JBBA 2026: Menjaga Keseimbangan di Tengah Pertumbuhan

Media Digital
Media Digital Senin, 15 Juni 2026 04:37 WIB
JBBA 2026: Menjaga Keseimbangan di Tengah Pertumbuhan

Komunitas Perempuan Berkebaya Yogyakarta menampilkan pertunjukan tari dan peragaan kain batik di kawasan wisata Malioboro, Kota Jogja, beberapa waktu lalu. Kegiatan tersebut digelar untuk mengampanyekan pelestarian budaya tradisional kepada masyarakat dan wisatawan. - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat

JOGJA-Pertumbuhan ekonomi seharusnya tidak dipandang pada dampak capaian bisnis semata. Sektor lainnya, mulai dari sosial, budaya, hingga lingkungan juga harus turut berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi tersebut.

Atas dasar itulah, Harian Jogja menggelar Jogja Brand and Business Award (JBBA) 2026 sebagai bentuk apresiasi kepada korporasi, lembaga, dan tokoh masyarakat yang dinilai memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan berkelanjutan. Ajang penghargaan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 16 Juli 2026.

Dengan mengusung spirit Hamemayu Hayuning Bawono, diharapkan keseimbangan antara bisnis, sosial, budaya, dan lingkungan itu bisa tercapai.

Pemimpin Redaksi Harian Jogja, Anton Wahyu Prihartono, mengatakan JBBA 2026 dirancang sebagai instrumen untuk mengukur komitmen entitas terhadap keberlanjutan. Menurutnya, dunia usaha maupun birokrasi tidak lagi cukup hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi atau popularitas.

“Nilai keberlanjutan harus hadir secara nyata dalam kebijakan dan aktivitas mereka. Apakah program yang dijalankan memberi manfaat bagi masyarakat, menjaga lingkungan, dan tetap menghormati akar budaya lokal,” ujarnya, Minggu (14/6/2026).

Anton menegaskan filosofi Hamemayu Hayuning Bawono menjadi landasan utama dalam proses penilaian tahun ini. Karena itu, entitas yang dinilai tidak hanya dituntut menghasilkan kinerja ekonomi yang baik, tetapi juga menunjukkan tanggung jawab sosial dan lingkungan secara berkelanjutan.

Sementara itu, Koordinator Tim Riset JBBA 2026, Budi Cahyana, menjelaskan JBBA 2026 dibagi ke dalam tiga klaster utama. Ketiganya meliputi pendidikan, kebudayaan, dan ekonomi berkelanjutan.

Klaster pendidikan menilai kontribusi dalam memperluas akses literasi dan penguatan vokasi. Selain itu, aspek pemerataan teknologi pendidikan juga menjadi perhatian.

Klaster kebudayaan berfokus pada pelestarian dan pengembangan nilai lokal. Penilaian juga mencakup kemampuan menjaga keseimbangan sosial di tengah perubahan.

Sementara itu, klaster ekonomi berkelanjutan menyoroti praktik bisnis ramah lingkungan. Indikatornya meliputi efisiensi energi, pengurangan emisi, dan ekonomi sirkular.

“Untuk menentukan nominee dan pemenangnya, kami memanfatkan upaya digital media monitoring untuk merekam jejak digital kandidat dalam dua tahun terakhir. Dari sana kami mengukur sentimen publik dan dampak riil di masyarakat," kata Budi.

Dia menambahkan pelacakan mencakup pemberitaan media, kepatuhan regulasi, hingga keluhan publik. Hasilnya menjadi dasar untuk memilah entitas yang benar-benar melakukan transformasi.

"Tim riset digerakkan jurnalis berpengalaman yang mampu menguji klaim perusahaan dengan data valid. Setiap penilaian dipastikan berbasis bukti dan statistik yang kuat," ujarnya. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online