Wiryanti Sukamdani: Mustika Rasa, Warisan Resep Bung Karno Tak Sekadar Soal Masakan
Buku Mustika Rasa kembali diperkenalkan kepada masyarakat melalui Festival Mustika Rasa 2026 di Alun-Alun Selatan Yogyakarta.
Kegiatan Sekolah Perempuan dan teknologi pasca panen, di Desa Purwobinangun, Sleman.ist
SLEMAN–Di lereng Merapi, geliat wirausaha perempuan desa kian terasa. Melalui Sekolah Perempuan dan teknologi pasca panen, ibu-ibu desa kini bertransformasi menjadi juragan baru yang mampu mengangkat ekonomi keluarga sekaligus desa.
Desa Purwobinangun, Sleman, Yogyakarta, sejak lama dikenal sebagai sentra peternakan sapi perah. Setiap harinya, para peternak menghasilkan 100–200 liter susu segar. Namun potensi hasil ternak tersebut masih dominan dijual ke para pengepul tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu sehingga tidak memiliki nilai tambah.
Selain itu, Desa Purwobinangun sendiri memiliki proporsi mayoritas penduduk desa adalah perempuan yaitu 50.4 % dari total 9620 penduduk. Sebagian besar berprofesi sebagai ibu rumah tangga dengan jumlah 1507 orang. Hingga saat ini peran perempuan dalam memanfaatkan potensi desa belum optimal.
BACA JUGA: Ada 14 Ribu Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak hingga Awal Juli 2025
Melalui program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat yang diketuai oleh Arif Fajar Wibisono dosen jurusan Akuntansi Fakultas Bisnis dan Ekonomi UII, dengan judul Pengembangan Ekosistem Kewirausahaan Desa Berbasis Sekolah Perempuan dan Teknologi Produksi Pasca Panen, yang didanai Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi pada tahun 2025 serta pendampingan pihak kampus melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UII, mampu memberdayakan perempuan produktif sehingga mendorong terciptanya peningkatan ekonomi warga yang selama ini terhambat dikarenakan rendahnya pengetahuan dan pemahaman teknologi pengolahan hasil pasca panen dan tata kelola bisnis peternakan.
Pengembangan potensi Desa Purwobinangun khususnya pengelolaan hasil pasca panen memiliki beberapa kendala. Menurut arif, salah kendalanya yaitu tidak adanya kelembagaan lokal khususnya perempuan desa yang dapat mengembangkan bisnis ternak dengan baik melalui inovasi hasil pasca panen yang diproduksi.
Melalui program pengabdian ini mampu melembagakan sekolah perempuan tani dengan kurikulum yang jelas dan terukur sehingga mampu memberdayakan para perempuan tani agar memiliki kapasitas dan kompetensi mengelola produksi hasil pasca panen peternak dengan tata kelola usaha yang benar dan tepat.
Adanya kelembagaan nonformal yang terbentuk diharapkan perencanaan, pelaksanakan dan evaluasi kegiatan menjadi lebih terstruktur, sehingga semua kegiatan pemberdayaan dapat diarahkan dan diawasi dengan lebih baik. Melalui program pengabdian ini diharapkan mampu mengoptimalkan peran perempuan dan meningkatkan pengetahuan perempuan tani dalam mengelola produksi olahan hasil pasca panen para peternak.

Target jangka panjang pengabdian ini menciptakan perempuan yang tangguh dan yang mampu mengolah hasil pasca panen serta mengelola bisnisnya dengan baik sehingga akan berdampak pada perekonomian dan kesejahteraan keluarga yang mampu mengungkit menuju desa wirausaha mandiri dan berdaya secara ekonomi di wilayah Sleman Yogyakarta. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Buku Mustika Rasa kembali diperkenalkan kepada masyarakat melalui Festival Mustika Rasa 2026 di Alun-Alun Selatan Yogyakarta.
Veda Ega Pratama menjalani Q1 Moto3 Aragon 2026 pada Sabtu sore. Pebalap asal Gunungkidul wajib masuk empat besar untuk lolos ke Q2 dan memperbaiki posisi start
Jepang resmi memasuki musim flu 2026 lebih awal. Sebanyak 4.094 kasus terdeteksi dalam sepekan, menjadikannya awal musim flu tercepat kedua sejak 1999.
Komdigi menjembatani Yogi dengan Telkomsat dan Starlink agar penyediaan internet di Mentawai dapat dilakukan secara legal dan berizin.
Truk dump kecelakaan di Jalan Magelang Sleman, Sabtu pagi. Sopir dan penumpang luka setelah truk menabrak tiang telepon dan masuk parit.
Akademisi mendorong RPPLH DIY 2026–2056 terintegrasi dengan tata ruang, pembangunan, penganggaran, dan program lingkungan.