Pesan Sultan HB X pada JBBA 2026: Bisnis Harus Berbasis Kepercayaan

Media Digital
Media Digital Rabu, 15 Juli 2026 18:52 WIB
Pesan Sultan HB X pada JBBA 2026: Bisnis Harus Berbasis Kepercayaan

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan pentingnya membangun bisnis berbasis nilai dan kepercayaan dalam era ekonomi modern. Hal itu ia sampaikan saat menjadi keynote speech dalam ajang Jogja Brand and Business Awards 2026 di Royal Ambarrukmo, Rabu (15/7/2026)./ Harian Jogja

Pesan Sultan HB X di JBBA 2026: Bisnis Harus Berbasis Kepercayaan, Bukan Sekadar Transaksi

JOGJA—Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan pentingnya membangun bisnis berbasis nilai dan kepercayaan dalam era ekonomi modern. Hal itu ia sampaikan saat menjadi keynote speech dalam ajang Jogja Brand and Business Awards 2026 di Royal Ambarrukmo, Rabu (15/7/2026).

Dalam pidatonya, Sultan mengangkat filosofi Jawa “Tunâ Satak, Bathi Sanak” yang berarti rugi sedikit materi namun untung mendapat saudara. Menurutnya, prinsip tersebut bukan sekadar perhitungan ekonomi, melainkan fondasi relasi jangka panjang dalam dunia usaha.

“Ini bukan kalkulasi akuntansi biasa, tetapi filosofi bisnis yang menempatkan hubungan di atas transaksi,” ujar Sultan.
Ia menjelaskan, pedagang Jawa sejak dahulu telah menerapkan konsep “penglaris” dengan menanam kepercayaan agar pelanggan kembali. Pendekatan ini membuat pasar tetap hidup dan berkelanjutan.

“Berdagang dengan hati bukan mengejar market share, tetapi heart share,” katanya.

Sultan menambahkan, dari filosofi tersebut lahir keyakinan bahwa “pasar ora ilang kumandange” atau pasar tidak akan kehilangan gaungnya selama masih menjadi ruang bertemunya harapan dan aktivitas ekonomi rakyat.

Di tengah perkembangan digital, Sultan menilai nilai-nilai tersebut tetap relevan. Ia menekankan pentingnya falsafah “Hamemayu Hayuning Bawana” sebagai pedoman dalam memanfaatkan teknologi, termasuk di sektor keuangan digital.

“Setiap kemajuan harus diukur: apakah menyejahterakan sesama atau hanya memperkaya sebagian,” ujarnya.

Menurutnya, teknologi keuangan saat ini merupakan bentuk modern dari prinsip “Tunâ Satak, Bathi Sanak”. Contohnya terlihat pada strategi diskon platform digital atau perluasan pasar bagi pelaku usaha kecil.

“Dahulu dengan senyum dan potongan harga, sekarang dengan algoritma dan QRIS. Esensinya sama,” kata Sultan.

Lebih lanjut, Sultan menegaskan bahwa pengembangan UMKM di DIY kini mengarah pada paradigma “Local Value for Money”. UMKM bukan sekadar pelengkap, melainkan tulang punggung ekonomi daerah.

Ia menyebut keunggulan UMKM DIY terletak pada adaptasi produk lokal, rantai pasok berbasis daerah, serta kualitas yang lahir dari warisan budaya.
Dalam konteks kebijakan, Pemda DIY juga memperkuat ekosistem melalui platform SiBakul DIY yang menghubungkan UMKM dengan pasar, termasuk pengadaan pemerintah.

“SiBakul menjadi ruang kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. Produk lokal seperti batik dan kuliner mendapat kepastian pasar,” jelasnya.

Menurut Sultan, langkah tersebut merupakan wujud nyata implementasi “Tunâ Satak, Bathi Sanak” dalam skala kebijakan, di mana negara berinvestasi pada produk lokal demi keberlanjutan ekonomi rakyat.

Di akhir pidatonya, Sultan menitipkan pesan kepada pelaku usaha dan pemimpin korporasi untuk tetap berpegang pada nilai-nilai luhur dalam menjalankan bisnis.

“Bangunlah bisnis dengan hati. Keuntungan sejati bukan hanya di neraca, tetapi yang tertanam dalam kepercayaan rakyat dan mengalir kembali ke desa,” tandasnya. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online