Pemerintah Jangan Fokus pada Corona, DBD Juga Butuh Perhatian
Pemerintah diminta tak hanya fokus menangani virus Corona (Covid-19) dan jangan sampai meremehkan penangan penyakit demam berdarah dengue (DBD).
Pemerintah diminta tak hanya fokus menangani virus Corona (Covid-19) dan jangan sampai meremehkan penangan penyakit demam berdarah dengue (DBD).
Dalam periode Januari hingga awal Maret 2020, kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia telah menelan 100 korban jiwa dari 16.099 kasus yang ada.
Demam Berdarah Dengue (DBD) di Gunungkidul terus menunjukkan peningkatan. Bahkan hingga saat ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat, korban meninggal dunia akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti ini bertambah satu lagi, sehingga total dua korban.
Kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) untuk menekan jumlah kasus penderita penyakit DBD harus terus dilakukan oleh masyarakat. Pasalnya, masih ditemukan dusun-dusun yang angka bebas jentiknya rendah.
Angka kasus demam berdarah dengue (DBD) di Bantul terus melonjak. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul, hingga awal Februari, tercatat sudah ada 160 kasus DBD.
Dinkes kabupaten Sleman mengajak masyarakat waspada terhadap kasus demam berdarah dengue (DBD) di awal tahun 2020 ini.
Sebuah terobosan besar soal penanganan demam berdarah dikabarkan dilakukan oleh sejumlah peneliti.
Penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Gunungkidul mulai memakan korban jiwa. Seorang pasien di RSUD Wonosari bernama Alifa Rosita,11 asal Desa Wareng, Wonosari meninggal dunia saat menjalani perawatan pada Jumat (10/1/2020).
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulonprogo mencatat sepanjang tahun 2020 yang baru berlangsung selama sembilan hari ini sudah memunculkan tujuh kasus demam berdarah dengue (DBD).