Berorientasi Produksi, Daya Saing Jadi Tantangan Utama

Media Digital
Media Digital Rabu, 15 Juli 2026 11:52 WIB
Berorientasi Produksi, Daya Saing Jadi Tantangan Utama

Suasana pelatihan peningkatan kapasitas pelaku UMKM./ Harian Jogja - Andreas Yuda Pramono

SLEMAN-Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Desa Preneur Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Sleman saat ini masih berorientasi pada produksi (supply side oriented). Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan utama dalam meningkatkan daya saing produk di tengah persaingan pasar yang semakin ketat dan melemahnya daya beli masyarakat.

Dosen Sekolah Pascasarjana UGM, Duddy Roesmara Donna, mengatakan Desa Preneur merupakan bagian dari program Desa Mandiri Budaya yang memiliki tiga tahapan pengembangan, yakni penumbuhan, pengembangan, dan maju.

Program Desa Preneur menjadi salah satu bukti komitmen Pemda DIY dalam penguatan dan pengembangan potensi ekonomi lokal, khususnya UMKM berbasis kalurahan. Dia mengatakan Purwobinangun kini telah memasuki tahun ketiga atau tahap maju dengan fokus membangun sistem pemasaran bersama bagi para pelaku usaha.

“Mayoritas Desa Preneur itu masih supply side oriented. Mereka menjual apa yang bisa diproduksi, bukan memproduksi apa yang dibutuhkan pasar. Karena itu peningkatan daya saing menjadi sangat penting,” kata Duddy yang juga mitra Dinas Koperasi dan UKM (Diskop UKM) DIY untuk Desa Preneur Model Kiblat Papat Limo Pancer Adiluhung Kawentar (K45PAK), Selasa (14/7).

Pelatihan tahap maju tersebut berlangsung selama tiga hari. Hari pertama diisi materi inovasi produk, kontrak bisnis, dan peningkatan daya saing produk. Hari kedua membahas analisis pemasaran serta pemasaran digital melalui lokapasar dan media sosial.

Sementara hari ketiga difokuskan pada penyusunan struktur organisasi, standar operasional prosedur (SOP), hingga analisis kebutuhan modal dan studi kelayakan usaha.

Duddy menjelaskan, peningkatan daya saing tidak cukup hanya berfokus pada kualitas produk maupun kemasan. Pelaku UMKM juga harus memahami kondisi persaingan usaha secara menyeluruh, mulai dari tingkat kompetisi, posisi tawar pemasok dan pembeli, karakteristik konsumen, hingga ancaman produk substitusi dan pemain baru.

Diakuinya banyak pelaku usaha merasa produknya sudah kompetitif ketika dipasarkan di tingkat desa. Akan tetapi saat memasuki pasar yang lebih luas, persaingan menjadi jauh lebih berat.

“Usaha-usaha di sini mayoritas masih baru dan berskala mikro. Karena itu isu daya saing menjadi sangat krusial, terlepas bagaimana kondisi perekonomian saat ini,” katanya.

Penurunan Daya Beli

Duddy juga menyoroti kondisi perekonomian nasional yang berdampak pada daya beli masyarakat. Menurutnya, penurunan daya beli dapat mengurangi daya saing produk meskipun pasokan bahan baku masih tersedia.

Selain itu, keberadaan banyak pemasok bahan baku justru dapat menjadi keuntungan bagi industri pengolahan. Sebagai contoh, semakin banyak sentra produksi salak di berbagai daerah akan memperkuat keberlanjutan usaha olahan salak karena ketersediaan bahan baku lebih terjamin.

Persoalan budi daya maupun penyusutan lahan komoditas pertanian merupakan ranah teknis sektor pertanian. Sementara dari sisi kewirausahaan, yang paling penting adalah memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku dan memperkuat strategi pemasaran agar produk mampu bersaing di pasar yang lebih luas. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online