Indonesia Belum Butuh Impor Beras
Pengamat pertanian menjelaskan sejumlah indikator yang menunjukkan bahwa Indonesia belum membutuhkan impor beras dalam waktu dekat.
Pengamat pertanian menjelaskan sejumlah indikator yang menunjukkan bahwa Indonesia belum membutuhkan impor beras dalam waktu dekat.
Serapan Bulog dinilai belum maksimal kendati telah menambah stok menjadi 1,3 juta ton.
Pada 2016 Presiden Jokowi pernah menyatakan salah satu kunci untuk memenangkan kompetisi antarnegara adalah dengan memiliki data dan informasi yang strategis, akurat dan berkualitas.
Sampai dengan 26 Maret 2021, Perum Bulog sudah menyerap sebanyak lebih dari 180.000 ton setara beras produksi dalam negeri dari seluruh Indonesia.
Untuk mengurangi subsidi terhadap pupuk dan menghemat pemakaian gas, salah satu jalan adalah merangsang petani menggunakan sistim usaha tani terpadu atau melakukan kombinasi antara bertani dan beternak.
Alangkah bijaknya jika pemerintah meningkatkan alokasi anggaran untuk membeli gabah petani dengan harga yang berkeadilan dan menyejahterakan, ketimbang digunakan untuk mengimpor beras yang saat ini belum dibutuhkan.
Beras impor yang didatangkan Perum Bulog pada 2018 sebesar 1,8 juta ton masih menyisakan stok 381.000 ton.
Pasokan beras pada tahun ini diyakini bakal tetap aman meski curah hujan di sentra produksi cenderung tinggi dan memperbesar peluang terjadinya bencana hidrologi yang memengaruhi penanaman. La Nina yang dihadapi Indonesia tahun ini justru berpengaruh positif pada volume produksi.
Banjr menggenani ribuan hektare sawah di Jawa Tengah. Meski demikian, Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi Jawa Tengah memastikan bahwa hasil panen padi tidak akan mengalami penurunan yang signifikan.
Beras Indonesia dijual lebih murah di Singapura. Harga eceran tertinggi (HET) beras premium di Pulau Jawa, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan No. 57/2017, dipatok Rp12.800 per kilogramnya. Nilai maksimal yang harus dirogoh konsumen untuk kemasan 5 kg adalah Rp64.000 di tingkat ritel.