Usung Tema Global Talent, SV UGM Pamerkan Lompatan Kinerja Lima Tahun Terakhir
Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) menguatkan langkah menuju standar internasional pada puncak perayaan Dies Natalis ke-17 yang digelar di Gedung T
Arsitektur bukan sekadar persoalan bentuk dan tampilan bangunan. Cara seseorang bergerak, memperhatikan lingkungan, hingga merasakan suasana dalam sebuah ruang juga dapat dipengaruhi oleh rancangan arsitektur yang mengelilinginya.
SLEMAN— Arsitektur bukan sekadar persoalan bentuk dan tampilan bangunan. Cara seseorang bergerak, memperhatikan lingkungan, hingga merasakan suasana dalam sebuah ruang juga dapat dipengaruhi oleh rancangan arsitektur yang mengelilinginya.
Pemahaman tersebut menjadi dasar pengembangan Garrya Bianti Yogyakarta di Desa Gabugan, Sleman, Yogyakarta. Resor ini menghubungkan filosofi Jawa, material alami, dan karakter lanskap melalui rancangan yang terinspirasi dari Candi Sukuh serta arsitektur bersejarah Kotagede.
Warisan budaya tersebut tidak dihadirkan dengan menyalin bentuk bangunan masa lalu. Unsur arsitektur dan filosofi Jawa justru ditafsirkan kembali melalui pendekatan kontemporer yang mempertimbangkan topografi serta kondisi lingkungan setempat.
Dalam rancangan ini, pengalaman seseorang ketika berada di dalam ruang memiliki kedudukan yang sama pentingnya dengan bentuk fisik bangunan. Ketenangan menjadi prinsip utama, sementara arsitektur berfungsi menghadirkan kesempatan untuk merenung, memperbarui diri, dan memperoleh perspektif yang lebih luas.
Filosofi Candi Sukuh dalam Pengalaman Beristirahat
Salah satu inspirasi utama Garrya Bianti Yogyakarta berasal dari Candi Sukuh di lereng barat Gunung Lawu. Candi Jawa dari abad ke-15 tersebut dikenal melalui susunan teras bertingkat dan bentuk bangunannya yang berundak.

Di balik karakter arsitekturnya, relief Candi Sukuh menyimpan kisah spiritual serta gambaran kepercayaan budaya masyarakat pada masanya. Salah satunya adalah kisah Sudamala yang menggambarkan perjalanan Sadewa membebaskan Dewi Durga dari kutukan hingga kembali menjadi Dewi Uma.
Kisah tersebut berkaitan dengan tradisi ruwatan dalam budaya Jawa, yakni ritual penyucian dan pembebasan dari kesialan atau kemalangan. Transformasi dalam cerita Sudamala menjadi gambaran mengenai pembaruan diri melalui proses melepaskan beban dan memasuki keadaan yang berbeda.
Filosofi inilah yang menjadi salah satu landasan konsep Garrya Bianti Yogyakarta. Resor tersebut tidak bermaksud menghadirkan kembali ritual ruwatan ataupun menyamakan fungsinya dengan Candi Sukuh, tetapi menerjemahkan gagasan pembaruan diri menjadi pengalaman arsitektural.
Dalam kehidupan modern, kesempatan untuk merenung sering kali terbatas. Istirahat pun kerap dipandang hanya sebagai jeda sebelum seseorang kembali menjalani berbagai tuntutan aktivitas sehari-hari.
Padahal, memperlambat ritme kehidupan dapat memberikan kesempatan untuk melihat persoalan dari sudut pandang berbeda. Kejernihan pikiran dan hubungan kembali dengan hal-hal yang dianggap penting menjadi bagian dari gagasan tersebut.
Melalui penataan ruang, penggunaan material, dan keterhubungan dengan lanskap, Garrya Bianti Yogyakarta dirancang untuk mendukung pengalaman beristirahat semacam itu. Tamu memiliki ruang untuk meninggalkan rutinitas sementara waktu dan menemukan cara pandang baru.
Karena itu, ketenangan tidak hanya diperlakukan sebagai suasana yang dihasilkan bangunan. Ketenangan menjadi tujuan yang mendasari keseluruhan pendekatan desain resor.
