Cangkang Telur dan Sampah Dapur Organik Bantu Penuhi Nutrisi Tanaman

Media Digital
Media Digital Rabu, 29 Juli 2026 11:02 WIB
Cangkang Telur dan Sampah Dapur Organik Bantu Penuhi Nutrisi Tanaman

Executive Chef Garrya Bianti Yogyakarta, Edi Santoso, sedang menunjukkan pupuk organik cair hasil buatan sendiri di Garrya Bianti Yogyakarta, Kamis (9/7/2026).

Harianjogja.com, SLEMAN—Membincang ekonomi sirkular berarti membicarakan optimalisasi bahan bekas pakai menjadi bentuk lain yang bernilai dan bermanfaat. Sebagai contoh, di tangan sebagian orang, cangkang telur hanyalah limbah dapur yang berakhir di tempat sampah. Padahal, cangkang telur dapat diolah menjadi pupuk organik untuk menyuburkan tanaman.

Selain mengurangi timbulan sampah dari hulu, upaya ini menjadi wujud nyata manajemen dapur yang tuntas.

Di sebuah dapur yang tidak terlalu besar namun bersih, Edy Santoso menunjukkan tumpukan cangkang telur kering. Cangkang-cangkang tersebut berasal dari telur yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan operasional dapur setiap hari.

Sebelum dimasukkan ke dalam oven, cangkang telur terlebih dahulu dibilas agar tidak menyisakan bau. Setelah benar-benar kering, cangkang kemudian dihancurkan menggunakan mesin pencacah (chopper) hingga menjadi butiran halus.

Sebagai Executive Chef Garrya Bianti Yogyakarta, Edy bertanggung jawab memastikan manajemen bahan baku dapurnya berjalan tuntas dan tidak menimbulkan persoalan.

Ia menuturkan, seorang chef tidak hanya bertanggung jawab menyajikan makanan, tetapi juga memastikan pengelolaan sisa bahan baku dilakukan secara tuntas. Tanpa pengelolaan yang baik, limbah dapur justru dapat menjadi sumber pencemaran sekaligus persoalan kesehatan.

Pengolahan cangkang telur menjadi pupuk organik perlu dilakukan secara tepat agar manfaatnya terasa. Semakin halus ukuran partikel cangkang telur, semakin cepat kalsium karbonat larut sehingga kalsium lebih cepat tersedia untuk diserap tanaman. Sepengetahuan Edy, cangkang telur yang kaya mineral mampu membantu memperkuat sistem perakaran sekaligus menunjang pertumbuhan tanaman.

"Fungsinya untuk memperkuat akar dan tumbuhannya. Kami mengombinasikan pupuk cangkang telur dengan pupuk cair organik (PCO) juga," kata Edy di Garrya Bianti Yogyakarta, Kamis.

Di Garrya Bianti, kebutuhan telur mencapai sekitar lima hingga delapan kilogram (kg) setiap hari, bergantung pada tingkat okupansi hotel. Seluruh telur tersebut dipasok dari peternakan ayam bebas sangkar (cage free) milik tiga Kelompok Wanita Tani (KWT) di Sleman yang dibina oleh pihak hotel.

Selain mendukung KWT lokal, telur dari peternakan tersebut dinilai memiliki kandungan gizi yang lebih baik. Oleh karena itu, cangkang telur yang diolah Chef Edy dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk membantu menunjang pertumbuhan tanaman.

Pemanfaatan limbah dapur tidak berhenti pada cangkang telur. Sisa buah dan sayuran juga difermentasi menjadi pupuk organik cair (PCO) yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman.

Fermentasi dilakukan menggunakan campuran air, EM4, serta gula merah atau molase. Untuk setiap satu liter air, ditambahkan masing-masing dua sendok makan EM4 dan molase. Campuran tersebut difermentasi selama sekitar dua pekan hingga menghasilkan pupuk cair siap pakai. Sementara itu, ampas hasil fermentasi tetap dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Edy menjelaskan, hanya limbah buah dan sayuran yang digunakan dalam proses tersebut. Limbah yang mengandung daging tidak dicampurkan karena berpotensi menimbulkan bau menyengat dan mengundang belatung. Ia juga menyarankan limbah dipotong menjadi bagian-bagian kecil agar proses fermentasi berlangsung lebih optimal.

Pisahkan Sampah Sejak Awal

Menurut Edy, pengelolaan sampah yang baik harus diawali dengan pemisahan antara sampah basah dan sampah kering. Dengan pemilahan sejak awal, limbah organik tetap dapat dimanfaatkan kembali menjadi pupuk.

Untuk mendukung proses tersebut, Garrya Bianti memanfaatkan kembali berbagai barang bekas sebagai wadah fermentasi, mulai dari drum hingga botol yang sudah tidak terpakai. Bahkan, drum bekas penyimpanan klorin digunakan kembali setelah melalui proses pembersihan.

Selain mengolah limbah menjadi produk yang bermanfaat, pihak hotel juga rutin menimbang volume sampah organik setiap hari. Data tersebut menjadi bahan evaluasi untuk mengukur efisiensi penggunaan bahan baku dapur.

"Kalau okupansi tinggi, sampah yang meningkat masih masuk akal. Tetapi kalau okupansi rendah sementara sampah tetap banyak, berarti harus ada evaluasi," kata Edy.

Baginya, pencatatan volume sampah bukan sekadar mengetahui jumlah limbah yang dihasilkan. Data tersebut juga berkaitan langsung dengan efisiensi biaya operasional. Semakin sedikit bahan makanan yang terbuang, semakin kecil pula biaya yang hilang akibat limbah.

Di tengah persoalan pengelolaan sampah yang masih menjadi tantangan di Yogyakarta, langkah sederhana yang dilakukan dari dapur hotel menunjukkan bahwa pengurangan sampah dapat dimulai dari sumbernya. Limbah yang selama ini dipandang tidak bernilai pun dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung pertumbuhan tanaman sekaligus mengurangi beban sampah yang harus ditangani.(Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online