Literasi Didorong di Tengah Lonjakan Risiko Investasi

Media Digital
Media Digital Rabu, 13 Mei 2026 08:42 WIB
Literasi Didorong di Tengah Lonjakan Risiko Investasi

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu, saat menyampaikan keterangan tentang agenda Road to Jogja Financial Festival 2026 di GIK UGM, Selasa (12/5)./ Harian Jogja

Sasar Anak Muda, Literasi Didorong di Tengah Lonjakan Risiko Investasi

JOGJA - Kemudahan akses investasi digital yang kian masif justru memicu meningkatnya risiko bagi generasi muda, sehingga literasi keuangan dinilai menjadi kebutuhan mendesak. Hal ini mendorong digelarnya Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC) pada Jumat-Sabtu (22-23/5)

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu, mengatakan festival tersebut dirancang sebagai ruang
edukasi publik terkait dengan pesatnya perkembangan sektor jasa keuangan, mulai dari perbankan hingga instrumen investasi baru seperti kripto

"Jadi, kami ingin memberikan informasi, pendidikan, sosialisasi, literasi kepada masyarakat tentang kondisi keuangan, produk-produk keuangan, jasa keuangan yang sudah bergerak dengan cepat. Jadi masyarakat bisa memanfaatkan, tapi juga harus berhati-hati terhadap risikonya," kata Anggito di Gelanggan Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM Selasa (12/5).

Dia menjelaskan, perkembangan sektor keuangan kini jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya. Jika dulu masyarakat hanya mengenal bank dan pasar modal, kini pilihan instrumen semakin beragam, termasuk bank digital hingga aset kripto.

“Kalau dulu banyak unsur kehati-hatiannya. Nah, sekarang relatif lebih mudah. Kemudahan itu juga memberikan dampak negatif, yaitu orang menjadi tidak hati-hati, ikut-ikutan saja," katanya.

Festival ini menargetkan sekitar 8.000 pengunjung, dengan fokus utama generasi muda. Selain pameran dan edukasi, kegiatan ini juga dilengkapi dengan job fair serta hiburan agar menarik minat pengunjung. "Ini bukan seminar, sifatnya ekshibisi. Ada edukasi, literasi, job fair, juga hiburan supaya bervariasi," katanya

Menurut Anggito, generasi muda menjadi kelompok paling krusial untuk didorong literasi keuangannya, mengingat kemudahan akses aplikasi finansial saat ini membuat mereka rentan terhadap jebakan investasi ilegal. "Jangan sampai mereka masuk ke investasi bodong, investasi iming-iming sampai dengan investasi yang tidak legal," katanya.

DIY Lebih Konservatif

Di sisi lain, kondisi sektor keuangan di DIY menunjukkan tantangan tersendiri. Pada 2025, pertumbuhan kredit tercatat relatif rendah di angka 6,14% dengan loan to deposit ratio (LDR) sebesar 65%. Di saat yang sama, terjadi surplus dana hingga Rp31,4 triliun  dan sekitar 20% rekening tercatat tidak aktif

Selain itu, masih terdapat 16% penduduk usia produktif yang belum memiliki akses perbankan. Meski jumlah investor pasar modal mencapai sekitar 300.000 orang, naik 3% secara y-o-y, dan sekitar 30% di antaranya merupakan mahasiswa.

Anggito menilai masyarakat DIY cenderung memiliki karakter konservatif dalam mengelola keuangan, yang berpengaruh pada rendahnya penyaluran kredit. "Perilakunya memang lebih safety first, lebih risk averse, lebih penyimpan uang, lebih konservatif," ujarnya. (Adv)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online