Festival Babad Siti Kemantren Didorong Jadi Penggerak Wisata Berbasis Kampung

Media Digital
Media Digital Senin, 31 Agustus 2026 16:42 WIB
Festival Babad Siti Kemantren Didorong Jadi Penggerak Wisata Berbasis Kampung

Pengunjung menikmati kuliner yang dipasarkan pada Festival Babad Siti Kemantren di Klenteng Poncowinatan, Senin (31/8/2026)./ Harian Jogja - Stefani Yulindriani

JOGJA – Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja mendorong Festival Babad Siti Kemantren tidak berhenti sebagai kegiatan pelestarian sejarah, tetapi berkembang menjadi penggerak wisata berbasis kampung. Potensi sejarah, kuliner, budaya, hingga cerita lisan di setiap wilayah dinilai dapat menjadi daya tarik baru di luar kawasan Malioboro.

Wakil Wali Kota Jogja Wawan Harmawan mengatakan pengembangan potensi kewilayahan menjadi salah satu cara untuk memperluas destinasi wisata di Kota Jogja. Menurutnya, setiap kampung memiliki khazanah budaya dan sejarah yang dapat dikemas menjadi pengalaman wisata.

“Jogja itu city of tolerance, Jogja kota budaya. Kalau kita kembangkan wisata dan kebudayaan, kita eksplor kembali seperti di tempat ini,” katanya dalam pembukaan Festival Babad Siti Kemantren, Senin (31/8/2026).

Ia menilai kawasan yang dijelajahi dalam kegiatan tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata kewilayahan. Selain sejarah, masyarakat juga dapat mengenalkan kuliner dan kehidupan kampung kepada wisatawan.

“Kalau ini lebih digarap lebih serius dan bagaimana menjadi satu destinasi wisata, saya sangat yakin Jogja ke depan sangat-sangat diminati orang. Jadi kunjungan tidak hanya ke Malioboro, tetapi orang ingin mengeksplor kembali lebih dalam tentang Jogja,” ujarnya.

Wawan menekankan pengembangan wilayah tersebut harus dilakukan secara konkret dan berkelanjutan. Ia berharap potensi budaya yang telah ditemukan melalui Festival Babad Siti Kemantren dapat ditindaklanjuti melalui penataan kawasan maupun pengembangan kegiatan budaya.

Ia juga mendorong agar kawasan Gondokusuman hingga Ketandan dapat dikembangkan sebagai bagian dari ruang budaya yang mencerminkan keberagaman Jogja. Salah satunya dengan menghidupkan kawasan tersebut saat perayaan Imlek.

“Kami ingin nanti suasana Imlek tidak hanya di Ketandan, tetapi dari Cokrodiningratan bisa sampai ke Ketandan dan jalan ini dihias. Kita tidak boleh kalah dengan kota-kota yang lain,” katanya.

Selain penataan kawasan, Wawan meminta kegiatan kebudayaan di tingkat kemantren memiliki dampak nyata bagi masyarakat. Festival tidak boleh hanya menjadi kegiatan seremonial yang selesai setelah acara berakhir.

“Acara ini sangat bagus. Tapi harapan kami jangan hanya jadi tempelan. Saya bikin festival-festival acara, tapi harus ada dampaknya. Dampak kepada masyarakat dan bagaimana adik-adik nanti ini bisa tahu,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Jogja Yetti Martanti mengatakan Festival Babad Siti Kemantren menjadi salah satu upaya untuk menggali kembali sejarah lokal yang hidup di tengah masyarakat.

Menurutnya, identitas budaya Jogja berakar kuat pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Hal itu tercermin melalui adat, tradisi, pengetahuan lokal, teknologi tradisional, arsitektur, kuliner, tekstil, hingga ritual masyarakat.

“Keistimewaan Jogja adalah identitas hidup yang terus dirawat oleh masyarakatnya,” katanya.

Ia mengatakan kampung-kampung di Kota Jogja masih menyimpan banyak cerita lisan dan sejarah lokal yang belum terdokumentasikan. Narasi tersebut dinilai penting karena memberikan warna lokal dan perspektif yang memperkaya sejarah Kota Jogja.

Namun, cerita lisan juga perlu ditelaah agar tidak berhenti sebagai mitos atau cerita turun-temurun tanpa validasi.

“Cerita lisan memiliki tantangan tersendiri agar tuturan ini tidak sekadar menjadi mitos atau cerita pengantar tidur. Kita memerlukan pembuktian, validasi data dan telaah akademis yang mendalam,” ujarnya.

Karena itu, Festival Babad Siti Kemantren melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, komunitas sejarah, wilayah, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat merawat ingatan kolektif sekaligus mengemas sejarah lokal agar lebih mudah diterima generasi muda.

Memasuki penyelenggaraan tahun keempat, Festival Babad Siti Kemantren dikemas melalui berbagai kegiatan, di antaranya Jelajah Budaya di 14 kemantren dan lokakarya. Sejarah lokal tidak hanya disajikan dalam bentuk dokumentasi, tetapi diubah menjadi pengalaman budaya yang dapat dinikmati masyarakat.

“Festival Babad Siti Kemantren membuka ruang baru bagi masyarakat untuk mengenal kembali akar historisnya dengan cara yang lebih menyenangkan dan mudah diakses siapa pun,” katanya.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi fondasi untuk membangun kebanggaan lokal sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat.

“Ke depannya kami berharap Babad Siti Kemantren ini dapat mendorong terciptanya ekosistem kebudayaan di Kota Jogja, dari unsur terkecil yaitu kampung-kampung yang ada di kemantren, yang mandiri, berdaya saing dan berkesinambungan,” ujarnya.

Festival Babad Siti Kemantren tahun ini digelar serentak pada 31 Agustus 2026, bertepatan dengan Hari Keistimewaan. Pemkot Jogja berharap komunitas dan masyarakat di masing-masing wilayah turut mengaktivasi berbagai potensi yang telah digali sehingga gerakan kebudayaan tidak berhenti setelah festival selesai.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online