Diskusi Novel Matahari di Atas Rantemario Bahas Luka Sejarah dan Kebangsaan
Diskusi novel Matahari di Atas Rantemario karya Andi Makmur Makka di Yogyakarta membahas luka sejarah, perbedaan ideologi, persahabatan, dan refleksi kebangsaan
Universitas Sanata Dharma berkolaborasi dengan Georgetown University, salah satu universitas terkemuka di Amerika Serikat, dalam penyelenggaraan Georgetown Global Dialogues (GGD) 2026 di Yogyakarta.
JOGJA—Universitas Sanata Dharma berkolaborasi dengan Georgetown University, salah satu universitas terkemuka di Amerika Serikat, dalam penyelenggaraan Georgetown Global Dialogues (GGD) 2026 di Yogyakarta. Kolaborasi ini menjadi upaya memperluas jejaring akademik internasional sekaligus membuka ruang dialog mengenai perubahan tatanan dunia dan peran negara-negara Selatan Global (Global South).
Konferensi internasional bertema “The Global South and a World Transformed” tersebut resmi dibuka pada Kamis (15/10/2026) di Ruang Seminar Driyarkara, Kampus II Universitas Sanata Dharma. Berlangsung hingga Sabtu (17/10/2026), GGD menjadi ruang dialog akademik untuk membahas berbagai persoalan sosial, politik, budaya, dan teknologi yang memengaruhi kehidupan masyarakat.
Georgetown University merupakan universitas Jesuit yang berlokasi di Washington, D.C., Amerika Serikat. Universitas tersebut dikenal melalui tradisi akademik dan jejaring internasionalnya. Kolaborasi ini menjadi kesempatan bagi Universitas Sanata Dharma untuk mempertemukan perspektif lokal dengan diskusi akademik internasional sekaligus memperkuat hubungan antarkomunitas pendidikan tinggi.
Bagi Universitas Sanata Dharma, kerja sama ini memiliki makna lebih luas daripada sekadar penyelenggaraan konferensi. Sebagai satu-satunya universitas Jesuit di Indonesia, Universitas Sanata Dharma merupakan bagian dari tradisi pendidikan Jesuit yang menghubungkan lembaga-lembaga pendidikan di berbagai negara.
Tradisi tersebut menempatkan pendidikan bukan hanya sebagai proses pengembangan pengetahuan dan kompetensi, tetapi juga sebagai upaya membentuk pribadi yang reflektif, terbuka terhadap perbedaan, berintegritas, dan peduli terhadap persoalan masyarakat.

Sebelum pembukaan konferensi, para delegasi mahasiswa (student delegates) dari Georgetown University mengikuti tur kampus ke Kampus I dan Kampus II Universitas Sanata Dharma. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi para delegasi untuk mengenal lingkungan akademik, fasilitas, dan kehidupan kampus sekaligus membangun interaksi dengan komunitas mahasiswa dari kedua institusi.
Rektor Universitas Sanata Dharma, Rm. Albertus Bagus Laksana, SJ, S.S., Ph.D., dalam sambutannya menegaskan pentingnya GGD sebagai ruang kolaborasi akademik untuk merespons perubahan dunia. Menurutnya, keterikatan Universitas Sanata Dharma dengan konteks Selatan Global memberikan perspektif tersendiri yang dapat disumbangkan dalam percakapan internasional.
“Kami percaya bahwa GGD ini merupakan undangan strategis bagi Universitas Sanata Dharma dan jaringan perguruan tinggi untuk terlibat dalam isu-isu global melalui percakapan yang lebih luas, di mana kami dapat memberikan kontribusi unik berkat keterikatan kami dalam konteks South Global,” ujar Rm. Albertus Bagus Laksana.
Sementara itu, Vice President for Global Engagement Georgetown University, Thomas Banchoff, menyampaikan apresiasi atas kemitraan dengan Universitas Sanata Dharma. Ia menjelaskan bahwa GGD merupakan upaya komunitas universitas untuk membangun percakapan global yang lebih inklusif, terutama dengan memberikan ruang bagi suara-suara dari Selatan Global.
“GGD menjadi upaya sederhana kami sebagai komunitas universitas untuk menghasilkan percakapan global yang lebih inklusif tentang jalan keluar di dunia kita yang terbagi ini, serta secara khusus mengangkat suara-suara dari Selatan Global,” kata Thomas Banchoff.
Pada hari pertama, diskusi panel berfokus pada sejarah, pelajaran, dan relevansi Gerakan Non-Blok serta warisan Konferensi Asia-Afrika. Pembahasan ini membuka ruang refleksi mengenai peran negara-negara Asia dan Afrika dalam membentuk hubungan internasional sekaligus relevansinya bagi dunia saat ini.
Pada hari kedua dan ketiga, konferensi dijadwalkan membahas beragam tema lain, termasuk pluralisme agama, sastra dan masyarakat, hubungan Tiongkok dengan Selatan Global, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta otoritarianisme.
Beragam isu tersebut relevan bagi generasi muda yang akan memasuki dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat dalam lingkungan yang semakin terhubung. Pemahaman lintas budaya, kemampuan menganalisis persoalan dari berbagai sudut pandang, komunikasi lintas latar belakang, serta sikap kritis terhadap perkembangan teknologi menjadi bekal penting untuk menghadapi perubahan zaman.
Melalui forum seperti GGD, mahasiswa berkesempatan memperluas wawasan, mengenal perspektif dari berbagai negara, dan memahami persoalan yang melampaui batas pengalaman sehari-hari. Pengalaman akademik semacam ini juga dapat membantu mahasiswa membangun cara pandang yang lebih terbuka terhadap berbagai bidang profesi dan tantangan masa depan, tanpa melepaskan kepekaan terhadap persoalan masyarakat di sekitarnya.
Penyelenggaraan GGD sekaligus memperlihatkan bagaimana identitas Universitas Sanata Dharma sebagai universitas Jesuit dapat menjadi jembatan bagi kolaborasi internasional. Jejaring tersebut membuka ruang perjumpaan akademik yang memperkaya pengalaman belajar dan mempertemukan perspektif lokal dengan percakapan global.
Dari Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma terus mengambil bagian dalam dialog pendidikan tinggi internasional. Melalui kolaborasi dengan Georgetown University, Universitas Sanata Dharma menghadirkan ruang untuk belajar dari perbedaan, memahami perubahan dunia, dan mempersiapkan generasi muda agar mampu berkontribusi secara cerdas dan humanis bagi masyarakat. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Diskusi novel Matahari di Atas Rantemario karya Andi Makmur Makka di Yogyakarta membahas luka sejarah, perbedaan ideologi, persahabatan, dan refleksi kebangsaan
Film The Longest Wait tentang perjuangan Timnas Indonesia tayang 28 Oktober 2026. Simak trailer dan pesan Jay Idzes untuk suporter Garuda.
PSIM Jogja memecat Jean Paul van Gastel setelah empat kekalahan beruntun di Super League 2026/2027. Laskar Mataram kini berada di peringkat 16.
Rute jip wisata Gumuk Pasir Parangtritis dialihkan dari zona inti restorasi. Jalur baru menawarkan petualangan dan potensi agro wisata.
Simak informasi BSU 2026, perkiraan bantuan Rp900.000, kriteria penerima berdasarkan skema sebelumnya, dan cara mengecek status lewat JMO.
Motor MotoGP 2027 bermesin 850 cc dilaporkan mencatat waktu putaran mendekati motor 1000 cc. Ducati dan Aprilia menyoroti aspek keselamatan.