Pelatihan Menjahit Disnaker DIY Siapkan Ibu-ibu Buka Usaha

Media Digital
Media Digital Selasa, 12 Mei 2026 18:17 WIB
Pelatihan Menjahit Disnaker DIY Siapkan Ibu-ibu Buka Usaha

Agenda pelatihan bertajuk Pelatihan Keterampilan Mobile Training Unit (MTU) APBD 2026 yang digelar DPRD DIY dan Balai Latihan Kerja dan Pengembangan Produktivitas (BLKPP) Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DIY, di berbagai lokasi di wilayah DIY./ Harian Jogja

SLEMAN—Pelaku UKM hingga saat ini masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Sektor ini bahkan mengalami pertumbuhan ketika Pandemi Covid-19 melalui adaptasi digital, inovasi produk, dan respons terhadap perubahan kebutuhan konsumen.

Potensi ini yang kemudian ditangkap dan dimaksimalkan oleh DPRD DIY dan Balai Latihan Kerja dan Pengembangan Produktivitas (BLKPP) Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DIY melalui serangkaian pelatihan MTU dan Pelatihan Singkat Kewirausahaan kepada masyarakat.

Di Kalurahan Sumbersari, Moyudan, sebanyak 20 ibu rumah tangga mengikuti pelatihan menjahit. Siti Muslimah sebagai instruktur mendampingi hingga ibu-ibu bisa menghasilkan sejumlah produk.

Mengusung tajuk “Pelatihan Keterampilan Mobile Training Unit (MTU) APBD 2026”, kegiatan ini merupakan upaya pemerintah guna mendorong ibu rumah tangga memiliki keterampilan kerja, sehingga mampu membuka usaha mandiri.

Pelatihan yang berlangsung sejak 6 April hingga 13 Mei 2026 tersebut diikuti peserta dengan latar belakang kemampuan berbeda-beda, mulai dari peserta yang sudah memiliki dasar menjahit hingga yang benar-benar baru belajar.

Instruktur BLKPP DIY, Siti Muslimah, mengatakan perbedaan kemampuan peserta menjadi tantangan tersendiri selama proses pelatihan berlangsung. Menurutnya, sebagian peserta mampu memahami materi dengan cepat, sementara lainnya membutuhkan pendampingan lebih intensif.

“Pesertanya beragam banget. Ada yang masih muda, ada ibu-ibu muda juga. Ada yang memang dari nol sama sekali, ada yang sudah punya kemampuan dasar. Tingkat kemampuan masing-masing ternyata beda-beda, jadi kami harus lebih telaten,” kata Siti ditemui di Sumbersari, Moyudan, Selasa (12/5/2026).

Ia menuturkan, instruktur terus memberikan motivasi kepada peserta agar tidak mudah menyerah selama mengikuti pelatihan. Sebab, menurutnya, keterampilan menjahit membutuhkan proses dan jam terbang agar kemampuan semakin terasah.

“Kami selalu sampaikan bahwa keterampilan ini nanti bisa menjadi bekal untuk menyejahterakan keluarga mereka. Jadi ibu-ibu harus tetap semangat, tidak putus asa, dan tidak gampang menyerah karena semua butuh proses,” katanya.

Siti menjelaskan, peserta yang lebih cepat memahami materi juga diharapkan dapat membantu peserta lain yang masih mengalami kesulitan. Pendekatan tersebut dilakukan agar proses belajar berjalan bersama-sama dan seluruh peserta mampu menguasai keterampilan dasar menjahit.

“Yang sudah bisa kami harapkan mendampingi teman-temannya yang lain. Sedangkan yang masih dari nol tetap semangat karena semuanya hanya soal latihan dan jam terbang,” ucapnya.

Dalam program tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan pelatihan teknis menjahit, tetapi juga pembekalan kewirausahaan dan pemasaran digital. Materi kewirausahaan diberikan selama dua hari, termasuk cara mengelola usaha dan memasarkan produk secara daring.

“Ilmu yang didapat di sini sebenarnya sudah lengkap. Awalnya mereka mendapat materi kewirausahaan, cara mengelola usaha, kemudian digital marketing, bagaimana memasarkan dan menampilkan produk, baru setelah itu teknis menjahit,” lanjutnya.

Menurut dia, tujuan utama program tersebut adalah mendorong masyarakat DIY menjadi lebih sejahtera melalui keterampilan produktif yang dapat dikembangkan menjadi usaha rumahan maupun usaha skala kecil.

“Harapannya nanti ketika mereka sudah bisa membuka usaha sendiri, masyarakat sekitar juga ikut terbantu dan ekonomi warga DIY bisa lebih sejahtera,” ujarnya.

