Advertisement

Kemenangan Judol Jadi Pancingan agar Kecanduan

Media Digital
Rabu, 11 Maret 2026 - 14:07 WIB
Maya Herawati
Kemenangan Judol Jadi Pancingan agar Kecanduan Suasana bedah buku berjudul Menang Sekejap Lost Forever di Perdukuhan Pengkol 2, Kalurahan Jatiayu, Kapanewon Karangmojo, Gunungkidul, Selasa (10/3/2026). Harian Jogja - David Kurniawan

Advertisement

GUNUNGKIDUL—Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY menggelar kegiatan bedah buku di Balai Perdukuhan Pengkol 2, Kalurahan Jatiayu, Kapanewon Karangmojo, Gunungkidul, Selasa (10/3/2026). Adapun judul buku yang dibedah adalah Menang Sekejap Lost Forever.

“Stop dan jauhi main judi online,” kata anggota DPRD DIY, Purwanto, saat menjadi narasumber, Selasa siang.

Advertisement

Menurut dia, judi online (judol) lebih berbahaya ketimbang judi biasa. Pasalnya, sistem yang digerakkan oleh mesin komputer membuat hampir tidak ada celah untuk bisa mengalahkannya.

“Berbeda kalau yang dilawan manusia, bisa lelah. Tetapi kalau mesin, maka tidak akan bisa menang,” katanya.

Purwanto mengungkapkan, kemenangan dalam judol sejatinya sudah diatur sedemikian rupa sebagai bentuk pancingan agar warga menjadi kecanduan untuk bermain terus-menerus.

“Ini harus diberantas karena sudah banyak yang menjadi korban. Harta benda yang dimiliki habis tak tersisa,” katanya.

Menurut dia, judol tidak hanya menghabiskan harta benda, tetapi juga dapat menjerat pemain pada pinjaman online (pinjol). Hal ini terjadi karena pemain sudah kecanduan sehingga ingin terus bermain.

Lantaran modal sudah habis, sebagian orang akhirnya menempuh cara meminjam uang secara online.

“Ujung-ujungnya bisa berutang hingga ratusan juta rupiah. Kalau sudah begini, maka sangat menyengsarakan. Jadi harus ada upaya pencegahan dan warga juga harus ikut berperan karena judi online sudah menjadi penyakit masyarakat yang harus diberantas,” katanya.

Oleh karena itu, melalui bedah buku yang digelar DPAD DIY bersama DPRD DIY, masyarakat diharapkan semakin teredukasi terkait bahaya judol.

“Bedah buku juga menjadi bagian untuk meningkatkan minat baca di masyarakat,” katanya.

Salah seorang peserta bedah buku, Rochmita Sari, mengaku senang dengan kegiatan tersebut. Menurut dia, banyak manfaat yang diperoleh karena menambah wawasan dan pengetahuan.

Sesuai dengan tema buku yang dibedah berkaitan dengan judol, ia mengaku mendapatkan pemahaman baru terkait bahaya perjudian tersebut.

Dia pun sepakat bahwa judol harus diberantas karena sudah memakan banyak korban di lingkungan sekitar rumahnya.

“Sudah sangat meresahkan. Dengan tidak ikut dalam pusaran judol,” kata warga Perdukuhan Pengkol 2 itu.

Pustakawan Ahli Madya Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY, Muhammad Hadi Pranoto, mengatakan tahun ini bedah buku menyasar 200 titik di DIY. Kali ini, kata dia, buku yang dipilih sengaja bertema judol. “Karena kami mendapatkan informasi bahwa ada warga di sini yang terjerat judol,” kata dia.

Diakuinya, upaya meningkatkan literasi di masyarakat bukan tanpa alasan. Melalui membaca buku, diharapkan literasi masyarakat meningkat sehingga muncul pengetahuan dan kesadaran bahwa judol berdampak buruk bagi kehidupan mereka.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Guru PNS di Kota Jogja Jadi Tersangka Pelecehan Siswi SLB

Guru PNS di Kota Jogja Jadi Tersangka Pelecehan Siswi SLB

Jogja
| Rabu, 11 Maret 2026, 15:37 WIB

Advertisement

Piche Kota Jebolan Indonesia Idol Ditahan Polisi Kasus Asusila

Piche Kota Jebolan Indonesia Idol Ditahan Polisi Kasus Asusila

Lifestyle
| Rabu, 11 Maret 2026, 15:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement