkan seseorang membantu masyarakat melalui kebijakan yang berdampak lebih luas, bukan hanya melalui bantuan secara individual.

“Kita ini kalau menolong kan sifatnya pribadi-pribadi, misalnya menolong anak miskin tidak sekolah, menolong siswa yang ijazahnya ditahan, kan pribadi. Tapi kalau berpartai politik, misalnya DPRD dan eksekutif, kita bisa merumuskan kebijakan untuk anggaran sekolah dan lainnya. Gen Z perlu diajak diskusi tentang perspektif anggaran misalnya,” papar Ganjar.

Ganjar juga mengapresiasi sikap kritis generasi muda terhadap berbagai persoalan, khususnya isu lingkungan hidup, mulai dari pengelolaan sampah hingga kebakaran hutan.

“Itu luar biasa ketika mereka teriak kebakaran hutan, isu lingkungan, teriaknya kenceng sekali,” ungkapnya.

Ajak Gen Z Teladani Semangat Bung Karno

Dalam kesempatan tersebut, Ganjar mengajak generasi muda meneladani semangat perjuangan para tokoh bangsa, seperti Bung Karno, Bung Hatta, dan Tan Malaka, yang telah aktif memperjuangkan kepentingan bangsa sejak usia muda.

Menurutnya, salah satu hal penting yang dapat diteladani dari para tokoh tersebut adalah kebiasaan membaca dan berdiskusi dengan berlandaskan ilmu pengetahuan.

“Kita bisa melihat Bung Karno muda, ada Bung Hatta, Tan Malaka, mereka berjuang sejak masa muda, mereka berdiskusi bersama, dengan satu tujuan untuk bangsa. Bung Karno itu dalam diskusi ada rujukannya yakni ilmu pengetahuan, suka membaca. Jadi tradisi membaca itu penting,” katanya.

Ganjar menekankan pentingnya membangun persatuan melalui komunikasi, negosiasi, dan kesepakatan bersama yang dilandasi ideologi kebangsaan.

“Untuk itu, dalam konteks kebangsaan kita harus bersatu, membangun konsensualisme, membuat konsensus menjaga bangsanya, tujuannya adalah Indonesia. Ada negosiasi, ada komunikasi, basis ideologi itu yang diperlukan,” ujar Ganjar.

Dia juga mengajak kader PDI Perjuangan menerjemahkan kembali gagasan Bung Karno sesuai dengan perkembangan zaman agar nilai-nilai Marhaenisme dapat diwujudkan dalam kebijakan dan tindakan nyata.

“Jadi, mimpi Bung Karno itu harus diterjemahkan ulang, disesuaikan dengan kondisi kekinian sehingga Marhaenisme itu betul-betul bisa dilaksanakan. Ketika kita sudah berada di jabatan politik, maka harus membela dan membantu yang lemah,” pesannya.

Ganjar menegaskan partai politik harus senantiasa mendengarkan suara rakyat karena keberadaan partai merupakan representasi dari masyarakat.

Sementara itu, Sekretaris DPD PDI Perjuangan DIY Ian Kurnia mengatakan kaderisasi merupakan keharusan bagi partai politik untuk menjaga kesinambungan organisasi sekaligus menyiapkan calon pemimpin.

Setelah pelaksanaan kaderisasi tingkat pratama di Kota Yogyakarta, kegiatan serupa dijadwalkan berlangsung di Kabupaten Sleman, Gunungkidul, Bantul, dan Kulon Progo.

Di sisi lain, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta Eko Suwanto menjelaskan pemilihan Kaliurang sebagai lokasi kaderisasi memiliki nilai historis yang berkaitan dengan perjuangan Bung Karno.

Menurutnya, Kaliurang menjadi salah satu tempat bersejarah karena Bung Karno pernah menyampaikan pidato dalam Konferensi Besar Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) pada 17 Februari 1959.

Pidato Bung Karno saat itu berjudul Lenyapkan Steriliteit dalam Gerakan Mahasiswa, yang memuat pesan mengenai pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam perjuangan masyarakat.

“Ini sekaligus menghayati sejarah Bung Karno, sejarah Ibu Megawati dan komitmen PDI Perjuangan berjuang untuk hak-hak rakyat. Pada tanggal 17 Februari 1959 di Kaliurang, Bung Karno sampaikan pesan, pertama, nyalakan terus obor kesetiaan terhadap kaum Marhaen!” tegas Eko yang juga menjabat Ketua Komisi A DPRD DIY.

Eko berharap kaderisasi tersebut dapat memperkuat pemahaman ideologi, semangat perjuangan, dan komitmen kader dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Sebanyak 64 kader PDI Perjuangan mengikuti kegiatan kaderisasi tingkat pratama yang berlangsung pada 23–25 Oktober 2026 di Kaliurang. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya partai dalam menyiapkan kader yang mampu melayani, memberdayakan, dan memperjuangkan hak-hak rakyat. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online