KKN UMY Dorong Tamantirto Menjadi Desa Mandiri Diabetes Melitus

Media Digital
Media Digital Rabu, 14 Juli 2021 16:57 WIB
KKN UMY Dorong Tamantirto Menjadi Desa Mandiri Diabetes Melitus

Tamantirto Desa Mandiri Diabetes Melitus, Keluarga Berdaya, Berkualitas Hidup dan Perilaku Bersih Sehat Di Era Pandemi Covid 19./Istimewa

Harianjogja.com, JOGJA—Titiek Hidayati, dosen Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Keluarga, Program Studi Pendidikan Dokter (PSPD), Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), membimbing Program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) dengan kegiatan bertema “Tamantirto Desa Mandiri Diabetes Melitus, Keluarga Berdaya, Berkualitas Hidup dan Perilaku Bersih Sehat Di Era Pandemi Covid 19”

Pengabdian ini berlangsung di Tamantirto, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, pada 2 – 4 Maret 2021 dan diikuti oleh masyarakat umum dan khususnya yang menderita Diabetes Melitus.

“Tujuan kami adalah untuk membantu masyarakat wilayah Tamantirto agar dapat menjadi desa yang mandiri Diabetes Melitus dengan upaya melakukan penyuluhan sehingga dapat mencegah dan mengendalikan penyakit Diabetes Melitus dengan berpola hidup yang sehat sehingga tercipta keluarga dan masyarakat yang berdaya.” Kata Titiek melalui keterangan tertulis kepada Harian Jogja.

Meskipun telah terjadi pandemi Covid 19, namun tidak menyurutkan langkah mitra dalam mengikuti kegiatan ini. Selain penyuluhan juga dilakukan pemeriksaan gula darah sewaktu secara gratis kepada para peserta yang telah hadir dalam acara penyuluhan. Acara penyuluhan dan pemeriksaan GDS berlangsung dengan protokol kesehatan Covid 19. Protokol tersebut yaitu pelaksanaan di ruangan terbuka yaitu aula desa Tamantirto, jumlah peserta adalah 50 orang, sehingga para peserta masih dapat menjaga jarak/physical distancing karena antara kursi satu dengan yang lainnya telah diatur dengan jarak 1 meter. Sebelum dan setelah pelaksanaan tempat sudah dibersihkan. Saat pelaksanaan penyuluhan, pembicara dan peserta selalu mengenakan masker untuk mencegah penularan melalui air liur dan udara, selain itu makanan dibawa pulang untuk menghindarai keterpaksaan membuka masker saat penyuluhan. Metoda penyuluhan yaitu menggunakan audiovisual untuk menampilkan media power point dan video, setelah selesai penyuluhan dilakukan diskusi. Evaluasi kefahaman dilakukan dengan memberikan pertanyaan sehingga dapat mengukur tingkat peningkatan kefahaman setelah dilakukan penyuluhan, pelatihan dan diskusi.

Muatan presentasi power point dan video adalah tentang penyakit Diabetes Melitus, penyebab, faktor risiko, cara pencegahan, hal yang perlu dilakukan apabila telah terkena penyakit Diabetes Melitus, dan pola hidup bersih sehat. “Peserta berharap adanya kegiatan lanjutan yang dapat menambah pengetahuan dan bermanfaat untuk masyarakat secara luas,” kata Titiek.

Menurut Titiek, pengetahuan masyarakat tentang Diabetes Melitus sudah cukup baik namun perlu untuk selalu dilakukan penyuluhan-penyuluhan serupa agar masyarakat menjadi faham betul tentang penyakit tersebut, sehingga dapat tercipta masyarakat mandiri yang berdaya. “Program pemberdayaan masyarakat ke depan diharapkan dapat mencari metode yang lebih sesuai dan efektif-efisien untuk pemberdayaan di masyarakat,” ujar dia. (Adv)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online