Disbud Bantul Kenalkan Sejarah Wonokromo dan KRT Sumodiningrat

Media Digital
Media Digital Selasa, 19 Mei 2026 18:22 WIB
Disbud Bantul Kenalkan Sejarah Wonokromo dan KRT Sumodiningrat

Kepala Bidang Sejarah Permuseuman Bahasa dan Sastra Disbud Bantul, Purwanto, menjelaskan materinya saat Internalisasi Kesejarahan melalui Pembinaan Komunitas di Kalurahan Wonokromo, Kapanewon Pleret, Selasa (19/5)./ Harian Jogja/Kiki Luqman

INTERNALISASI KESEJARAHAN: Disbud Bantul Kenalkan Sejarah Wonokromo dan KRT Sumodiningrat ke Generasi Muda

BANTUL - Dinas Kebudayaan (Disbud) Bantul kembali menggelar kegiatan Internalisasi Kesejarahan melalui Pembinaan Komunitas. Kali ini kegiatan yang mengangkat sejarah Wonokromo dan tokoh KRT Sumodiningrat sebagai upaya memperkuat pemahaman sejarah lokal di kalangan generasi muda tersebut digelar di Kalurahan Wonokromo, Kapanewon Pleret, Selasa (19/5).

Sekretaris Disbud Bantul, Sarjiman, mengatakan kegiatan Internalisasi Sejarah menjadi bagian dari rangkaian pembelajaran budaya di luar ruang kelas.

Tahun ini, Disbud Bantul menyasar sejumlah wilayah yang memiliki nilai historis kuat di Bantul. “Internalisasi sejarah ini merupakan kegiatan penting untuk menanamkan nilai sejarah dan budaya, khususnya kepada generasi muda. Jangan sampai sejarah yang ada justru terputus dan dilupakan,” ujar Sarjiman, Selasa (19/5).

Diakuinya, Wonokromo dipilih karena memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang masih hidup hingga sekarang. Selain dikenal dengan tradisi masyarakatnya, kawasan tersebut juga menyimpan jejak penting perkembangan Mataram Islam dan Kasultanan Yogyakarta.

Dalam kegiatan itu, peserta yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, komunitas sejarah, hingga masyarakat umum mendapatkan pemaparan mengenai sejarah Wonokromo dan peran KRT Sumodiningrat dalam perjalanan sejarah Bantul.

Sarjiman menyebut kegiatan serupa sebelumnya juga telah digelar di wilayah Imogiri dan Kasihan dengan tema sejarah berbeda. Dia menilai setiap wilayah di Bantul memiliki potensi sejarah yang dapat digali lebih jauh. “Kalau ditelusuri, masing-masing wilayah di Bantul sebenarnya bisa menjadi satu buku sejarah tersendiri. Potensinya sangat besar,” katanya.

Kepala Bidang Sejarah Permuseuman Bahasa dan Sastra Disbud Bantul, Purwanto, mengatakan kegiatan ini sangat penting untuk generasi berikutnya agar sejarah lokal tidak terlupakan oleh zaman. 

Menurutnya, Wonokromo memiliki nilai historis yang sangat penting dalam perjalanan sejarah Bantul dan DIY. "Saya menyampaikan terima kasih untuk seluruh narasumber yang hadir dan adik-adik mahasiswa serta komunitas. Melalui kegiatan seperti ini, kita tidak hanya belajar sejarah tetapi harus bisa mengambil nilai-nilai positif dan lebih semangat melestarikan budaya," kata Purwanto.

Spiritual Keagamaan

Sementara itu, Dosen Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Kuncoro Hadi, selaku narasumber, menjelaskan Wonokromo merupakan kawasan penting dalam perjalanan panjang sejarah Mataram Islam. Bahkan, jejak sejarah wilayah tersebut disebut sudah ada sejak masa Mataram Kuno

“Wonokromo ini menjadi ruang yang sangat unik karena menjadi bagian perjalanan besar sejarah Mataram Islam. Bahkan jauh sebelum itu, pada masa Mataram Kuno, wilayah ini sudah memiliki eksistensi,” ujar dia.

Dia menuturkan, sejumlah temuan sejarah menunjukkan kawasan Wonokromo pernah menjadi wilayah perdikan atau kawasan khusus untuk kepentingan spiritual dan keagamaan sejak abad ke-8 hingga abad ke-10.

Menurut Kuncoro, tradisi spiritual dan budaya di Wonokromo terus berlanjut hingga masa Kasultanan Yogyakarta. Hal itu terlihat dari keberadaan kawasan pamutihan dan makam tokoh penting seperti KRT Sumodiningrat.

Sementara itu, Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga, Yasser Arafat, menyoroti konsep mandala kosmopolit yang berkembang pada masa lampau. Menurutnya, konsep tersebut menggambarkan wilayah yang menjadi titik pertemuan berbagai unsur budaya, agama, dan aktivitas sosial masyarakat.

Menurut dia, kawasan seperti Wonokromo tidak berdiri sebagai ruang yang terpisah, tetapi berkembang melalui interaksi budaya yang berlangsung terus-menerus selama perjalanan sejarah. “Mandala kosmopolit menunjukkan bagaimana suatu wilayah tumbuh melalui berbagai pengaruh yang saling bertemu dan membentuk identitas masyarakatnya,” ujar Yasser.

Adapun, Kepala Dusun Wonokromo, Ahmad Ahsyuri, menjelaskan sejarah wilayah Wonokromo tidak dapat dipisahkan dari perkembangan masyarakat serta berbagai tradisi yang hingga kini masih dijaga. Menurutnya, berbagai warisan budaya yang masih hidup menjadi bukti bahwa jejak sejarah di wilayah tersebut tetap terpelihara di tengah perkembangan zaman. “Potensi sejarah di Wonokromo masih sangat besar. Harapannya generasi muda ikut mengenali dan menjaga warisan yang ada,” katanya. (Adv)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online