Sendinklusi: Indonesia Masih Kekurangan Guru Pendamping Khusus Anak

Media Digital
Media Digital Kamis, 25 Juni 2026 20:07 WIB
Sendinklusi: Indonesia Masih Kekurangan Guru Pendamping Khusus Anak

Peserta Sendinklusi 2026 foto bersama di Aula Ki Hajar Dewantara BBGTK DIY, Kamis (25/6).

JOGJA—Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) DIY menggelar Seminar Pendidikan Inklusi (Sendinklusi) Tahun 2026 bertajuk Transformasi Pendidikan Inklusi dalam rangka Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua di Aula Ki Hajar Dewantara BBGTK DIY, Kamis (25/6/2026).

Acara ini dibuka langsung oleh Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Arif Jamali. Dalam sambutannya, dia mengatakan Indonesia masih kekurangan Guru Pendamping Khusus (GPK).

Saat ini jumlah anak berkebutuhan khusus atau anak penyandang disabilitas mencapai sekitar 170.000 anak di seluruh Indonesia. Dengan rasio ideal 1:15, dibutuhkan sekitar 11.000 GPK yang akan bertugas di Unit Layanan Disabilitas (ULD) di bawah Dinas Pendidikan.

"Jumlah guru di seluruh Indonesia yang dilatih pada 2025 dan yang tersedia untuk melayani anak berkebutuhan khusus baru di 94 titik, padahal yang dibutuhkan 11.000 GPK," ujarnya.

Arif menyampaikan saat ini inklusi baru dipandang sebagai fasilitas. Menurutnya, menyediakan fasilitas seperti kamar mandi inklusif dan lainnya memang perlu, namun yang jauh lebih mendasar adalah menjadikan inklusi sebagai cara pandang.

"Inklusi harus menjadi cara pandang, paradigma bagi semua guru," katanya.

Berdasarkan Undang-Undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, semua sekolah harus inklusi. Karena itu, semua guru di sekolah, baik di tingkat PAUD sampai ke tingkat pendidikan menengah, harus memiliki paradigma pendidikan inklusi. Jika sekolah masih punya keterbatasan, maka perlu berdialog dengan orang tua, namun tidak diperkenankan menolak.

"Guru harus punya cara pandang, semua anak harus mendapatkan layanan pendidikan apa pun itu kondisinya," katanya.

Sementara itu, Kepala BBGTK DIY, Adi Wijaya, mengatakan kegiatan yang digelar bertujuan membangun kesamaan persepsi, komitmen, dan sinergi antar pemangku kepentingan, terutama dalam mengakselerasi transformasi pendidikan inklusi demi memastikan semua peserta didik, khususnya yang ada di DIY, mendapat hak pendidikan bermutu, setara, dan ramah.

Ia menyampaikan paradigma lama harus diubah dengan paradigma baru bahwa pendidikan bermutu tidak hanya terkait kuantitas saja, namun juga memberikan layanan berkualitas bagi semua anak sesuai karakteristiknya.

"Sehingga kami berharap dari seminar ini beberapa tujuan khusus yang kami harapkan nanti bisa tercapai," ujarnya.

Adi juga berharap peserta dapat menangkap strategi untuk menyampaikan pembelajaran yang menyasar semua anak dengan karakter berbeda-beda, sehingga potensi yang dimiliki bisa terlayani dengan baik.

"Harapannya ada praktik-praktik baik dan juga memperkuat ekosistem pendidikan, bagaimana pendidikan inklusi itu bisa berjalan dengan baik," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online