Jejak Kotagede dalam Material Bangunan
Selain Candi Sukuh, identitas arsitektur Garrya Bianti Yogyakarta juga memiliki hubungan dengan Kotagede. Kawasan yang pernah menjadi pusat Kesultanan Mataram tersebut dikenal melalui bangunan bersejarah, tradisi kerajinan, serta penggunaan batu bata terakota.
Jika Candi Sukuh memberikan landasan filosofis, Kotagede menjadi rujukan dalam pemilihan material. Penggunaan terakota di resor ini menghadirkan karakter warna tanah dan tekstur permukaan yang berkaitan dengan warisan arsitektur Yogyakarta.
Material tersebut bukan sekadar pelengkap dekorasi. Warna, tekstur, dan karakter permukaannya menjadi bagian dari identitas bangunan sekaligus membangun hubungan dengan lanskap budaya di luar kawasan resor.
Melalui pendekatan ini, warisan lokal tidak hanya diterjemahkan menjadi motif atau ornamen visual. Pemahaman mengenai karakter material justru menjadi dasar untuk menghadirkan arsitektur kontemporer yang tetap menghargai jejak sejarah daerah.
Hasilnya bukan tiruan langsung bangunan bersejarah Kotagede, melainkan penafsiran baru terhadap warisan material yang telah menjadi bagian dari karakter arsitektur Yogyakarta.
Punden Berundak dan Bangunan yang Mengikuti Kontur Tanah
Hubungan antara arsitektur dan lingkungan juga terlihat pada komposisi bangunan Garrya Bianti Yogyakarta yang bertingkat. Rancangan tersebut mengambil inspirasi dari punden berundak, bentuk bangunan berteras yang dikenal dalam lanskap budaya Nusantara.
Konsep ini menempatkan perbedaan ketinggian dan karakter lahan sebagai bagian penting dalam perancangan. Kontur tanah tidak dianggap sebagai hambatan yang harus dihilangkan dengan meratakan permukaan lahan.
Sebaliknya, bentuk bangunan disesuaikan dengan kondisi tanah sehingga tercipta rangkaian tingkatan dan peralihan ruang. Penataan tersebut memungkinkan kawasan resor memiliki hubungan yang lebih alami dengan lingkungan sekitarnya.
Penerapan gagasan itu juga tampak pada bentuk trapesium setiap vila. Geometri bangunan tersebut merupakan penafsiran terhadap susunan bertingkat yang menjadi dasar konsep arsitektur secara keseluruhan.
Bentuk khas masing-masing vila membangun kesatuan bahasa desain dengan komposisi kawasan resor. Pada saat bersamaan, rancangan tersebut tetap mempertimbangkan hubungan bangunan dengan karakter lahan.
Dengan demikian, bentuk arsitektur tidak ditentukan semata-mata oleh pertimbangan visual. Kondisi tanah turut memengaruhi rancangan bangunan, sedangkan bangunan membentuk cara seseorang menikmati lanskap.
Pengalaman Beristirahat di Dalam Vila
Hubungan antara ruang dan pengalaman manusia menjadi lebih personal ketika memasuki bagian dalam vila. Perhatian terhadap arsitektur tidak lagi terbatas pada bentuk keseluruhan bangunan, tetapi beralih pada berbagai detail material dan penataan ruang.
Batu alam, kayu, kain, tembaga, serta unsur alami lainnya dipadukan melalui variasi warna, tekstur, dan sentuhan akhir. Perbedaan karakter material tersebut menjadi bagian dari pengalaman ketika seseorang berada di dalam vila.
Serat kayu, permukaan batu pada bak mandi, warna tembaga pada lampu di samping tempat tidur, hingga tekstur kain merupakan detail yang dapat diamati secara lebih dekat. Setiap unsur memiliki peran dalam membentuk karakter ruang.
Pada kamar mandi dan area meja rias, penggunaan ubin keramik hitam-putih menghadirkan makna tambahan. Pola tersebut mengambil inspirasi dari konsep visual poleng dalam budaya Jawa yang menggambarkan dualitas kehidupan melalui perbedaan warna gelap dan terang.
