UMY Tingkatkan Kapasitas Muballigh Muhammadiyah Pleret Dalam Upaya Pemberantasan Buta Aksara Qur'an

Media Digital
Media Digital Jum'at, 16 Juli 2021 13:57 WIB
UMY Tingkatkan Kapasitas Muballigh Muhammadiyah Pleret Dalam Upaya Pemberantasan Buta Aksara Qur'an

Peningkatan Kapasitas Muballigh Muhammadiyah Pleret Dalam Upaya Pemberantasan Buta Aksara Qur'an./Istimewa

Harianjogja.com, JOGJA—Program Pengabdian Masyarakat Berbasis Perserikatan Muhammadiyah (PPM-Muhammadiyah) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang diinisiasi Fahmi Irfanudin, Lc. M.S.I, dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam, mengangkat tema Peningkatan Kapasitas Muballigh Muhammadiyah Pleret Dalam Upaya Pemberantasan Buta Aksara Qur\'an.

Kegiatan bertempat di Gedung Dakwah Pimpinan Cabang Muhammadiyah Pleret di Kepanewon Pleret, Bantul, DIY. Dilaksanakan pada hari Jum\'at, 2 April 2021, dari jam 07.00-11.30 WIB. Peserta adalah muballigh di lingkungan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pleret

“Tujuan pengabdian adalah peningkatan kapasitas muballigh dalam mengajarkan cara membaca Al-Quran dengan metode Tsaqifa,” kata Fahmi.

Kegiatan dilakukan dengan mematuhi protokol kesehatan karena dilaksanakan dalam kondisi di tengah pandemi. Jumlah peserta dibatasi 30% kapasitas ruangan yaitu 30 orang. Selaing itu, semua peserta wajib mencuci tangan saat memasuki ruangan kegiatan. Mereka juga diharuskan mengenakan masker dan menjaga jarak.

Pengisi materi kegiatan yaitu Ustadz Umar Taqwin yang merupakan pencipta Metode Pengajaran Al-Quran Tsaqifa. Dia dibantu salah seorang ustadz senior dari Lembaga Pengajaran Metode Tsaqifa. Berdasarkan penjelasan Ustadz Umar, Metode Tsaqifa tidak akan menjadikan orang yang diajarkan langsung menjadi bisa, tetapi mereka yang diajar dengan metode ini dapat lebih cepat dalam membaca Al-Quran. Dalam metode Tsaqifa, pengajaran dilakukan dalam 9 tahapan. Tahap pertama yaitu pengenalan 18 huruf hijaiyah dan perubahannya. Kedua pengenalan 10 huruf hijaiyah dan perubahannya. Tahap ketiga pengenalan tanda baca fathah, kasroh dan dhommah. Tahap keempat yaitu pengenalan harokat/tanda baca tanwin. Tahap  kelima yaitu pengenalan bacaan panjang (Mad). Tahap keenam yaitu pengenalan harokat sukun (bacaan mati). Tahap ketujuh pengenalan huruf dobel (tasydid). Tahap kedelapan: latihan membaca. Terakhir, tahap kesembilan yaitu tajwid terapan metode Tsaqifa.

Kesembilan tahapan tersebut dapat dilakukan dalam 5 - 7 pertemuan. Antar pertemuan tersebut tidak boleh berdekatan untuk memberikan jeda waktu bagi pembelajar dalam mencerna atau menyerap pengetahuan yang didapatkan setiap pertemuan. Dalam penjelasannya, Ustadz Taqwim menjelaskan pengalamannya menggunakan Metode Tsaqifa. Menurutnya banyak individu yang dapat segera membaca Al-Quran setelah diajarkan mengikuti metode ini. Menurut Ustadz Taqwim, hal tersebut dapat dicapai oleh para pengajar dengan menggunakan Metode Tsaqifa secara sabar dan optimis. Berdasarkan penjelasan Ustadz Taqwim, dalam mengajar mengaji terutama untuk orang dewasa diperlukan kesabaran. Guru perlu tidak cepat menyalahkan dan dapat menerima atau memaklumi kekurangan murid. Kekurangan tersebut, didorong untuk menjadi lebih baik dengan ucapan yang menyemangati murid secara optimis.

Bagian akhir dari pelatihan yaitu kegiatan dikusi dan peserta diminta mempraktikkan Metode Tsaqifa. Selain itu dilakukan juga evaluasi mengenai pelatihan dan Metode Tsaqifa. Semua peserta menyatakan puas dengan pelatihan yang diadakan. Mereka juga tertarik untuk menerapkan Metode Tsaqifa di lingkungan mereka mengajarkan mengaji Al-Quran.

Perwakilan Pimpinan Cabang Muhammadiyah, H. M. Sapari, S.Ag. menyambut baik kegiatan pelatihan dan berharap para muballigh dapat menerapkan metode Tsaqifa sehingga dapat masyarakat yang dibina bisa membaca al-Quran dengan baik. Demikian pula Bapak Prapdiyana merasa pelatihan pengajaran membaca al-Quran yang efisien memang diperlukan untuk para muballigh agar dapat lebih baik lagi dalam mengajarkan pembacaan al-Quran.

“Pelatihan berjalan lancar dan berhasil melihat hasil evaluasinya. Peserta menyatakan puas dengan pelatihan dan mendapatkan manfaat dari pelatihan. Mayoritas peserta memahami materi yang disampaikan dan menyatakan akan menerapkan metode yang telah diajarkan dalam kegiatan mereka mengajarkan mengaji,” ujar Fahmi. (ADV)

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online