Selain pelatihan dasar, BLKPP DIY juga membuka peluang bagi peserta untuk melanjutkan pelatihan tingkat lanjutan di BLKPP, termasuk pelatihan desain busana dan kreasi pakaian modern berbahan batik.

“Pelatihan MTU ini memang tingkat dasar. Kalau nanti ingin belajar desain pakaian atau kreasi yang lebih tinggi tingkatannya, peserta bisa datang langsung ke BLK dan mendaftar pelatihan lanjutan,” kata Siti.

Sementara itu, Ketua Pelatihan MTU, Anisyah Ariftiyasari, menunjukkan pakaian yang ia dan peserta pelatihan kenakan merupakan produk hasil pelatihan selama hampir satu bulan ini. Batik bermotif bunga ini hanya salah satu produk. Masih ada produk lain.

Anisyah mengaku sebelum mengikuti pelatihan tersebut belum pernah menjahit sama sekali. Pendampingan mentor yang intensif membuat ia dan peserta lain lebih mudah memahami proses belajar.

Selama pelatihan, peserta mendapat bantuan perlengkapan menjahit berupa mesin jahit, mesin obras, setrika, meja setrika, serta bahan dan perlengkapan produksi lainnya. Produk yang dipelajari meliputi kemeja pria, kemeja wanita, rok, dan gamis.

“Kalau mesin jahit satu orang dapat satu. Kalau peralatan dan perlengkapan lain buat kelompok,” kata Anisyah.

Ia berharap keterampilan yang diperoleh dapat menjadi modal untuk membuka usaha butik atau menerima pekerjaan menjahit dari rumah. Menurutnya, kepemilikan mesin jahit pribadi juga menjadi peluang besar bagi peserta untuk mulai berwirausaha setelah pelatihan selesai.

“Insyaallah nanti inginnya buka butik sendiri atau kerja dari rumah karena sekarang sudah punya mesin jahit sendiri,” katanya.

Selain mengikuti pelatihan menjahit, sebagian peserta diketahui tetap menjalankan aktivitas lain seperti bertani dan berkebun di rumah. Namun demikian, pelatihan menjahit dinilai menjadi peluang tambahan untuk meningkatkan pendapatan keluarga.

Di lain pihak, Kepala BLKPP Disnakertrans DIY, Tunggul Bomo Aji, menghadiri MTU tata kecantikan di Kalurahan Giring, Paliyan, Gunungkidul pada Selasa (12/5). Dalam sambutannya ia menyampaikan bahwa program ini merupakan pelatihan non institusional yang dirancang untuk mewadahi aspirasi masyarakat melalui dukungan DPRD DIY. Pada 2026, program MTU disebut hanya memiliki lima paket pelatihan di DIY dengan berbagai bidang keterampilan.

Menurutnya, keberhasilan pelatihan tidak hanya diukur dari selesainya proses belajar, tetapi juga dampak lanjutan berupa munculnya usaha baru dari peserta setelah pelatihan berakhir.

BLKPP DIY memastikan program pelatihan tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Monitoring dan pendampingan tetap dilakukan untuk memastikan keterampilan yang diperoleh peserta dapat diterapkan dan berkembang menjadi usaha produktif di masyarakat.

Pemerintah akan melakukan evaluasi apabila pelatihan tidak mampu melahirkan usaha produktif di masyarakat. Sebab, seluruh fasilitas dan bantuan alat yang diberikan kepada peserta diharapkan benar-benar dimanfaatkan untuk membuka usaha.

Apabila tidak ada usaha yang berjalan, hal ini bisa menjadi evaluasi untuk memutuskan apakah kegiatan yang sama akan tetap dilaksanakan atau tidak pada tahun depan.

“Pelatihannya memang sudah selesai. Output-nya sudah tercapai. Pelatihan untuk 20 orang selama 27 hari sudah tercapai. Yang masih kami tunggu adalah impact-nya atau dampaknya,” kata Tunggul.

Selain keterampilan teknis, Tunggul menilai peserta juga perlu dibekali kemampuan pemasaran agar usaha yang dijalankan dapat berkembang. Menurutnya, kemampuan memproduksi barang atau jasa saja belum cukup apabila tidak diikuti strategi pemasaran yang baik.

“Kalau sekarang bisa membuat produk itu belum cukup kalau kita bicara usaha. Bagaimana memasarkan itu juga penting,” ucapnya.

Ia menambahkan BLKPP DIY tetap membuka ruang evaluasi dan masukan dari peserta agar materi pelatihan ke depan semakin sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online