DPAD DIY Ajak Generasi Muda Membangun Budaya Membaca

Media Digital
Media Digital Kamis, 21 Mei 2026 06:02 WIB
DPAD DIY Ajak Generasi Muda  Membangun Budaya Membaca

Agenda bedah buku berjudul Menjadi Pemuda di Zaman Tak Mudah yang digelar DPAD DIY dan DPRD DIY di Kalurahan Timbulharjo, Kapanewon Sewon, Bantul, Rabu (20/5)./ Harian Jogja -Yosef Leon

DPAD DIY Ajak Generasi Muda Membangun Budaya Membaca di Tengah Gempuran AI

BANTUL - Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bekerja sama dengan DPRD DIY menggelar bedah buku berjudul Menjadi Pemuda di Zaman Tak Mudah di Kalurahan Timbulharjo, Kapanewon Sewon, Bantul, Rabu (20/5). Kegiatan itu menjadi ruang diskusi mengenai rendahnya budaya membaca hingga tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini.

Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan DPAD DIY, Zulfa Kurniawan, mengatakan budaya membaca masih menjadi pekerjaan rumah besar di Indonesia. Terlebih, indeks pembangunan kebudayaan turut memasukkan indikator frekuensi membaca buku.

Dia menyebut berdasarkan survei internasional, tingkat minat baca masyarakat Indonesia masih berada di posisi bawah. Padahal, kemampuan literasi menjadi kebutuhan penting di tengah derasnya perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

“Ke depan, tenaga kerja yang dibutuhkan lebih banyak yang menguasai informasi dan pengetahuan. Itu salah satunya didapat dari membaca,” katanya.

Karena itu, DPAD DIY terus menggencarkan sosialisasi dan kampanye gemar membaca kepada masyarakat. Menurutnya, budaya membaca menjadi bekal penting agar masyarakat mampu beradaptasi dengan perubahan zaman yang semakin cepat.

Wakil Ketua DPRD DIY, Umaruddin Masdar, menilai kegiatan bedah buku tersebut menjadi salah satu upaya meningkatkan minat baca masyarakat. Dia mengatakan meski secara nasional tingkat minat baca masih rendah, budaya literasi masyarakat di DIY relatif lebih baik dibanding daerah lain.

Dalam kegiatan itu, peserta juga mendapatkan buku untuk dibaca. Umaruddin menekankan kebiasaan membaca harus dibentuk secara konsisten agar menjadi budaya.

“Kalau tidak dipaksa untuk membaca biasanya tidak terbentuk [budaya membaca]. Ketika sudah terbiasa membaca, kalau sehari tidak membaca rasanya ada yang kurang,” ujarnya.

Dia menilai buku berjudul Menjadi Pemuda di Zaman Tak Mudah sangat relevan dengan kondisi generasi muda saat ini. Ada tiga hal yang menurutnya perlu menjadi perhatian utama bagi pemuda, yakni kesehatan mental dan fisik, pendidikan, serta karakter.

Menurut Umaruddin, pendidikan yang tinggi dapat membantu menekan angka kemiskinan. Namun, setelah kesehatan dan pendidikan terpenuhi, karakter menjadi faktor penting yang menentukan kualitas sumber daya manusia.

Sementara itu, salah seorang narasumber, Nurul Ikhsan Saleh, menilai buku tersebut dekat dengan realitas kehidupan generasi muda saat ini. Buku itu membahas keresahan mencari pekerjaan, tekanan media sosial, kecemasan masa depan, hingga kebingungan menentukan arah hidup.

Menurutnya, buku tersebut tidak memandang pemuda secara hitam putih. Pemuda digambarkan sebagai kelompok yang tengah menghadapi tekanan sosial yang nyata dengan berbagai kerentanan.

Tantangan generasi muda saat ini bukan hanya soal motivasi atau semangat kerja, melainkan persoalan yang lebih struktural seperti ketimpangan akses pendidikan, dunia kerja yang tidak stabil, hingga tekanan sosial digital.

“Kalau Indonesia ingin menuju Indonesia Emas, maka yang dibangun bukan hanya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga sistem sosial yang memberi ruang hidup lebih adil bagi generasi muda,” katanya. (ADV)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online