Metamorfosa 20 by Mila Art Dance School Hadirkan Tari Lintas Genre

Media Digital
Media Digital Minggu, 12 Juli 2026 09:07 WIB
Metamorfosa 20 by Mila Art Dance School Hadirkan Tari Lintas Genre

Suasana Metamorfosa 20 by Mila Art Dance School di Sleman City Hall pada Sabtu (11/7/2026). /Harian Jogja-Catur Dwi Janati.

Harianjogja.com, SLEMAN—Sebanyak 150 penari dari berbagai kelompok usia memeriahkan pergelaran Metamorfosa 20 yang digelar Mila Art Dance School di Sleman City Hall, Sabtu (11/7/2026). Ajang yang rutin diselenggarakan setiap enam bulan ini menjadi wadah regenerasi penari sekaligus panggung bagi para siswa untuk menampilkan hasil latihan mereka kepada masyarakat.

Kepala Sekolah Mila Art Dance School, Mila Rosinta, mengatakan Metamorfosa telah memasuki penyelenggaraan ke-20 sejak pertama kali digelar. Menurutnya, kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda pentas rutin, melainkan simbol perjalanan setiap penari dalam berkembang melalui proses yang panjang.

"Metamorfosa adalah bagaimana setiap orang itu punya prosesnya masing-masing. Saya yakin sesuatu yang dari tidak bisa itu pasti bisa ketika kita mau berproses," ujar Mila.

Sebanyak 150 siswa, mulai dari balita hingga dewasa, tampil membawakan beragam genre tari. Penampilan tersebut meliputi tari tradisional, tari kreasi, kontemporer, modern dance, K-Pop, olah tubuh, hingga berbagai eksplorasi gerak yang dipadukan dalam satu panggung.

Menurut Mila, seluruh penampilan merupakan hasil proses latihan selama enam bulan yang kemudian dipresentasikan kepada publik melalui Metamorfosa.

"Di sini anak-anak menghadirkan proses mereka dalam waktu enam bulan kemudian memberikan yang terbaik di hari ini," katanya.

Mila menilai perkembangan kemampuan menari tidak bisa diperoleh secara instan. Di tengah budaya serba cepat, ia mengingatkan bahwa penguasaan teknik tari membutuhkan latihan yang konsisten dan berlangsung dalam waktu panjang.

Ia menjelaskan seorang penari harus melewati proses untuk menguasai berbagai aspek, mulai dari teknik wiraga, wirama, wirasa, musikalitas, hingga membangun rasa dan karakter dalam setiap gerakan.

"Tapi alangkah lebih baik ketika memperdalam tari itu butuh proses yang sangat panjang. Karena untuk mencapai teknik wiraga, wirama, wirasa, teknik kemudian musikalitas, hingga rasa, hingga bagaimana metaksu, itu tidak bisa dalam waktu yang sangat singkat," ungkapnya.

"Butuh proses bertahun-tahun, bahkan seumur hidup untuk menemukan arti tari dari tiap fase," lanjut Mila.

Semangat tersebut menjadi nilai utama yang terus diusung dalam setiap penyelenggaraan Metamorfosa. Mila berharap kegiatan ini dapat mendekatkan masyarakat dengan seni tari sekaligus memperlihatkan keberagaman yang ada di dunia tari.

"Upaya ruang keberagaman ini adalah harapannya dari hal-hal berbeda kita bisa banyak belajar," ujarnya.

Pemilihan pusat perbelanjaan sebagai lokasi pertunjukan juga dilakukan agar masyarakat dapat menikmati pertunjukan tari secara lebih dekat. Selain menjadi hiburan, panggung tersebut menjadi sarana bagi para siswa untuk membangun kepercayaan diri melalui pengalaman tampil di depan publik.

"Dari segi mentalitas, ketika belajar menari dia lebih mengenal tubuhnya, potensi dirinya, belajar berekspresi, hingga kepercayaan dirinya tumbuh ketika semakin sering pentas," kata Mila.

Menurutnya, ruang pertunjukan seperti Metamorfosa diharapkan mampu menghadirkan kebahagiaan sekaligus meningkatkan minat masyarakat untuk mengenal seni tari.

Lebih jauh, Mila menegaskan Mila Art Dance School ingin menjadi ruang belajar yang mampu melahirkan regenerasi penari dari berbagai genre.

"Dari wadah atau ruang belajar seperti ini kami akan meregenerasi penari-penari penerus, baik tradisional, kontemporer, hingga pop dance," tuturnya.

Mila Art Dance School didirikan pada 2015 oleh Mila bersama sejumlah praktisi tari. Sejak awal berdiri, lembaga ini menghadirkan berbagai kelas tari dengan semangat keberagaman yang terus diwujudkan melalui penyelenggaraan Metamorfosa.

"Ruang ini adalah bagaimana perlahan meregenerasi, mempersiapkan ke depannya generasi muda yang kreatif, inovatif, percaya diri, kemudian goals-nya lebih dalam adalah meregenerasi seniman ke depannya," tandasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online