Literasi Didorong di Tengah Lonjakan Risiko Investasi
Kemudahan akses investasi digital yang kian masif justru memicu meningkatnya risiko bagi generasi muda, sehingga literasi keuangan dinilai menjadi kebutuhan.
Suasana Kopdar Sobat Rajawali di Sleman pada Sabtu (17/1/2026)./Harian Jogja -- Catur Dwi Janati
SLEMAN— Produsen perekat ternama Lem Rajawali menggelar agenda Kopdar Sobat Rajawali bersama para perajin kayu dan furnitur di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Lewat forum ini, Lem Rajawali tak ingin sekadar menebak kebutuhan pasar, melainkan mendengarkan langsung masukan dari para perajin sebagai pengguna utama produknya.
Kopdar Sobat Rajawali digelar pada Sabtu (17/1/2026) petang di Sendang Ayu Resto, Sleman. Event & Promotion Supervisor Lem Rajawali, Ades Ratna Setiawan, menjelaskan kegiatan ini mempertemukan perajin dari berbagai workshop kayu dan furnitur di DIY untuk menyampaikan pengalaman, kendala, hingga kebutuhan mereka terkait produk perekat.
Secara praktis, agenda ini menyerupai forum dengar pendapat atau public hearing yang digelar pabrikan untuk menyerap aspirasi langsung dari lapangan.
“Di sini kami juga menyampaikan produk baru dari pabrik sekaligus menjelaskan kendala-kendala teknis yang sering ditemui di lapangan. Perajin punya pengalaman masing-masing, sementara kami dari pabrik bisa memberi penjelasan teknis yang lebih spesifik,” ujar Ades, Sabtu (17/1/2026).
Masukan dari para perajin tersebut menjadi bahan penting bagi Lem Rajawali untuk terus berinovasi. Menurut Ades, mendengarkan langsung kebutuhan pengguna membuat pabrikan bisa merancang produk yang benar-benar relevan dengan kondisi lapangan.
Ia menambahkan, perkembangan tren furnitur berlangsung sangat cepat sehingga produk pendukung seperti perekat juga harus terus beradaptasi.
“Harapannya tentu kami bisa mendengarkan keluhan dan kebutuhan lem seperti apa yang sedang tren. Dari forum seperti ini, kami ingin menciptakan produk-produk lem baru yang sesuai kebutuhan perajin,” ungkapnya.
Kebutuhan perekat, lanjut Ades, kerap mengikuti bentuk dan karakter produk furnitur yang sedang berkembang di pasaran. Karena itu, pembaruan produk menjadi keniscayaan.
“Lem ini harus terus di-upgrade,” tegasnya.
Dalam Kopdar Sobat Rajawali kali ini, sebanyak 25 perajin dari berbagai wilayah di DIY diundang. Ades menjelaskan kegiatan kopdar tersebut digelar secara roadshow ke berbagai daerah di Indonesia. Khusus di DIY, Lem Rajawali menargetkan tiga hingga empat kali pelaksanaan kopdar.
“Kami keliling karena ingin menjangkau semua wilayah,” katanya.
Program Kopdar Sobat Rajawali sendiri telah digelar sejak 2020 dengan format yang terus berkembang. Melalui kegiatan ini, Lem Rajawali berupaya mempererat kedekatan dengan para penggunanya. Mengusung slogan “Hemat, Kuat, Lekat”, Lem Rajawali ingin tak hanya lekat sebagai perekat, tetapi juga dekat dengan para perajin.
“Itu salah satu poinnya. Kami ingin mendekatkan diri dengan pengguna dan mendengarkan langsung keluhan serta kebutuhan mereka di lapangan,” tuturnya.
Ades mengungkapkan, sejumlah produk Lem Rajawali lahir dari masukan para pengguna. Produk-produk tersebut kini telah beredar dan digunakan perajin furnitur, baik untuk kebutuhan industri maupun ritel.
“Dari industri banyak masukan. Kami menciptakan lem khusus industri, ritel, hingga furnitur. Misalnya, ada lem yang tidak cocok dipakai saat musim hujan, maka kami kembangkan lem yang lebih sesuai untuk kondisi tersebut,” ujarnya.
Sebagai pabrikan lem berusia 40 tahun, Lem Rajawali memiliki beragam produk, mulai dari lem plamir, lem kayu, lem HPL, lem spons sofa, hingga produk terbaru berupa lem sealant untuk pengeleman kaca.
Pabrikan lem lokal asli Indonesia ini telah menjangkau pasar dalam negeri hingga luar negeri. Perajin lokal tetap menjadi salah satu fokus utama Lem Rajawali.
“Harapannya, di area Jogja dan sekitarnya, Lem Rajawali bisa semakin dikenal dan digunakan oleh perajin-perajin lokal,” tandas Ades.
Salah satu peserta Kopdar Sobat Rajawali, Tifyan, menilai kegiatan ini bermanfaat sebagai sarana perajin mengenal ragam produk lem yang tersedia di pasaran. Informasi yang diperoleh juga bisa menjadi bahan pembanding sebelum menentukan produk yang akan digunakan.
Menurutnya, kopdar memberi kesempatan perajin bertanya langsung kepada pabrikan sekaligus melihat sampel produk secara langsung. Informasi tersebut juga berguna saat menjelaskan spesifikasi bahan kepada konsumen pemesan furnitur.
“Minimal kami butuh sampel untuk katalog dan penjelasan ke konsumen,” imbuhnya. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kemudahan akses investasi digital yang kian masif justru memicu meningkatnya risiko bagi generasi muda, sehingga literasi keuangan dinilai menjadi kebutuhan.
Harga tiket Piala Dunia 2026 melonjak hingga Rp52 juta akibat sistem adaptive pricing FIFA. Federasi kecil paling terdampak.
Apple resmi menghadirkan iPhone 17e di Indonesia dengan MagSafe, chip A19, dan Action Button. Harga mulai Rp13,4 juta.
Netflix digugat Texas karena dituding membuat fitur adiktif untuk anak dan mengumpulkan data pengguna tanpa izin yang jelas.
Persis Solo berada di ujung degradasi BRI Super League 2025/2026. Dua laga terakhir menjadi penentu nasib Laskar Sambernyawa.
Penelitian AAA mengungkap cuaca panas dan dingin ekstrem dapat memangkas jarak tempuh mobil listrik dan hybrid.