89,74 Persen Lulusan SMK-SMTI Yogyakarta Terserap Industri

Media Digital
Media Digital Sabtu, 11 Juli 2026 12:02 WIB
89,74 Persen Lulusan SMK-SMTI Yogyakarta Terserap Industri

Ratusan lulusan SMK-SMTI Yogyakarta mengikuti acara Pelepasan Purnasiswa di Sahid Raya Hotel & Convention Jogjakarta, Kamis (9/7/2026)./Harian Jogja - Catur Dwi Janati

Baru Dua Bulan Lulus, 89,74% Lulusan SMK-SMTI Yogyakarta Terserap Industri, Mayoritas Sudah Bekerja Sebelum Wisuda

SLEMAN—Baru dua bulan berstatus lulus, sebanyak 89,74% dari 344 lulusan Sekolah Menengah Kejuruan-Sekolah Menengah Teknologi Industri (SMK-SMTI) Yogyakarta telah terserap ke dunia kerja, berwirausaha, maupun melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Capaian ini menjadi bukti efektivitas sistem pendidikan vokasi ganda (dual system) sekaligus menjawab upaya sekolah dalam mencetak tenaga kerja industri yang kompeten.

Ratusan lulusan SMK-SMTI Yogyakarta menjalani acara Pelepasan Purnasiswa di Sahid Raya Hotel & Convention Jogjakarta, Kamis (9/7/2026).

Kepala SMK-SMTI Yogyakarta, Sarman, mengatakan pelepasan purnasiswa menjadi penanda berakhirnya proses pembelajaran di sekolah sekaligus penyerahan kembali siswa kepada orang tua. Penyelenggaraan pendidikan vokasi di SMK-SMTI Yogyakarta merupakan bentuk pertanggungjawaban kepada Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian RI dalam menyelenggarakan pendidikan kejuruan industri yang mendukung prioritas program nasional melalui Strategi Baru Industri Nasional (SBIN).

Pada 2026, sebanyak 344 siswa mengikuti purnasiswa. Rinciannya, Konsentrasi Keahlian Teknik Kimia Industri sebanyak 94 orang, Kimia Analisis 93 orang, Teknik Mekatronika masa studi empat tahun sebanyak 62 orang, serta Teknik Mekatronika masa studi tiga tahun sebanyak 95 orang.

"Mereka telah memenuhi syarat kelulusan dan dinyatakan lulus pada tanggal 4 Mei 2026. Dengan demikian, dari tahun 1952 (lulusan pertama) sampai dengan 2026, SMK-SMTI Yogyakarta telah meluluskan kurang lebih 9.686 orang," terang Sarman.

Selain memperoleh ijazah, lulusan SMK-SMTI Yogyakarta juga mendapatkan Sertifikat Kompetensi dari BNSP sebagai wujud penjaminan mutu pendidikan vokasi yang diamanahkan dalam Perpres No. 68/2022 tentang Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi. Rata-rata kelulusan untuk tiga konsentrasi keahlian mencapai 96,51%.

Lulusan juga dibekali sertifikat kompetensi nasional dan internasional. Siswa Konsentrasi Keahlian Teknik Kimia Industri memperoleh sertifikasi internasional Vapro Belanda dengan tingkat kelulusan 92,55%, sedangkan Konsentrasi Keahlian Kimia Analisis mencapai kelulusan 100%.

Sementara itu, sertifikasi internasional dari Siemens Jerman untuk Konsentrasi Keahlian Teknik Mekatronika mencatat tingkat kelulusan 78,12% pada masa studi empat tahun dan 100% pada masa studi tiga tahun.

Dengan bekal pengetahuan, praktik, dan sertifikasi tersebut, lulusan SMK-SMTI Yogyakarta tidak membutuhkan waktu lama untuk memasuki dunia kerja. Dalam kurun waktu dua bulan setelah kelulusan, 89,74% lulusan telah terserap di berbagai bidang.

Sarman menjelaskan, berdasarkan data per 30 Juni 2026, sebanyak 245 lulusan telah bekerja, 45 lulusan melanjutkan studi, satu orang berwirausaha, 28 orang dalam proses bekerja, dan 25 orang dalam proses melanjutkan studi.

"Total keterserapan lulusan yang bekerja, kuliah, dan berwirausaha setelah dua bulan kelulusan sebesar 89,74%," tegasnya.

Menurutnya, SMK-SMTI Yogyakarta terus meningkatkan kinerja dan prestasi melalui penguatan ekosistem pendidikan vokasi yang berkualitas. Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai inovasi dan kolaborasi, mulai dari Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), Program Pendidikan Sistem Ganda (dual system), hingga pemasaran lulusan.

"Target kinerja berupa animo pendaftar minimal 1:12,5 dapat terpenuhi. Kerja sama tim dan kolaborasi dengan berbagai pihak dalam menyikapi segala keterbatasan pelaksanaan SPMB membuahkan hasil optimal," ujarnya.

Pada tahun ajaran 2026/2027, sekolah menerima 324 siswa baru dari total 4.044 pendaftar.

Untuk meningkatkan mutu pendidikan, SMK-SMTI Yogyakarta juga bekerja sama dengan berbagai mitra industri melalui penyelenggaraan kelas industri, di antaranya bersama PT Krakatau Posco dan PT Tanjungenim Lestari Pulp and Paper. Kedua perusahaan tersebut menjadi best practice penyelenggaraan kelas industri di SMK-SMTI Yogyakarta.

