Transformasi TelkomGroup, Kinerja InfraNexia Menguat
Transformasi TelkomGroup Mulai Tunjukkan Hasil, InfraNexia Catat Kinerja Positif Perkuat Infrastruktur Digital Nasional
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu, saat menyampaikan keterangan tentang agenda Road to Jogja Financial Festival 2026 di GIK UGM, Selasa (12/5)./ Harian Jogja
JOGJA - Kemudahan akses investasi digital yang kian masif justru memicu meningkatnya risiko bagi generasi muda, sehingga literasi keuangan dinilai menjadi kebutuhan mendesak. Hal ini mendorong digelarnya Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC) pada Jumat-Sabtu (22-23/5)
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu, mengatakan festival tersebut dirancang sebagai ruang
edukasi publik terkait dengan pesatnya perkembangan sektor jasa keuangan, mulai dari perbankan hingga instrumen investasi baru seperti kripto
"Jadi, kami ingin memberikan informasi, pendidikan, sosialisasi, literasi kepada masyarakat tentang kondisi keuangan, produk-produk keuangan, jasa keuangan yang sudah bergerak dengan cepat. Jadi masyarakat bisa memanfaatkan, tapi juga harus berhati-hati terhadap risikonya," kata Anggito di Gelanggan Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM Selasa (12/5).
.jpg)
Dia menjelaskan, perkembangan sektor keuangan kini jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya. Jika dulu masyarakat hanya mengenal bank dan pasar modal, kini pilihan instrumen semakin beragam, termasuk bank digital hingga aset kripto.
“Kalau dulu banyak unsur kehati-hatiannya. Nah, sekarang relatif lebih mudah. Kemudahan itu juga memberikan dampak negatif, yaitu orang menjadi tidak hati-hati, ikut-ikutan saja," katanya.
.jpg)
Festival ini menargetkan sekitar 8.000 pengunjung, dengan fokus utama generasi muda. Selain pameran dan edukasi, kegiatan ini juga dilengkapi dengan job fair serta hiburan agar menarik minat pengunjung. "Ini bukan seminar, sifatnya ekshibisi. Ada edukasi, literasi, job fair, juga hiburan supaya bervariasi," katanya
Menurut Anggito, generasi muda menjadi kelompok paling krusial untuk didorong literasi keuangannya, mengingat kemudahan akses aplikasi finansial saat ini membuat mereka rentan terhadap jebakan investasi ilegal. "Jangan sampai mereka masuk ke investasi bodong, investasi iming-iming sampai dengan investasi yang tidak legal," katanya.
.jpg)
DIY Lebih Konservatif
Di sisi lain, kondisi sektor keuangan di DIY menunjukkan tantangan tersendiri. Pada 2025, pertumbuhan kredit tercatat relatif rendah di angka 6,14% dengan loan to deposit ratio (LDR) sebesar 65%. Di saat yang sama, terjadi surplus dana hingga Rp31,4 triliun dan sekitar 20% rekening tercatat tidak aktif
.jpg)
Selain itu, masih terdapat 16% penduduk usia produktif yang belum memiliki akses perbankan. Meski jumlah investor pasar modal mencapai sekitar 300.000 orang, naik 3% secara y-o-y, dan sekitar 30% di antaranya merupakan mahasiswa.

Anggito menilai masyarakat DIY cenderung memiliki karakter konservatif dalam mengelola keuangan, yang berpengaruh pada rendahnya penyaluran kredit. "Perilakunya memang lebih safety first, lebih risk averse, lebih penyimpan uang, lebih konservatif," ujarnya. (Adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Transformasi TelkomGroup Mulai Tunjukkan Hasil, InfraNexia Catat Kinerja Positif Perkuat Infrastruktur Digital Nasional
DPRD Kabupaten Magelang terus memperkuat pelestarian seni dan budaya sebagai bagian dari pembangunan karakter masyarakat.
DPRD Jogja mendorong tiang PJU dimanfaatkan untuk fiber optik dan smart pole guna menata kabel serta meningkatkan PAD.
Menkeu Purbaya menegaskan tak ada pajak baru khusus rumah kontrakan. Penghasilan sewa properti tetap menjadi objek PPh sesuai aturan.
Daftar harga HP ZTE terbaru 2026 mulai Rp999.000, dari Blade A35, Blade A72 hingga Nubia V60 lengkap dengan spesifikasinya
KMP Putri Yasmin terbakar di Selat Lombok. Sebanyak 106 penumpang berhasil dievakuasi menggunakan sejumlah armada SAR.