Ratusan Pelajar DIY-Jateng Adu Akurasi Roket Air di Embung Giwangan

Media Digital
Media Digital Sabtu, 05 September 2026 18:22 WIB
Ratusan Pelajar DIY-Jateng Adu Akurasi Roket Air di Embung Giwangan

Proses peluncuran roket air yang dirakit pelajar DIY-Jateng dalam Kontes Roket Air di Budaya Embung Giwangan (TBEG), Kota Jogja, Sabtu (5/9/2026). - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat

JOGJA - Sebanyak 522 pelajar dari 71 sekolah di DIY dan Jawa Tengah menguji akurasi dalam Kontes Roket Air yang digelar Taman Pintar di Taman Budaya Embung Giwangan (TBEG), Kota Jogja, Sabtu (5/9/2026). Mereka tidak sekadar dituntut membuat roket yang dapat meluncur, tetapi juga harus mampu mengarahkannya setepat mungkin ke sasaran yang berada pada jarak 60 meter.

Sekda Kota Jogja, Budi Santosa Asrori, mengatakan kontes tersebut menjadi salah satu kegiatan unggulan Taman Pintar yang telah konsisten digelar sejak sekitar 2009. Ajang tahunan itu sempat terhenti selama pandemi Covid-19 sebelum kembali mempertemukan para pelajar untuk mengasah kemampuan di bidang sains dan teknologi.

"Roket air ini sudah 15 kali dilaksanakan. Ini menjadi event unggulan Taman Pintar untuk mendukung pendidikan, khususnya dalam pengembangan pengetahuan dan keterampilan anak-anak," kata Budi seusai membuka Kontes Roket Air.

Menurut dia, konsep roket air dapat mengenalkan prinsip dasar kerja roket dan teknologi kepada pelajar melalui kegiatan yang bersifat praktik. Kegiatan tersebut tidak hanya melatih aspek kognitif, tetapi juga kemampuan psikomotorik karena peserta harus merancang, membuat, menguji, dan mengarahkan roket.

Tahun ini, jumlah peserta tercatat meningkat dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Dari total 522 peserta, mereka berasal dari 71 sekolah dengan jumlah peluncuran yang diperkirakan menembus lebih dari 1.000 kali.

Budi mengatakan kompetisi tersebut sengaja tidak menitikberatkan pada tampilan roket. Ukuran keberhasilan peserta justru dilihat dari kemampuan mereka memperhitungkan peluncuran agar roket dapat mengenai atau mendekati sasaran pada jarak yang telah ditentukan.

"Yang menjadi ukuran adalah sasaran pada jarak 60 meter. Anak-anak harus bisa membuat roket dan memperhitungkan peluncurannya supaya arahnya tepat," ujarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Jogja, Yetti Matanti, menilai proses di balik pembuatan dan peluncuran roket justru menjadi bagian penting dari pembelajaran. Peserta dituntut membuat perencanaan, melakukan pengujian, lalu memperbaiki hasilnya agar mampu mencapai sasaran.

Menurut Yetti, pengalaman tersebut melatih sejumlah kemampuan yang sulit diperoleh hanya melalui pembelajaran di kelas. Ketelitian, kedisiplinan, perencanaan, hingga kemampuan mengevaluasi kegagalan menjadi bagian dari proses yang dijalani peserta selama mengikuti kontes.

"Yang ingin kami ajarkan adalah prosesnya, bukan hanya hasil. Untuk mencapai sasaran, anak-anak harus belajar membuat perencanaan dengan baik, teliti, disiplin, dan terus memperbaiki prosesnya," kata Yetti.

Sebanyak 30 peserta terbaik dari kontes tahun ini nantinya diproyeksikan mewakili DIY dan Jawa Tengah dalam ajang tingkat nasional. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan sebelumnya yang hanya sekitar 10 peserta. Kompetisi nasional direncanakan berlangsung di Bandung pada 17 Oktober 2026.

Salah satu peserta, Khoirul Affan, siswa kelas VIII MTs Negeri 8 Kebumen, mengaku sudah dua kali mengikuti Kontes Roket Air di Jogja. Bersama lima siswa lainnya dari sekolahnya, ia mempersiapkan diri sekitar satu hingga dua minggu sebelum perlombaan.

"Kami latihan di lapangan, mulai dari membuat roket kemudian mencoba meluncurkannya. Saya ikut karena ingin menambah pengalaman dan tentu berharap bisa juara," kata Khoirul.

Bagi Khoirul, tantangan utama bukan membuat roket dengan bentuk yang rumit. Ia dan timnya justru memilih desain sederhana dengan fokus pada kemampuan roket mencapai titik sasaran.

Hasil perlombaan menunjukkan ketatnya persaingan dalam membidik sasaran. Brillian Ning Rahayu Setya dari SMP Muhammadiyah 1 Yogyakarta keluar sebagai juara pertama dengan catatan jarak terbaik hanya 0,44 meter dari titik sasaran.

Posisi kedua ditempati Nimaz Shaninda Mufida Bassae dari SMP Negeri 3 Sleman dengan catatan 0,83 meter. Sementara itu, Reza Aditya dari SMP Negeri 2 Borobudur menempati posisi ketiga dengan catatan 0,84 meter.(Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online