BPPTKG: Letusan Merapi Sabtu Pagi Dipicu Akumulasi Gas Vulkanik
Fenomena awan panas letusan Gunung Merapi pada Sabtu (9/11/2019) pagi kembali dipicu tekanan akumulasi gas vulkanik dari dalam gunung, sama dengan letusan pada 14 Oktober 2019.
Fenomena awan panas letusan Gunung Merapi pada Sabtu (9/11/2019) pagi kembali dipicu tekanan akumulasi gas vulkanik dari dalam gunung, sama dengan letusan pada 14 Oktober 2019.
Kepala Pusdatin dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Agus Wibowo mengimbau masyarakat untuk tetap tenang seiring terjadinya erupsi Gunung Merapi di perbatasan DIY-Jawa Tengah pada Sabtu (9/11/2019).
Gunung Merapi yang ada di perbatasan DIY-Jawa Tengah mengalami letusan pada Sabtu (9/11/2019) pagi. Letusan ini menyebabkan hujan abu tipis di sejumlah wilayah di lereng gunung tersebut.
Di lereng Merapi sejauh ini ada 13 unit sistem peringatan dini (EWS) yang sudah terpasang, baik di sisi barat maupun timur. Sayangnya, dari total EWS yang ada, sebagian besar kini dalam kondisi rusak.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman memperkirakan volume lahar yang tersisa di puncak Merapi sekitar 20 juta-25 juta meter kubik. Early warning system (EWS) atau sistem peringatan dini tak sepenuhnya berfungsi karena rusak dan ada yang dicuri.
Meskipun secara umum wilayah DIY belum memasuki musim hujan, namun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman tetap mengantisipasi jauh-jauh hari potensi munculnya lahar hujan dari hulu sungai di lereng Gunung Merapi.
Sempat dinyatakan berpotensi kembali dilanda angin kencang pascakejadian pada Minggu (20/10/2019), kawasan lereng Merapi kini dinilai lebih aman.
Dinas Pariwisata (Dispar) DIY menggelar Merapi Night Festival di Kaliurang, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman, Sabtu (19/10/2019) malam.
Sejak Minggu (20/10/2019) malam kawasan Gunung Merapi dilanda angin kencang hingga mencapai 80 km/jam. Diduga, kondisi Merapi saat ini ikut memicu terjadinya angin kencang di lereng Merapi.
Gunung Merapi belakangan kembali aktif dan meluncurkan awan panas.