Direktur Pegadaian Jadi Ketum Indonesia Bullion Market Association

Media Digital
Media Digital Jum'at, 21 Agustus 2026 09:32 WIB
Direktur Pegadaian Jadi Ketum Indonesia Bullion Market Association

Indonesia Bullion Market Association (IBMA) resmi dibentuk untuk mendorong pengembangan pasar bullion yang kredibel, efisien, dan berkelanjutan melalui kolaborasi, standardisasi, edukasi, serta penguatan ekosistem industri emas nasional./ Ist

JAKARTA— Indonesia Bullion Market Association (IBMA) resmi dibentuk untuk mendorong pengembangan pasar bullion yang kredibel, efisien, dan berkelanjutan melalui kolaborasi, standardisasi, edukasi, serta penguatan ekosistem industri emas nasional. Peresmian IBMA digelar di BSI Tower, Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Pembentukan IBMA sejalan dengan peluncuran kegiatan usaha bullion atau layanan bank emas oleh Presiden RI Prabowo Subianto pada 26 Februari 2025. Setelah berjalan lebih dari satu tahun, layanan bank emas mendapat respons positif dari masyarakat sekaligus memperlihatkan besarnya potensi ekosistem bullion di Indonesia.

Saat ini, bank emas di Indonesia telah mengelola lebih dari 170 ton emas, dengan 153 ton di antaranya dikelola Pegadaian. Capaian tersebut mendapat apresiasi Presiden Prabowo dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI, 14 Agustus 2026. Presiden menilai bank emas merupakan salah satu terobosan strategis untuk mengamankan aset nasional, memperkuat sistem keuangan, sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.

Peresmian IBMA dilakukan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto, Ketua Umum IBMA Selfie Dewiyanti yang juga Direktur Pemasaran, Penjualan, dan Pengembangan Produk PT Pegadaian (Persero), serta Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo. Kegiatan tersebut disaksikan 11 founder IBMA yang diwakili masing-masing direktur utama perusahaan.

Sejumlah pejabat turut hadir, antara lain Wakil Kepala BP BUMN Aminuddin Ma’ruf, Dewan Komisioner OJK sekaligus Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan Dicky Kartikoyono, Chief Economist BPI Danantara Reza Yamora Siregar, Kepala Badan Standardisasi Nasional Donny Purnomo Januardhi Effyandono, Kepala Bappebti Tirta Karma Senjaya, serta perwakilan World Gold Council dan Malaysia Gold Association.

Sebagai salah satu produsen emas terbesar, Indonesia memiliki fondasi geologis yang kuat untuk menjadi pusat pasar bullion. Namun, potensi tersebut dinilai belum optimal karena belum ada lembaga yang menyatukan pelaku usaha sekaligus mendorong penerapan standar industri yang seragam.

IBMA hadir untuk menjembatani kebutuhan tersebut. Sebagai mitra strategis regulator, IBMA akan menghubungkan para pemangku kepentingan dari sektor hulu hingga hilir, mulai dari pertambangan, jasa keuangan, pemurnian (refinery), manufaktur, hingga jasa pendukung bisnis lainnya.

Sejumlah perusahaan yang telah bergabung dalam IBMA antara lain PT Pegadaian (Persero), Bank Syariah Indonesia (BSI), PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), UBS Gold, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN), Galeri 24, Brinks Solution Indonesia, ICDX Group, PT Central Mega Kencana (CMK) yang menaungi merek perhiasan Mondial, Frank & co., dan The Palace Jeweler, PT Sentral Kreasi Kencana (SKK Jewels), serta PT Laku Emas Indonesia.

Pemerintah menempatkan pengembangan pasar bullion sebagai salah satu pilar transformasi ekonomi untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% pada 2029, sejalan dengan agenda hilirisasi dalam visi Asta Cita.

Berdasarkan data World Gold Council, produksi emas Indonesia pada 2025 mencapai 104 ton dan menempatkan Indonesia di peringkat ke-10 dunia. Potensi tersebut semakin kuat di tengah tren global, ketika permintaan investasi emas melalui exchange-traded fund (ETF), emas batangan, dan koin terus meningkat hingga mencapai level tertinggi dalam 12 tahun terakhir.

Melalui integrasi IBMA, hilirisasi komoditas emas diharapkan berjalan lebih cepat. Instrumen keuangan berbasis emas, seperti tabungan, pembiayaan, perdagangan, dan penitipan emas, juga berpotensi semakin beragam. Selain itu, terbentuknya pasar yang lebih dalam atau deeper market diharapkan mampu meningkatkan likuiditas.

Ketua Umum IBMA Selfie Dewiyanti mengatakan, kehadiran IBMA diproyeksikan menjadi katalis perubahan lanskap industri emas Indonesia. IBMA diharapkan mampu mendorong Indonesia bertransformasi dari negara produsen emas menjadi pusat perdagangan atau bullion hub terkemuka di kawasan.

"Kehadiran IBMA diharapkan menjadi platform utama bagi seluruh pelaku industri untuk membangun pasar bullion Indonesia yang kredibel, kompetitif, dan berstandar internasional. Dengan ekosistem yang semakin kuat, Indonesia tidak hanya akan menjadi negara penghasil emas, tetapi juga berkembang sebagai pusat perdagangan dan jasa bullion di kawasan yang mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap investasi, pendalaman pasar keuangan, dan pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Selfie.

Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlangsungan organisasi, Pegadaian telah menyiapkan kantor sekretariat dan ruang rapat IBMA di lantai dua Pegadaian Tower. Fasilitas tersebut disiapkan sebagai pusat koordinasi dan aktivitas organisasi.

Menurut Selfie, penempatan sekretariat IBMA di Pegadaian Tower dinilai tepat karena kawasan tersebut telah berkembang menjadi salah satu pusat ekosistem emas nasional. Di kawasan itu tersedia berbagai fasilitas yang terintegrasi, mulai dari layanan Bullion Pegadaian, penyimpanan vault berstandar internasional, ATM Emas, Galeri 24, G-Lab, pusat lelang emas, hingga bazar emas.

"Masyarakat pun telah mengenal kawasan ini sebagai destinasi untuk berinvestasi emas, memperoleh pembiayaan berbasis emas, maupun menikmati berbagai layanan lainnya yang mendukung perkembangan industri bullion Indonesia," tambah Selfie.

Melalui penguatan ekosistem bullion yang terintegrasi dan berdaya saing global, seluruh anggota IBMA berkomitmen mengoptimalkan potensi emas nasional untuk mendukung stabilitas sistem keuangan dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Pengembangan produk bullion, penguatan sinergi dengan sektor keuangan syariah, kemudahan berusaha, serta peningkatan literasi masyarakat akan terus didorong untuk memperluas basis investor sekaligus meningkatkan pemanfaatan emas dalam sistem keuangan nasional.

Pembentukan IBMA sekaligus menandai komitmen para pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi peluang, menjawab tantangan, dan memperkuat arah kebijakan dalam membangun rantai nilai emas nasional dari hulu hingga hilir.

Melalui kolaborasi tersebut, Indonesia diharapkan mampu mengembangkan inovasi produk keuangan dan perdagangan berbasis emas yang inklusif, transparan, dan berkelanjutan. Dengan demikian, emas nasional tidak hanya menjadi komoditas, tetapi juga dapat menjadi salah satu penggerak hilirisasi, penguatan sistem keuangan, dan pertumbuhan ekonomi nasional.(Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online