Cegah Stunting di Sleman lewat Pendekatan Berbasis Komunitas
Penanganan stunting (tengkes) tidak hanya bertumpu pada intervensi gizi dan perbaikan infrastruktur, tetapi juga membutuhkan gerakan bersama berbasis keluarga
Anggota DPRD DIY, Anton Prabu Semendawai (berdiri) memaparkan materi bedah buku bertajuk Stunting pada Anak, Pendekatan Keperawatan Berbasis Keluarga dan Komunitas di Pereng Kembang, Kalurahan Balecatur, Kapanewon Gamping, Sleman, Rabu (22/7)./ Harian Jogja - Catur Dwi Janati
SLEMAN - Penanganan stunting (tengkes) tidak hanya bertumpu pada intervensi gizi dan perbaikan infrastruktur, tetapi juga membutuhkan gerakan bersama berbasis keluarga dan komunitas. Semangat nyengkuyung (gotong royong) ini mengemuka dalam acara bedah buku bertajuk Stunting pada Anak, Pendekatan Keperawatan Berbasis Keluarga dan Komunitas yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip (DPAD) DIY bersama DPRD DIY di Pereng Kembang, Kalurahan Balecatur, Kapanewon Gamping, Sleman, Rabu (22/7).
Anggota DPRD DIY, Anton Prabu Semendawai, menjelaskan bahwa penanganan tengkes mengambil berbagai aspek pendekatan, mulai dari masalah infrastruktur hingga gizi. Di luar itu, pendekatan berbasis keluarga dan komunitas juga bisa diambil.
"Sekarang ini kan pendekatan keperawatan berbasis keluarga dan komunitas. Jadi ini yang hadir banyak dari kader-kader posyandu dan ini kan kalau memang bisa, nanti juga posyandu bisa mengusulkan untuk tambahan Pemberian Makanan Tambahan juga," kata Anton, Rabu.
Komunitas, kata Anton, bisa menjadi penggugah masyarakat untuk mengatasi tengkes secara bersama-sama. Pasalnya, kasus stunting nyatanya masih ditemukan di lapangan. Itulah sebabnya diperlukan upaya gotong royong untuk menangani stunting.
"Jadi kami juga ingin menggugah komunitas supaya turut andil dalam gerakan untuk nyengkuyung bersama," kata Anton.
Dengan disengkuyung bersama-sama, beban penanganan tengkes bisa menjadi lebih ringan. Terlepas besar kecilnya bantuan, gotong royong akan membantu warga yang anaknya stunting.
Narasumber lain dari kalangan praktisi, Dara Ayu Suharto, menerangkan bahwa stunting terkadang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan. Itulah sebabnya, dia berharap lewat bedah buku dan sosialisasi ini, pengetahuan masyarakat perihal stunting dapat meningkat.
"Semoga buku ini juga membantu para calon ibu, para ibu untuk mempelajari bagaimana ya itu tadi, mencegah adanya stunting," ucap Dara.
Salah satu pengetahuan yang penting yakni mengubah pola pikir bahwa pemenuhan gizi stunting tidak harus mahal. Menurut dia, makanan bergizi dapat diperoleh dari bahan-bahan pangan di sekitar rumah.
"Empat sehat lima sempurna itu tidak harus mahal. Banyak yang ditemui di sekitar kita, contohnya ya kacang-kacangan, sayur bayam," ujar dia.
Periode Emas
Redaktur buku Stunting pada Anak, Pendekatan Keperawatan Berbasis Keluarga dan Komunitas, Umi Latifah, menyampaikan bahwa periode 1.000 hari pertama menjadi periode emas pertumbuhan anak. Fase itu harus dioptimalkan untuk pemenuhan gizi dan pencegahan stunting.
"Ada yang namanya periode emas, 1.000 hari pertama kehidupan. Jadi, selama 270 hari atau selama kehamilan hingga anak itu berusia 24 bulan itu merupakan fase paling kritis. Anak itu harus cukup gizinya, harus cukup stimulasinya dari orang tua," kata dia.
Kekurangan gizi pada masa tersebut sifatnya tidak bisa dipulihkan. Kekurangan protein, kekurangan energi, zat besi, dan yodium selama 1.000 hari pertama kehidupan akan menghambat fungsi otak. Selain itu, pola asuh anak juga penting untuk penanganan stunting.
Pustakawan Ahli Madya DPAD DIY, Muhammad Hadi Pranoto, menambahkan bahwa minat baca masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Menurutnya, angka minat baca di DIY masih perlu ditingkatkan.
"Kita sama-sama masih punya PR bahwa minat baca kita itu masih terus dan sangat perlu untuk ditingkatkan," ujarnya.
Selain mengajak masyarakat gemar membaca, Hadi juga meminta masyarakat mencari informasi dari sumber yang valid.
"Sebaiknya mencari sumber informasi itu dari informasi yang valid. Informasi yang valid salah satu cirinya itu jelas siapa yang menyusun informasi tersebut." katanya. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Penanganan stunting (tengkes) tidak hanya bertumpu pada intervensi gizi dan perbaikan infrastruktur, tetapi juga membutuhkan gerakan bersama berbasis keluarga
Pembangunan PSEL di Bawuran, Piyungan, Bantul ditargetkan mulai akhir 2026. Pemerintah mempercepat pematangan lahan hingga finalisasi pasokan sampah.
Cak Imin memastikan Presiden Prabowo Subianto menghadiri puncak Harlah Ke-28 PKB pada Kamis 23 Juli 2026 dan akan menyampaikan pidato.
Simak daftar rute Trans Jogja terbaru 2026 beserta tarif terkini. Jaringan layanan makin luas dengan akses antarkoridor yang semakin terintegrasi.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Kamis 23 Juli 2026 lengkap dari Stasiun Tugu Yogyakarta dan Kutoarjo. Simak jam keberangkatan terbaru.
Harga emas Antam, Galeri 24, dan UBS di Pegadaian kompak naik pada Kamis 23 Juli 2026. Simak daftar harga jual dan buyback terbaru.