Berawal dari Mangrove, Kano Maritim Baros Kini Gerakkan Ekonomi
Kawasan pesisir Baros di Kalurahan Tirtohargo, Kapanewon Kretek, yang dulu dikenal sepi kini berubah menjadi salah satu destinasi wisata alam yang ramai dikunju
Pengunjung menaiki kano di kawasan wisata Kano Maritim Baros, belum lama ini./ Istimewa
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
BANTUL - Kawasan pesisir Baros di Kalurahan Tirtohargo, Kapanewon Kretek, yang dulu dikenal sepi kini berubah menjadi salah satu destinasi wisata alam yang ramai dikunjungi.
Di balik kepopuleran wahana wisata Kano Maritim Baros, tersimpan proses panjang yang berawal dari upaya pelestarian lingkungan hingga akhirnya berkembang menjadi destinasi wisata berbasis masyarakat yang menggerakkan perekonomian warga.
Kepala Bidang Perencanaan dan Pengendalian Urusan Keistimewaan Paniradya Kaistimewan DIY, Tri Agus Nugroho, mengatakan keberhasilan Kano Maritim Baros tidak lahir begitu saja. Menurutnya, pengembangan kawasan tersebut diawali dari konservasi hutan mangrove yang mampu menghidupkan kembali ekosistem pesisir.
"Kalau bicara Kano Baros itu harus bicara sebelumnya dulu sebenarnya. Kano Baros itu bukan ending-nya. Awalannya justru pelestarian lingkungan," kata Tri Agus dalam gelar wicara Rembag Kaistimewan berjudul Dari Pesisir yang Sepi, Lahir Wisata yang Hidup Kisah Sukses Kano Maritim Baros, yang ditayangkan di kanal Youtube Paniradya Kaistimewan, Kamis (16/7).
Dia menjelaskan keberadaan mangrove di pesisir selatan Pulau Jawa menjadi modal penting karena mampu menciptakan habitat bagi berbagai satwa, terutama burung, kepiting hingga biota lain yang hidup di kawasan estuari. Dari keberhasilan konservasi itulah kemudian muncul berbagai aktivitas wisata yang tetap berpijak pada kelestarian alam.
Menurut Agus, konsep maritim tidak hanya identik dengan aktivitas perikanan. Potensi konservasi, wisata alam hingga edukasi lingkungan juga menjadi bagian penting dari pengembangan kawasan tersebut. Karena itu, Pemda DIY melalui Dana Keistimewaan (Danais) terus memberikan dukungan sejak tahap awal.
Intervensi yang diberikan tidak hanya berupa pengadaan kano, tetapi juga pembangunan gazebo, warung UMKM, perbaikan akses jalan, hingga dukungan terhadap Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) yang mempermudah akses menuju Baros. "Kalau bicara infrastruktur, sebenarnya sudah cukup lengkap. Aksesibilitas ada, amenitas dibangun, pelatihan juga diberikan. Tinggal bagaimana masyarakat mengembangkan potensi yang sudah ada," katanya.
Selain itu, pengelolaan wisata juga memperhatikan aspek keselamatan pengunjung. Seluruh wisatawan diwajibkan mengenakan pelampung dan didampingi petugas saat menikmati aktivitas berkano.
Perubahan Drastis
Sementara itu, Lurah Tirtohargo, Sugiyamto mengakui kondisi wilayahnya jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Sebelum dikenal sebagai destinasi wisata, mayoritas warga menggantungkan hidup dari sektor pertanian, nelayan, dan peternakan. "Wilayah Tirtohargo itu dulu benar-benar sepi. Aktivitas masyarakat hanya bertani, mencari rumput, atau melaut," ujarnya.
Perubahan mulai terjadi ketika Tirtohargo ditetapkan sebagai Kalurahan Maritim pada 2021. Setahun kemudian, pemerintah kalurahan memperoleh dukungan Danais sebesar Rp750 juta yang kemudian dimanfaatkan untuk merintis wisata berbasis bahari.
Dana tersebut, kemudian digunakan membeli perahu wisata, 14 unit kano, membangun gazebo, fasilitas UMKM, kawasan kuliner hingga Born Hargo yang kini dimanfaatkan sebagai lokasi outbound sekaligus pusat edukasi pengurangan risiko bencana.
“Seluruh fasilitas tersebut dikelola oleh Badan Usaha Milik Kalurahan [BumKal] Tirtohargo, sehingga manfaat ekonominya langsung dirasakan masyarakat,” kata dia.
Pengelola Kano Maritim Baros, Ari Saputro, menuturkan ide menghadirkan wisata kano muncul dari keinginan warga menjaga ekosistem mangrove tanpa menghadirkan kendaraan bermesin yang berpotensi mengganggu habitat satwa.
Saat pertama kali dibuka pada 7 Agustus 2022, pengunjung masih sangat sedikit. Situasi berubah setelah sejumlah konten mengenai Kano Maritim Baros viral di media sosial. "Awalnya sepi. Lalu ada teman yang membuat konten dan viral. Akhir Desember 2022 ada lagi video yang ditonton lebih dari dua juta kali. Setelah itu pengunjung membeludak," kata dia.
Hal itu pun berdampak positif bagi perekonomian masyarakat. Jika pada awal pembukaan hanya empat hingga lima orang yang terlibat mengelola wisata, kini hampir 30 warga ikut bekerja di kawasan tersebut. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kawasan pesisir Baros di Kalurahan Tirtohargo, Kapanewon Kretek, yang dulu dikenal sepi kini berubah menjadi salah satu destinasi wisata alam yang ramai dikunju
Kemenhub masih menunggu perubahan regulasi agar Bandara IKN berstatus bandara umum dan dapat melayani penerbangan komersial.
BPPTKG belum merekomendasikan pembukaan pendakian Gunung Merapi karena ancaman awan panas, erupsi, dan lontaran material masih tinggi.
Pengelolaan arsip yang tertib dan autentik dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk mempersempit celah penyimpangan anggaran di lingkungan pemerintahan
Kecelakaan di Tol Malang-Pandaan KM 72/B menewaskan lima penumpang Honda CRV usai menghantam truk Fuso yang mogok di bahu jalan.
Di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat, pelajar dan mahasiswa didorong mulai mengenali potensi, minat, hingga perusahaan yang ingin dituju