Local to Viral, Budaya Lokal Didorong Jadi Pengalaman yang Menarik

Media Digital
Media Digital Sabtu, 05 September 2026 21:52 WIB
Local to Viral, Budaya Lokal Didorong Jadi Pengalaman yang Menarik

Managing Director Remen Jawi, Nugroho Adhi (kiri) dan Trainer Public Speaking, Endah Sisilia saat berdiskusi dalam Public Lecture bertajuk Local to Viral di Mini Galeri Taman Budaya Embung Giwangan (TBEG), Kota Jogja, Sabtu (5/9/2026). - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat

Harianjogja.com, JOGJA — Budaya lokal dinilai dapat menjadi pembeda kuat di tengah tren wisata dan pengalaman yang semakin seragam. Namun, agar mampu menarik perhatian generasi saat ini, budaya perlu dikemas menjadi pengalaman yang relevan, interaktif, dan meninggalkan kesan bagi pengunjung.

Hal itu disampaikan Managing Director Remen Jawi, Javanese Concept Travel and Event Planner, Nugroho Adhi, dalam Public Lecture bertajuk Local to Viral di Mini Galeri Taman Budaya Embung Giwangan (TBEG), Kota Jogja, Sabtu (5/9/2026) sore. Menurutnya, kekuatan budaya tidak cukup hanya ditampilkan sebagai pelengkap, tetapi harus menjadi bagian utama dari pengalaman wisata.

Nugroho mencontohkan program Jamu Party yang pernah dibuat Remen Jawi bersama Royal Ambarrukmo. Nama acara tersebut sengaja dibuat sederhana dan memancing rasa ingin tahu, meski konsep utamanya mengajak peserta menikmati jamu sembari mengenakan kain dan berada di lingkungan bangunan bersejarah.

Menurutnya, cara pengemasan semacam itu penting agar masyarakat tidak melihat budaya sebagai sesuatu yang kaku atau berjarak. Budaya justru dapat dibuat lebih dekat dengan keseharian generasi muda tanpa harus kehilangan identitas lokalnya.

"Di era ketika banyak experience terasa seragam, budaya lokal justru menjadi pembeda paling kuat. Yang dibutuhkan bukan sekadar membuat budaya terkait modern, tetapi mengemasnya agar terasa relevan, hidup, dan dekat dengan generasi hari ini," kata Nugroho.

Ia mengatakan sebuah program wisata berbasis budaya setidaknya perlu memperhatikan tiga hal, yakni pengalaman, koneksi, dan jiwa. Pengalaman berkaitan dengan aktivitas yang dilakukan peserta, koneksi membangun ikatan emosional, sedangkan jiwa membuat peserta membawa pulang pemahaman dari perjalanan tersebut.

Dalam praktiknya, konsep itu dapat diwujudkan melalui berbagai aktivitas, mulai dari mengenakan busana tradisional, mencicipi makanan lokal, berinteraksi dengan warga, hingga mendengarkan cerita dari orang yang memiliki keterkaitan langsung dengan budaya setempat. Menurut Nugroho, unsur-unsur tersebut membuat wisatawan tidak sekadar melihat sebuah tempat, tetapi ikut merasakan suasananya.

"Budaya bukan dekorasi perjalanan, melainkan pengalaman yang bisa disentuh, dikenakan, dirasakan, dicicipi, dipahami, dan dimaknai. Jadi ada raga, ada rasa, dan ada jiwa yang akhirnya bisa dibawa pulang oleh peserta," ujarnya.

Nugroho juga mendorong pengelola destinasi maupun anak muda untuk memperbanyak kolaborasi agar program lokal semakin dikenal. Ia mencontohkan Remen Jawi yang menggandeng berbagai pihak, termasuk Keraton Jogja, untuk menghadirkan program yang menggabungkan pengalaman wisata dengan unsur budaya.

Selain konsep acara, kemampuan berkomunikasi dengan pengunjung juga menjadi bagian penting dalam membangun pengalaman tersebut. Trainer Public Speaking, Endah Sisilia, mengatakan seorang pemandu maupun public speaker perlu lebih dulu membangun kenyamanan dan kedekatan dengan orang yang diajak berkomunikasi.

Menurut Sisil, perhatian sederhana seperti menanyakan kabar, mengingat nama, mendengarkan, atau menanyakan perasaan seseorang dapat menjadi awal interaksi yang kuat. Ia menilai small talk yang kerap dianggap sekadar basa-basi justru dapat menjadi cara efektif untuk membuat pengunjung merasa diperhatikan.

"Jadi sebelum kita bercerita tentang sejarah sebuah tempat, kita sentuh dulu hatinya. Tanya dulu bagaimana perjalanannya, apakah ini kali pertama ke Jogja, bagaimana harinya, karena small talk itu sangat powerful," kata Sisil.

Ia menambahkan kemampuan berbicara juga perlu ditopang komunikasi asertif, yakni menyampaikan pesan secara jelas dan tegas tanpa menghilangkan perhatian kepada lawan bicara. Dengan kombinasi keramahan dan komunikasi yang tepat, seorang pemandu diharapkan mampu membuat pengunjung merasa dihargai sekaligus lebih mudah menerima informasi yang disampaikan. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online