Pemda DIY Tekan Pengangguran Lewat Job Fair 2026, Ada 2.671 Lowongan
Pemerintah Daerah (Pemda) DIY terus berupaya mengurangi angka pengangguran melalui perluasan akses kerja bagi masyarakat.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) DIY, Ariyanto Wibowo, memukul gong membuka Job Fair di Auditorium UNY, Rabu (10/6)./ Harian Jogja - Andreas Yuda Pramono
SLEMAN - Pemerintah Daerah (Pemda) DIY terus berupaya mengurangi angka pengangguran melalui perluasan akses kerja bagi masyarakat. Salah satu upaya yang ditempuh adalah penyelenggaraan Job Fair 2026 yang digelar Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) DIY bekerja sama dengan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) di Auditorium UNY, Rabu-Kamis (10-11/6).
Sebanyak 43 perusahaan dari DIY maupun luar daerah berpartisipasi dalam kegiatan tersebut dengan menyediakan 394 formasi lowongan kerja dengan kebutuhan 2.671 lowongan bagi pencari kerja dari berbagai jenjang pendidikan.
Kepala Disnakertrans DIY, Ariyanto Wibowo, mengatakan Job Fair menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk mempertemukan pencari kerja dengan dunia usaha dan industri sehingga dapat memperluas penyerapan tenaga kerja.
"Di tengah dinamika ekonomi yang terus berkembang, kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan dunia usaha menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang sehat dan produktif," kata Ariyanto.
Menurutnya, pembukaan akses kerja menjadi bagian penting dalam upaya menekan angka pengangguran di DIY. Melalui tema Jogja Istimewa, Generasi Inovatif untuk Daya Saing Pasar Kerja Global, pemerintah ingin mendorong generasi muda lebih kreatif, adaptif, dan mampu bersaing di pasar kerja yang semakin kompetitif.
Ia menilai masih terdapat anggapan bahwa lapangan pekerjaan sangat terbatas. Padahal, peluang kerja masih tersedia cukup banyak, meski pencari kerja perlu menyesuaikan kompetensi dengan kebutuhan industri.
"Tantangannya adalah kompetensi pencari kerja bisa sesuai dengan kebutuhan perusahaan," katanya.
Data ketenagakerjaan menunjukkan kondisi pasar kerja DIY terus membaik. Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2026, jumlah angkatan kerja di DIY mencapai 2,28 juta orang dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebesar 74,52%. Sementara, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat 3,05%, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski demikian, Ariyanto menilai tantangan ketenagakerjaan tidak hanya terletak pada jumlah lapangan kerja, tetapi juga kesesuaian kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri yang terus berubah akibat digitalisasi, otomatisasi berbasis kecerdasan buatan (AI), dan perubahan model bisnis.
Karena itu, selain kemampuan teknis, perusahaan kini juga membutuhkan tenaga kerja yang memiliki kemampuan komunikasi, kolaborasi, kreativitas, serta keterampilan memecahkan masalah.
Wakil Rektor Bidang Akademik UNY, Nur Hidayanto Pancoro Setyo Putro, mengatakan keterlibatan UNY dalam penyelenggaraan Job Fair merupakan bagian dari upaya memperkuat keterhubungan antara dunia pendidikan dan dunia kerja.
Ia mengapresiasi kepercayaan yang diberikan Pemda DIY dan Komisi D DPRD DIY kepada UNY sebagai mitra penyelenggara kegiatan tersebut.
"Job Fair kami harapkan menjadi titik temu antara pencari kerja dan pemberi kerja. Kami senantiasa meng-upgrade dunia pendidikan dan dunia kerja melalui berbagai upaya sinkronisasi agar tidak ada lulusan yang tertinggal, baik dari sisi kemampuan maupun pengetahuan," kata Nur Hidayanto.
Sinkronisasi Kurikulum
Pengunjung Job Fair mulai berdatangan pukul 09.30 WIB. Mayoritas pencari kerja mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam. Dengan membawa tas ransel, mereka menyusuri setiap booth di Auditorium UNY.
Ketua Komisi D DPRD DIY, RB. Dwi Wahyu, menilai persoalan utama yang masih dihadapi adalah belum sinkronnya kebutuhan industri dengan kurikulum pendidikan, terutama di tingkat SMK dan perguruan tinggi.
“Kurikulum pendidikan belum sepenuhnya mampu mengakomodasi kebutuhan industri yang berkembang cepat. Akibatnya, sebagian lulusan belum memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan,” katanya.
Sejumlah perusahaan peserta Job Fair juga mengakui masih menghadapi kendala dalam proses rekrutmen. HRD PT Berlico Mulia Farma, Theresia Devi Cahyanti, mengatakan perusahaannya membutuhkan tenaga kerja mulai lulusan SMK hingga apoteker untuk sejumlah posisi yang tersedia. Namun, tidak sedikit pelamar yang mundur sebelum seluruh tahapan seleksi selesai.
Selain kompetensi teknis, perusahaan juga menekankan pentingnya soft skill seperti ketelitian, kerja sama tim, dan kepercayaan diri.
Hal serupa disampaikan SPV HRGA PT Auri Steel Metalindo, Ari Rahman Subastian. Menurutnya, banyak pelamar gagal bukan karena kemampuan teknis, melainkan kurang percaya diri saat menjelaskan kemampuan yang dimiliki.
Di sisi lain, Job Fair menjadi peluang bagi para pencari kerja untuk memperoleh informasi langsung dari perusahaan. M. Arif Nugroho, lulusan SMK asal Sleman, mengaku memanfaatkan kegiatan tersebut untuk mencari pekerjaan di bidang kesehatan dan keselamatan kerja (K3).
"Menurut saya, tergantung kita mau mencoba atau tidak. Jangan terlalu ketat memilih pekerjaan," ujarnya. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemerintah Daerah (Pemda) DIY terus berupaya mengurangi angka pengangguran melalui perluasan akses kerja bagi masyarakat.
Sawah terdampak rob di Pekalongan mulai ditanami padi biosalin, jadi harapan baru kebangkitan pertanian pesisir.
Pemda DIY lakukan efisiensi ketat usai BBM naik, mulai dari pembatasan kendaraan dinas hingga kebijakan WFH pegawai.
Wisata Jogja tetap diminati Gen Z dan milenial. DIY mencatat jutaan kunjungan dengan tren wisata hemat dan pengalaman autentik.
Sistem bansos digital 2026 mampu cek aset, gaji, dan listrik warga secara real-time, hasil langsung keluar dengan alasan transparan.
DIY meluncurkan Sikomhati.id untuk mencegah bullying dan cyberbullying di sekolah melalui literasi digital dan komunikasi hati.