Penanganan Stunting Didorong Berbasis Komunitas

Media Digital
Media Digital Kamis, 23 Juli 2026 05:02 WIB
Penanganan Stunting Didorong Berbasis Komunitas

Anggota DPRD DIY, Anton Prabu Semendawai, menjadi salah satu narasumber dalam bedah buku yang digelar di Joglo Nyamplung Lor, Kalurahan Balecatur, Kapanewon Gamping, Sleman, Rabu (22/7)./ Harian Jogja - Catur Dwi Janati

SLEMAN - Penanganan stunting (tengkes) di DIY tidak hanya bertumpu pada peran keluarga, tetapi juga memerlukan dorongan masif dari ekosistem komunitas. Pemanfaatan program pangan pemerintah hingga keterlibatan aktif Kelompok Wanita Tani (KWT) dinilai menjadi kunci utama dalam mencukupi kebutuhan gizi masyarakat guna menyongsong Generasi Emas.

Gagasan tersebut mengemuka dalam bedah buku berjudul Stunting pada Anak, Pendekatan Keperawatan Berbasis Keluarga dan Komunitas yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip (DPAD) DIY bersama DPRD DIY di Joglo Nyamplung Lor, Kalurahan Balecatur, Kapanewon Gamping, Sleman, Rabu (22/7).

Anggota DPRD DIY, Anton Prabu Semendawai, menjelaskan bahwa persoalan tengkes hingga kini masih menjadi perhatian. Padahal, untuk menyongsong Generasi Emas, kebutuhan gizi anak perlu ditingkatkan.

"Kita semua ingin anak muda di Generasi Emas ini, generasi yang memang hebat di bidang ilmu pengetahuan, di bidang olahraga, di bidang apa pun. Nah, itu dimulainya waktu anak-anak itu masih dalam kandungan. Artinya kan kebutuhan-kebutuhan gizi, bukan dari mahal atau tidaknya makanan, tetapi yang penting edukasi dari masalah gizi," kata Anton, Rabu.

Anton mengungkapkan ada banyak program pemerintah yang menyasar sektor pangan. Bahan pangan yang dipanen selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan gizi masyarakat di lingkungan sekitarnya.

"Sebenarnya program dari pemerintah itu cukup banyak, tetapi kan memang warga itu kan harus diberi tahu bagaimana mendapatkannya, bagaimana mengaturnya. Karena kan dari program, kalau dari DPRD DIY, DPR RI ada, provinsi ada, kabupaten ada, ada peternakan lele, budi daya joper, budi daya ayam petelur," ujar dia.

Narasumber lain dari kalangan praktisi, Dara Ayu Suharto, menjelaskan bahwa keluarga memiliki peran penting dalam penanganan stunting.

"Dimulai dari keluarga. Secara otomatis dari ibu, ibu yang punya anak, dan calon ibu, itu harus memang pendekatannya secara rutin melalui posyandu-posyandu tersebut," ujar Dara.

Tak hanya keluarga, menurut Dara, komunitas juga berperan penting. Dara mencontohkan peran Kelompok Wanita Tani (KWT) dalam membantu pemenuhan gizi di lingkungan masyarakat. KWT mengembangkan berbagai komoditas pangan, mulai dari telur, lele, ayam, hingga berbagai sayuran. Hasil panen tersebut dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat di lingkungan sekitarnya.

"Itu bisa saling kerja sama, dalam artian kerja samanya itu apa sih yang mendukung empat sehat lima sempurna di wilayah posyandu masing-masing," ujarnya.

Redaktur buku Stunting pada Anak, Pendekatan Keperawatan Berbasis Keluarga dan Komunitas, Umi Latifah, tak menampik bahwa tengkes merupakan persoalan yang kompleks. Tidak hanya membutuhkan perhatian dari keluarga, persoalan ini juga memerlukan dukungan lingkungan dan pemerintah.

"Jadi untuk peran keluarga sendiri untuk stunting, pertama kan ibu itu membutuhkan gizi yang mencukupi. Sedangkan kebutuhan gizi yang mencukupi, kita perlu lingkungan keluarga yang mendukung, ayah yang mau memberi respon atau support, baik dia mau psikis maupun ekonomi," katanya.

Selain keluarga, Umi mengingatkan pentingnya peran komunitas dalam penanganan stunting. Dengan saling bergotong royong, permasalahan stunting dapat dicegah.

"Ibu hamil itu wajib ke posyandu salah satunya, karena itu kan dari komunitas. Nanti di situ akan dicek bagaimana kondisi bayi, gimana kondisi anak itu. Apakah memang masuk ke dalam stunting atau tidak, nanti akan ada tahap selanjutnya seperti itu kalau dari komunitas."

Pustakawan Ahli Utama DPAD DIY, Budiyono, menjelaskan pendekatan pencegahan stunting kali ini dilakukan melalui keperawatan berbasis keluarga dan komunitas.

"Jadi buku ini memaparkan upaya-upaya pencegahan stunting dimulai dari kalangan keluarga, kemudian yang kedua kalangan komunitas. Nah, kalangan komunitas itu kan mereka sudah banyak pengetahuan-pengetahuan dari luar sehingga kita bisa minta pendapat mereka berdasarkan pengalaman-pengalaman mereka di lapangan," ujar dia

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online