Bedah Buku Jadi Ruang Literasi dan Penguatan Karakter Anak

Media Digital
Media Digital Sabtu, 25 Juli 2026 07:07 WIB
Bedah Buku Jadi Ruang Literasi dan Penguatan Karakter Anak

Anggota DPRD DIY, Anton Prabu Semendawai menjadi pemateri dalam bedah buku yang digelar Gedung Serba Guna Padukuhan Pogung Lor, Kalurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati, Sleman, Jumat (24/7). /Harian Jogja-Andreas Yuda Pramono.

SLEMAN—Bedah buku berjudul Anakku Terhebat: Tips-tips Membentuk Anak Menjadi yang Terbaik yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY di Gedung Serba Guna Padukuhan Pogung Lor, Kalurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati, Sleman, Jumat (24/7) dimanfaatkan sebagai ruang literasi sekaligus edukasi pengasuhan bagi orang tua untuk memperkuat karakter anak dan mencegah kenakalan remaja.

Dalam bedah buku itu masyarakat diajak membangun budaya membaca dan pola asuh yang adaptif tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya lokal.

Anggota DPRD DIY, Anton Prabu Semendawai, mengatakan fenomena kenakalan remaja saat ini semakin mengkhawatirkan. Berbagai kasus kejahatan yang melibatkan anak di bawah umur, mulai dari kekerasan seksual, pembunuhan, hingga meningkatnya kasus HIV/AIDS pada kelompok usia muda, menunjukkan perlunya evaluasi terhadap pola pengasuhan dalam keluarga.

"Ini menandakan ada yang salah dalam pendekatan kita terhadap hal-hal dasar, sehingga pengasuhan anak perlu dievaluasi total," kata Anton dalam pemaparan materinya, Jumat.

Menurut Anton, keluarga menjadi garda terdepan dalam membentuk karakter anak. Karena itu, kegiatan bedah buku digelar secara bergilir di berbagai padukuhan untuk membuka ruang diskusi mengenai pola asuh yang relevan dengan tantangan zaman sekaligus memperkuat ketahanan keluarga.

Ukuran Anak Hebat

Sementara itu, redaktur buku Anakku Terhebat: Tips-tips Membentuk Anak Menjadi yang Terbaik, Desy Wijaya, menegaskan predikat anak terhebat tidak diukur dari prestasi akademik semata atau kemampuan menjadi nomor satu di sekolah.

Anak terhebat adalah anak yang tumbuh secara utuh melalui pembentukan karakter, keterampilan hidup, dan nilai-nilai moral.

"Masyarakat sering kali menganggap pembahasan anak hebat itu melulu soal cerdas dan pintar. Padahal tidak sesederhana itu. Anak terhebat adalah anak yang tumbuh secara utuh seperti bagus karakter, keterampilan, dan nilai-nilainya," kata Desy.

Desy menjelaskan terdapat tiga pilar utama dalam pengasuhan, yakni karakter, keterampilan, dan nilai-nilai. Penguatan karakter mencakup pembiasaan bersyukur, menghargai orang lain, serta menjaga harga diri anak. Sementara keterampilan hidup dibangun melalui kemampuan beradaptasi dan mengambil keputusan, sedangkan nilai-nilai ditanamkan melalui keteladanan, spiritualitas, serta pengenalan budaya.

Dia juga mengingatkan orang tua untuk tidak menerapkan pola asuh yang otoriter. Dia menegaskan bahwa anak perlu didengar dan diberi ruang untuk mengekspresikan emosi agar tumbuh dengan rasa aman dan percaya diri.

Adapun, praktisi pendidikan, Bagas Auallya Darmawan, menambahkan bahwa penguatan karakter anak harus dimulai dari keluarga melalui pola asuh yang konsisten serta penanaman unggah-ungguh sejak dini.

Menurutnya, keluarga merupakan benteng pertama untuk mencegah berbagai persoalan yang mengancam anak, termasuk kenakalan remaja.

Bagas mengatakan anak yang terhebat bukan hanya anak yang memiliki nilai akademik tinggi, tetapi anak yang mampu berkembang sesuai potensinya sekaligus memiliki karakter yang kuat. Karena itu, orang tua perlu terus belajar dan hadir mendampingi proses tumbuh kembang anak.

Dia pun memperkenalkan prinsip P.A.S.T.I. sebagai panduan sederhana dalam pengasuhan, yakni memberikan apresiasi terhadap proses yang dilakukan anak, memvalidasi emosi mereka, menetapkan batasan yang jelas tetapi penuh kasih, meluangkan waktu berkualitas tanpa gangguan gawai, serta menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.

"Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi dari apa yang mereka lihat setiap hari," kata Bagas.

Oleh sebab itu, dia mengajak orang tua mengenalkan kembali budaya Jawa melalui unggah-ungguh atau undha-usuk. Pembiasaan sederhana seperti mengucapkan nyuwun sewu saat melintas di depan orang yang lebih tua, menggunakan tangan kanan ketika memberi atau menerima barang, menerapkan prinsip 3S (sapa, senyum, sopan), hingga mengenalkan tingkatan bahasa Jawa dapat menjadi sarana menanamkan sikap hormat dan kepedulian sosial sejak dini.

Pustakawan Ahli Madya DPAD DIY, Muhammad Hadi Pranoto, mengatakan kegiatan bedah buku juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi masyarakat.

Literasi tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan membaca, tetapi juga kemampuan memahami isi bacaan dan menyampaikan kembali informasi yang diperoleh.

Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak mempraktikkan keterampilan membaca dengan membaca bagian buku selama satu menit, kemudian menceritakan kembali isi bacaan kepada peserta lain.

Menurut dia, budaya membaca tidak boleh berhenti setelah seseorang menyelesaikan pendidikan formal.

"Untuk mendukung gerakan literasi di masyarakat, kami membuka kesempatan bagi padukuhan, RT, dan RW mengajukan bantuan koleksi buku melalui program Bank Buku. Masyarakat juga dapat memanfaatkan aplikasi perpustakaan digital iJogja yang menyediakan lebih dari 20.000 judul buku elektronik yang dapat diakses secara gratis melalui telepon pintar." (ADV)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online