89,74 Persen Lulusan SMK-SMTI Yogyakarta Terserap Industri
Baru Dua Bulan Lulus, 89,74% Lulusan SMK-SMTI Yogyakarta Terserap Industri, Mayoritas Sudah Bekerja Sebelum Wisuda
Olahan gula semut.ist
KULONPROGO— Di lereng perbukitan Menoreh yang hijau dan tenang, warga Kalurahan Hargorejo, Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulon Progo, menatap masa depan dengan optimisme baru. Hadirnya program Reforma Agraria mendorong kebangkitan ekonomi masyarakat yang sebelumnya hanya bergantung pada hasil kebun seadanya.
Salah satu dampak nyata program tersebut terlihat dari berkembangnya usaha olahan gula semut. Warga yang dulu menjual nira kelapa mentah dengan harga murah, kini mampu mengolahnya menjadi produk bernilai tambah dan berdaya saing.
“Dulu kami hanya menjual nira mentah ke pengepul dengan harga murah. Setelah ada pendampingan karena Reforma Agraria, kami bisa mengolah sendiri menjadi gula semut. Pendampingan ini membuka wawasan kami soal cara mengolah, mengemas, dan memasarkan produk dengan lebih baik,” ujar Ketua Petani Gula Semut Kalurahan Hargorejo, Sadiman.
Dampak positif Reforma Agraria juga dirasakan kelompok petani lainnya. Mitro, salah satu pelaku usaha gula semut, mengungkapkan pendampingan dari pemerintah membuat petani di desanya semakin bersemangat menjaga kualitas produk sekaligus memperluas jaringan pemasaran.
“Dulu alat-alat kami masih sederhana, sekarang sudah lebih baik. Produksi meningkat, penghasilan juga naik. Dengan begitu kami bisa memperbaiki dapur produksi dan menambah peralatan,” ungkap Mitro sembari menunjukkan proses pengolahan gula semut di dapur produksinya.
Melalui penataan aset dan akses dalam program Reforma Agraria, warga Hargorejo kini memiliki kepastian hukum atas tanah melalui sertipikat hasil Program Nasional Agraria (Prona) tahun 2016 dan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) tahun 2019. Kepastian tersebut menjadi fondasi penting dalam pengembangan usaha masyarakat.
Kolaborasi lintas sektor antara Kantor Pertanahan Kabupaten Kulon Progo, pemerintah daerah, dan PT Nira Lestari Internasional turut mendorong peningkatan produksi gula semut Hargorejo. Produk olahan ini bahkan telah menembus pasar nasional hingga internasional.
Lurah Hargorejo Bekti Murdayanto berharap manfaat Reforma Agraria dapat terus dirasakan masyarakat secara berkelanjutan.
“Dengan adanya pendampingan dari BPN, nilai ekonomi gula merah bisa ditingkatkan melalui kegiatan produksi gula semut. Semoga pendampingan usaha dari BPN dapat terus berlanjut. Harapan kami, program-program berikutnya bisa mendukung percepatan kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.
Kini, geliat ekonomi Kalurahan Hargorejo semakin terasa. Pendapatan warga meningkat, generasi muda mulai terlibat dalam pengolahan gula semut, dan semangat gotong royong kembali tumbuh. Bagi warga Hargorejo, Reforma Agraria bukan sekadar program, melainkan awal kemandirian yang menumbuhkan harapan. (Adverorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Baru Dua Bulan Lulus, 89,74% Lulusan SMK-SMTI Yogyakarta Terserap Industri, Mayoritas Sudah Bekerja Sebelum Wisuda
Karyawan konveksi di Sewon, Bantul, ditangkap usai mencuri uang majikan Rp2,55 juta. Polisi menyebut uang hasil curian dipakai untuk bermain.
AHY membekali Taruna Akmil soal tantangan global, geopolitik, ekonomi, dan pembangunan jelang pelantikan oleh Presiden Prabowo.
BPOM menegaskan regulasi adaptif penting untuk mempercepat hilirisasi inovasi bioteknologi dan memperkuat daya saing industri farmasi.
Bulog mengusulkan beras SPHP premium bermerek Beras Kita untuk menekan kenaikan harga beras premium dan menjaga stabilitas pangan nasional.
Prabowo mengungkap ada pihak yang menolak B50 karena dinilai ingin Indonesia tetap impor BBM. B50 disebut hemat devisa hingga Rp170 triliun.