Disnakertrans DIY Dorong Penyandang Disabilitas Naik Kelas
Penyandang disabilitas saat ini telah menjadi bagian dari kelompok masyarakat yang memainkan peran yang sama pentingnya dengan masyarakat umum dalam sektor
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, saat mengikuti penanaman pohon di lokasi longsor di Padukuhan Jono, Kalurahan Tancep, Kapanewon Ngawen, Senin (18/5). - Harian Jogja/David Kurniawan
GUNUNGKIDUL - Sebanyak 3.000 pohon ditanam di lereng rawan longsor di Padukuhan Jono, Kalurahan Tancep, Kapanewon Ngawen, Senin (18/5). Penanaman dilakukan sebagai upaya mitigasi bencana dan pemulihan lingkungan pascalongsor yang terjadi pada Februari lalu.
Warga, relawan, pejabat, hingga komunitas lingkungan tampak bergotong royong membawa bibit pohon menuju lereng perbukitan yang sebelumnya terdampak longsor dan banjir. Kegiatan bertajuk Strategi Konservasi Lahan Pascabencana melalui Gerakan Gotong Royong dan Penanaman 3.000 Pohon Kehidupan itu digelar PT Akasara Dinamika Jogja, penerbit Harian Jogja bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul, dan sejumlah pihak lain.
Total ada 3.000 batang pohon yang ditanam di kawasan rawan longsor tersebut. Jenis tanaman yang dibawa ke lereng Padukuhan Jono pun beragam, mulai dari nangka, akar wangi, mangga, jambu, hingga tanaman buah lainnya.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih yang hadir dalam kegiatan penanaman tersebut mengatakan gerakan penghijauan di kawasan rawan bencana menjadi bagian penting agar kejadian longsor tidak kembali terulang.
“Kami mengapresiasi atas terselenggaranya penanaman pohon di lokasi bencana di Padukuhan Jono karena menjadi bagian mitigasi agar kejadian sama tidak terulang kembali,” kata Endah di sela kegiatan penanaman, Senin siang.
Bagi Endah, penanaman pohon tidak hanya berkaitan dengan pemulihan lahan pascabencana. Menurut dia, pohon yang ditanam saat ini juga menjadi investasi lingkungan untuk masa depan.
Pohon Andalan
Di antara berbagai jenis tanaman yang ditanam, pohon nangka menjadi varietas yang paling banyak dipilih. Pemilihan itu bukan sekadar karena mudah tumbuh di kawasan perbukitan Gunungkidul, tetapi juga karena memiliki nilai sejarah dan ekonomi bagi masyarakat.
Endah menjelaskan pohon nangka telah lama menjadi bagian identitas Gunungkidul. Keberadaannya bahkan tercantum dalam Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 1999 tentang Flora dan Fauna di Bumi Handayani serta berkaitan dengan sejarah Babad Alas Nongko Doyong.
“Yang paling penting buah ini juga bisa memberikan manfaat. Selain kayunya untuk kerajinan rangka gamelan, buahnya juga dapat memasok kebutuhan bahan baku gudeg yang selama ini sudah banyak didatangkan dari luar daerah,” katanya.
Selain pohon nangka, tanaman akar wangi juga dipilih karena dinilai mampu membantu memperkuat struktur tanah di kawasan lereng rawan longsor. Pemkab Gunungkidul bahkan berencana mengembangkan budi daya akar wangi sebagai bagian mitigasi bencana di kawasan perbukitan.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Rismiyadi mengatakan tanaman yang ditanam di Padukuhan Jono tidak hanya berfungsi menjaga lereng, tetapi juga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
“Harus dirawat karena ada yang bisa menghasilkan buah seperti nangka. Selain bisa dimakan, buahnya juga menjadi bahan baku gudeg,” katanya.
Padukuhan Jono di Kalurahan Tancep memang menjadi salah satu wilayah rawan longsor di Kapanewon Ngawen karena berada di lereng perbukitan. Pada pertengahan Februari lalu, hujan deras menyebabkan longsor dan banjir di kawasan tersebut.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Purwono mengatakan longsor sempat menutup aliran sungai dengan pepohonan dan bebatuan sehingga arus air berubah ke permukiman warga.
“Kami mengapresiasi adanya gerakan penanaman pohon untuk memulihkan kondisi di rawan bencana di Padukuhan Jono,” katanya.
Menurut Purwono, perbaikan aliran sungai sudah dilakukan setelah kejadian bencana. Namun, upaya mitigasi tetap diperlukan agar kawasan lereng tidak kembali mengalami longsor saat hujan deras turun.
Pemimpin Redaksi Harian Jogja Anton Wahyu Prihartono mengatakan kegiatan penanaman di Padukuhan Jono menjadi bagian dari komitmen menjaga kelestarian lingkungan di Gunungkidul.
Sebelumnya, Harian Jogja juga terlibat dalam kegiatan penanaman pohon dan pelepasan tukik di Pantai Sepanjang di Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari, pada 2025 lalu.
“Penanaman pohon di lokasi rawan bencana di Padukuhan Jono merupakan tindak lanjut dan bentuk kepedulian kami untuk berpartisipasi dalam pelestarian lingkungan,” katanya.
Selain penanaman pohon, kegiatan konservasi di Padukuhan Jono juga diisi workshop terkait dengan konservasi lahan pascabencana. Acara tersebut terselenggara melalui kerja sama Harian Jogja dengan Pemkab Gunungkidul, Djarum Foundation, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (Dynamix), CV Sentral Yanmar Prambanan, serta PT BPR Bank Daerah Gunungkidul.
Kegiatan itu juga mendapat dukungan dari PDAM Tirta Handayani, PDAB Tirtatama, Bakpia Pathuk 25, Hotel Santika Gunungkidul, Warung Simbok Gunungkidul, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY, BPDAS Serayu Opak Progo, hingga Gembira Loka Zoo. Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan memperkuat upaya konservasi dan mitigasi bencana di kawasan rawan longsor di Padukuhan Jono, Kalurahan Tancep, Kapanewon Ngawen. (David Kurniawan/*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Penyandang disabilitas saat ini telah menjadi bagian dari kelompok masyarakat yang memainkan peran yang sama pentingnya dengan masyarakat umum dalam sektor
Real Madrid mengumumkan perpisahan Dani Carvajal dan kembalinya José Mourinho sebagai pelatih pada hari yang sama.
Shakira memenangkan kasus pajak di Spanyol setelah delapan tahun. Pengadilan memerintahkan pengembalian dana Rp1,1 triliun.
Arema FC memburu kemenangan atas PSIM Jogja pada laga terakhir Super League 2025/2026 demi memperbaiki posisi klasemen.
MotoGP Catalunya 2026 diwarnai penalti tekanan ban yang membuat Joan Mir kehilangan podium dan mengubah klasemen sementara.
Pemkot Jogja mulai menyiapkan guru dan menggandeng kampus menyambut kebijakan Bahasa Inggris wajib di SD mulai 2027.