BMKG: Merapi Aktif Diduga karena Pengaruh Gempa Tektonik
Gunung Merapi menunjukkan peningkatan aktivitasnya beberapa waktu terakhir.
Gunung Merapi menunjukkan peningkatan aktivitasnya beberapa waktu terakhir.
Lereng Gunung Merapi, tepatnya di sekitar Lapangan Boyong, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman dijejali oleh ribuan jip, Senin (14/10/2019).
Setelah terjadi letusan awan panas pada Senin (14/10/2019), kondisi aktivitas Gunung Merapi kembali turun.
Gunung Merapi kembali mengeluarkan awan panas letusan dengan tinggi kolom mencapai 3.000 meter atau tiga kilometer pada Senin (14/10/2019) sore. Letusan ini jauh lebih tinggi dibandingkan Minggu (22/9/2019) di mana kolom asap letusan saat itu setinggi kurang lebih 800 meter.
Gunung Merapi mengeluarkan letusan awan panas setinggi kurang lebih 3.000 meter atau tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi, Senin (14/10/2019) pukul 16.31 WIB.
Gunung Merapi mengalami tujuh kali gempa guguran selama periode pengamatan Jumat (4/10/2019) pukul 00.00 sampai 24.00 WIB. Hal itu disebutkan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat Gunung Merapi mengalami empat kali gempa guguran selama periode pengamatan pada Senin (30/9/2019) mulai pukul 00:00-24:00 WIB.
Produksi magma di Gunung Merapi masih terus berlangsung. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) memperkirakan awan panas letusan (APL) pada Minggu (22/9/2019), masih berpotensi terjadi lagi.
Gunung Merapi memperlihatkan fenomena berbeda pada Minggu (22/9/2019) siang. Merapi mengeluarkan awan panas yang baru kali pertama terjadi sejak ditetapkan status waspada 21 Mei 2018 lalu.
Letusan Gunung Merapi pada Minggu (22/9/2019) siang tidak memengaruhi aktivitas warga Desa Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.