Selain itu, Pendidikan Vokasi Sistem Ganda (dual system) yang diterapkan pada seluruh konsentrasi keahlian telah memperoleh pengakuan dari EKONID Jerman dengan predikat A. Pengakuan tersebut meningkatkan kepercayaan industri terhadap sekolah sehingga mempermudah berbagai bentuk kerja sama.

Sarman mengatakan salah satu keunggulan lulusan SMK-SMTI Yogyakarta dibanding sekolah lain adalah penerapan dual system secara nyata.

"Kita real adopsi melakukan dual system. Dalam arti ketika mulai PKL, jadi anak-anak naik kelas 3 kemudian PKL ada evaluasi per 6 bulan. Ketika 6 bulan evaluasi kita tanyakan ke industri, industri itu mau ambil enggak. Kalau industri mau ambil, silakan diambil, tapi kalau enggak, kembalikan kepada kami. Maka ketika masuk semester 6, anak-anak udah banyak yang bekerja," ujarnya.

Dia berpesan agar lulusan menjaga profesionalitas serta nama baik sekolah.

"Pesan kami kepada anak-anak, junjunglah tinggi profesionalitas. Kalian sekarang sudah menjadi profesional, harus menghargai itu. Ketika kalian menjalani kontrak, tanda tangan kontrak, jalani itu, kerjakan itu dengan sungguh-sungguh. Angkat nama, angkat nama baik sekolah demi adik-adik kelas anda," tegasnya.

Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri (PPPVI) BPSDMI Kementerian Perindustrian, Wulan Aprilianti Permatasari, mengapresiasi capaian lulusan SMK-SMTI Yogyakarta yang cepat memperoleh pekerjaan maupun melanjutkan studi. Dia menargetkan dalam waktu enam bulan seluruh lulusan dapat terserap.

"Kami memiliki target dalam waktu 6 bulan mereka bisa terserap sampai 100%. Namun, di hari wisuda ini sudah 85% lebih mereka terserap. Ini satu kebanggaan buat kita semua," ungkapnya.

Menurut Wulan, capaian tersebut membuktikan bahwa lulusan SMK mampu bersaing di dunia kerja.

"Untuk saat ini, paling tinggi di Jogja. Jadi dari 22 satker dan dari 9 SMK yang kita miliki, yang saya tahu ini yang paling tinggi serapan untuk siswa yang langsung bekerja. Bahkan sebelum mereka wisuda, itu sudah bekerja," tuturnya.

Dia menjelaskan, melalui program dual system dan link and match, setiap sekolah memiliki mitra industri yang siap menyerap lulusan.

"Memang ini program kami, kerja sama dengan industri bahwa perjanjian kita juga, setiap mereka setelah lulus, mereka akan langsung terserap kerja," tegasnya.

Melihat tingginya animo masyarakat, Wulan menilai perlu ada pengembangan sarana dan penambahan gedung agar kuota penerimaan siswa dapat ditingkatkan.

"Seharusnya memang kita punya satu wacana untuk memperluas area atau menambah gedung sekolah lain di area yang lain untuk menambah kuota. Karena kualitas di SMTI Jogja sangat bagus dan itu bisa jadi inden buat perusahaan," katanya.

BPSDMI, lanjut Wulan, terus berfokus mencetak sumber daya manusia yang kompeten untuk memenuhi kebutuhan industri nasional.

"BPSDMI melalui sekolah-sekolahnya adalah menyiapkan tenaga kerja industri yang kompeten, siap kerja. Jadi itu adalah kontribusi kami dari sisi SDM untuk menyumbang jumlah tenaga kerja industri dan ini sudah terbukti," ujarnya.

Salah satu lulusan, Isnatun Khasanah, kini telah diterima bekerja di PT Reckitt Benckiser Indonesia sebagai Quality Control Analis Kimia. Menurutnya, bekal yang diperoleh selama belajar di SMK-SMTI Yogyakarta dan praktik kerja industri sangat membantu saat memasuki dunia kerja.

"Menurut saya, keunggulan SMK-SMTI Yogyakarta terletak pada kurikulum yang relevan dengan industri, laboratorium berstandar industri, serta kemitraan yang kuat dengan berbagai perusahaan sehingga lulusannya siap memasuki dunia kerja," katanya.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan 100% lulusan unit pendidikan vokasi di bawah Kementerian Perindustrian dipastikan memiliki peluang besar bekerja di sektor industri, termasuk lulusan SMK-SMTI.

Menurut Agus, kualitas pendidikan vokasi di bawah Kemenperin sudah sangat baik, baik dari sisi pelaksanaan program maupun jejaring dengan dunia industri.

"Kualitas pendidikan vokasi kita sudah sangat baik. Tapi perlu ditambah dari jumlah atau kuantitasnya," pesannya.

"Selain kualitas, aspek kuantitas juga terus ditingkatkan, baik program kelas atau SDM, untuk memenuhi kebutuhan industri," imbuhnya.

Agus menambahkan kebutuhan SDM unggul di sektor industri terus meningkat seiring pertumbuhan industri nasional.

"Industri kita bertumbuh pesat, peningkatan dan kebutuhan SDM di industri juga terus terjadi," pungkasnya. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online