Kontras warna itu tidak dimaknai sebagai dua kekuatan yang harus saling meniadakan. Sebaliknya, perbedaan tersebut menunjukkan bahwa berbagai unsur dapat hadir berdampingan dan membentuk keseimbangan.
Detail material tidak dirancang untuk saling mendominasi perhatian. Karakter ruang justru dapat dikenali secara bertahap melalui pengalaman seseorang selama berada di dalamnya.
Keterhubungan dengan lingkungan luar turut menjadi bagian penting dalam penataan vila. Pintu geser berukuran lebar membuka pandangan langsung ke lanskap sekitar sehingga jangkauan visual tidak berhenti pada batas interior bangunan.
Melalui bukaan tersebut, cahaya alami, perubahan cuaca, dan dinamika lanskap menjadi bagian dari pengalaman selama beristirahat. Hubungan antara ruang dalam dan luar pun tetap terjaga.
Di sisi vila, kolam berendam pribadi memperkuat keterkaitan tersebut. Permukaan air memantulkan perubahan cahaya sekaligus menghadirkan unsur alami ke dalam lingkungan hunian.
Kolam itu tidak hanya ditempatkan sebagai fasilitas tambahan. Keberadaannya menjadi bagian dari hubungan antara interior, ruang terbuka, dan lanskap di sekitar bangunan.
Pendekatan ini berangkat dari gagasan bahwa beristirahat dapat memberikan kesempatan untuk memperhatikan lebih banyak hal. Ketika tidak terburu-buru menghadapi aktivitas berikutnya, seseorang memiliki ruang untuk memperoleh perspektif yang lebih luas.
Arsitektur mendukung pengalaman tersebut melalui keterbukaan ruang, detail material, dan hubungan berkelanjutan dengan lingkungan. Vila pun dirancang bukan hanya sebagai tempat tidur, tetapi sebagai ruang yang mempertemukan kenyamanan, pengamatan, dan pembaruan cara pandang.
Kayu Ulin Bekas Kapal Mendapat Fungsi Baru
Selain mengangkat warisan budaya, pemilihan material di Garrya Bianti Yogyakarta turut mempertimbangkan prinsip keberlanjutan. Salah satu penerapannya terlihat pada penggunaan kembali kayu ulin bekas yang sebelumnya dimanfaatkan dalam pembuatan kapal.
Material tersebut memperoleh fungsi baru sebagai bagian dari bangunan resor. Pendekatan ini menunjukkan bahwa sumber daya yang telah digunakan masih dapat memiliki nilai tanpa harus selalu digantikan material baru.
Penggunaan ulang kayu ulin juga mempertahankan karakter khas serta jejak pemanfaatannya pada masa lalu. Dengan demikian, material tidak hanya dinilai berdasarkan fungsi barunya, tetapi juga berdasarkan riwayat penggunaannya.
Kayu ulin dikenal memiliki daya tahan tinggi. Ketika dimanfaatkan kembali, material tersebut membawa sejarah penggunaan sebelumnya ke dalam lingkungan arsitektur yang berbeda.
Hubungan antara fungsi lama dan fungsi baru itu menjadi bagian dari pendekatan desain yang memperhatikan penggunaan sumber daya. Material yang masih layak dimanfaatkan dapat dipertahankan, dialihfungsikan, dan digunakan kembali.
Prinsip keberlanjutan dalam rancangan ini tidak hanya berkaitan dengan pemilihan bahan bangunan baru. Pemanfaatan sumber daya yang telah tersedia juga menjadi bagian dari pertimbangan arsitektur.
Ruang Semi-Terbuka dan Kedekatan dengan Sungai Denggung
Sebagian besar lingkungan Garrya Bianti Yogyakarta dirancang menggunakan konsep semi-terbuka. Pendekatan ini memungkinkan udara, cahaya, serta perubahan kondisi alam di Desa Gabugan tetap menjadi bagian dari pengalaman tamu.
Peralihan antara ruang tertutup dan terbuka dibuat secara halus. Dengan rancangan tersebut, hubungan dengan lingkungan luar dapat dipertahankan sepanjang hari tanpa sepenuhnya meninggalkan kenyamanan ruang.
