Menperin Lepas Ribuan Talenta Industri Siap Kerja Berkompetensi Global
Menperin melepas 2.369 lulusan SMK Kemenperin. Sebanyak 63,7 persen telah bekerja di berbagai perusahaan manufaktur nasional.
Peserta berfoto bersama narasumber talkshow Job Fair Jogja 2026 di LPP Agro Nusantara, Kamis (16/7)./ Harian Jogja/Ariq Fajar Hidayat
JOGJA - Perencanaan karier tidak lagi bisa dimulai setelah seseorang lulus sekolah atau kuliah. Di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat, pelajar dan mahasiswa didorong mulai mengenali potensi, minat, hingga perusahaan yang ingin dituju sejak masih menempuh pendidikan.
Pesan tersebut mengemuka dalam talkshow Job Fair Jogja 2026 di LPP Agro Nusantara, Kamis (16/7). Kepala Divisi Pengembangan Karier Universitas Islam Indonesia (UII), Lifthya Ahadiati Akmala, mengatakan banyak lulusan baru memikirkan karier setelah wisuda, padahal langkah itu sudah terlambat.
Menurutnya, perencanaan karier idealnya dimulai sejak awal pendidikan. Karena itu, pelajar maupun mahasiswa yang sudah mengikuti kegiatan terkait dengan dunia kerja dinilai memiliki keuntungan karena lebih cepat mengenali arah profesinya.
"Kalau baru menentukan karier setelah lulus, itu sudah terlambat. Mestinya karier dipersiapkan dari awal," kata Lifthya, Kamis.
Ia menjelaskan, perkembangan dunia kerja juga mengubah cara generasi muda memilih pekerjaan. Jika sebelumnya faktor gaji menjadi pertimbangan utama, kini Generasi Z turut memperhatikan kesesuaian pekerjaan dengan identitas diri, peluang berkembang, fleksibilitas kerja hingga budaya perusahaan.
"Anak-anak muda sekarang tidak hanya bertanya gajinya berapa. Mereka juga ingin tahu apakah tempat kerja itu sesuai dengan dirinya dan bisa membuat mereka berkembang," kata dia.
Perubahan tersebut membuat fungsi pusat pengembangan karier atau career center ikut berkembang. Menurut Lifthya, layanan tersebut kini tidak sekadar mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan, tetapi juga menyediakan konseling karier agar calon pekerja mampu memahami potensi dan menentukan pilihan yang tepat.
Dosen Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Luqman Tifa Perwira, mengatakan persiapan teknis juga menentukan keberhasilan seseorang saat mengikuti proses rekrutmen. Berdasarkan pengalamannya sebagai praktisi human resources (HR), banyak pelamar gagal bukan karena kemampuan, tetapi karena kurang siap menghadapi wawancara.
Luqman menambahkan, pelamar kerja juga perlu aktif mencari informasi mengenai perusahaan yang dilamar, memahami posisi yang dituju, serta melatih kemampuan berkomunikasi dan menyampaikan pengalaman secara percaya diri saat wawancara.
Menurutnya, kesiapan tersebut akan membantu pelamar menunjukkan kompetensi yang dimiliki sekaligus meningkatkan peluang diterima bekerja. Melalui kegiatan Job Fair Jogja 2026, diharapkan pelajar, mahasiswa, dan pencari kerja memperoleh wawasan yang lebih luas mengenai perencanaan karier serta semakin siap menghadapi kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.(Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Menperin melepas 2.369 lulusan SMK Kemenperin. Sebanyak 63,7 persen telah bekerja di berbagai perusahaan manufaktur nasional.
Wamenkomdigi Nezar Patria menegaskan layanan digital pemerintah wajib ramah disabilitas agar seluruh warga mendapat akses informasi publik.
Pertamina mencatat konsumsi Pertalite dan Biosolar naik setelah penyesuaian harga BBM nonsubsidi, sementara penjualan Pertamax Series turun 18%.
Menhut Raja Juli Antoni mendorong perdagangan karbon sebagai sumber investasi swasta untuk penanaman dan restorasi hutan.
Sebanyak 60 siswa asal Temanggung akan mengikuti Sekolah Rakyat di Wonosobo karena gedung permanen di Temanggung belum selesai dibangun.
Kaspersky mengungkap promosi judi online kini memanfaatkan bot, akun media sosial palsu, dan spam komentar sehingga lebih sulit dideteksi.