Keterbukaan ini menjadi salah satu karakter utama resor. Lanskap tidak hanya dinikmati melalui pandangan dari dalam bangunan, tetapi juga melalui pergerakan udara, perubahan cahaya, serta kedekatan dengan tumbuhan dan air.
Rancangan kawasan turut mempertimbangkan ekosistem yang telah ada. Lingkungan tidak semata-mata dipandang sebagai lahan pembangunan, melainkan sebagai ruang yang memiliki hubungan ekologis, pola alami, dan karakter tersendiri.
Karena itu, desain resor berupaya menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan tanpa melakukan perubahan yang tidak diperlukan. Hubungan antara bangunan dan alam menjadi bagian dari proses perancangan.
Salah satu unsur penting dalam lanskap tersebut adalah Sungai Denggung. Keberadaannya memengaruhi hubungan resor dengan lingkungan sekaligus menjadi acuan alami dalam orientasi bangunan dan pengalaman ruang.
Sungai Denggung tidak hanya ditempatkan sebagai latar pemandangan. Sungai tersebut dipandang sebagai bagian dari identitas kawasan yang turut membentuk karakter tempat.
Melalui pendekatan itu, arsitektur dan lanskap dirancang sebagai satu kesatuan. Kondisi alam memiliki peran dalam menentukan pengalaman seseorang ketika berada di kawasan resor.
Memaknai Kembali Istirahat melalui Arsitektur
Keseluruhan rancangan Garrya Bianti Yogyakarta memperlihatkan hubungan antara inspirasi budaya, penggunaan material, kondisi lahan, dan pengalaman beristirahat. Candi Sukuh serta Kotagede tidak hanya menjadi rujukan bentuk visual, tetapi juga mendasari pendekatan arsitektur resor.
Filosofi Candi Sukuh menghadirkan gagasan pembaruan diri, sedangkan Kotagede menghubungkan bangunan dengan warisan material lokal. Keduanya dipadukan dengan penataan bangunan bertingkat yang mengikuti kontur tanah.
Penggunaan kembali kayu ulin memberikan fungsi baru kepada material lama, sementara ruang semi-terbuka menjaga keterhubungan dengan lingkungan. Seluruh pendekatan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi pengalaman yang lebih personal di dalam vila.
Tekstur alami memberikan kesempatan untuk memperhatikan detail material. Bukaan lebar memperluas pandangan, sedangkan lanskap sekitar menjadi bagian dari pengalaman beristirahat.
Melalui berbagai unsur itu, arsitektur tidak harus mengandalkan bentuk yang berlebihan atau mendominasi lingkungan untuk menghadirkan makna. Hubungan dengan alam, karakter material, dan pengalaman manusia dapat menjadi bagian penting dari nilai sebuah bangunan.
Di Garrya Bianti Yogyakarta, gagasan tersebut diwujudkan melalui ruang untuk merenung, menghargai karakter tempat, serta memperoleh sudut pandang yang lebih luas.
Pada akhirnya, konsep arsitektur resor ini menempatkan istirahat bukan sekadar keadaan ketika seseorang berhenti beraktivitas. Beristirahat juga dipahami sebagai kesempatan untuk memperbarui diri. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) menguatkan langkah menuju standar internasional pada puncak perayaan Dies Natalis ke-17 yang digelar di Gedung T
Pengalihan arus lalu lintas diberlakukan saat demo di Jogja, Rabu 28 Oktober 2026. Simak titik rekayasa jalan dan jalur alternatifnya.
Kemnaker memverifikasi mitra Magang Nasional Batch 3 hingga 30 Oktober 2026. Simak jadwal lowongan, pendaftaran, seleksi, dan mulai magang.
Pemkab Sleman mengimbau orang tua mengawasi anak agar tetap belajar dan tidak terlibat mobilisasi massa menjelang isu demo 28 Oktober 2026.
Arsitektur bukan sekadar persoalan bentuk dan tampilan bangunan. Cara seseorang bergerak, memperhatikan lingkungan, hingga merasakan suasana dalam sebuah ruang
Mahasiswa UJB dan UNY mempelajari pengolahan sampah plastik residu menjadi bahan bakar cair dan briket di Bank Sampah Berlian 08, Tompeyan, Jogja.