Branding Menjadi Kiat Taktis dalam Meraih Kesuksesan Berusaha
Branding UMKM dinilai menjadi kunci membangun kepercayaan konsumen, memperluas pasar, dan meningkatkan daya saing di era digital.
Puluhan warga bersama narasumber berfoto bersama seusai mengikuti acara bedah buku berjudul Rahasia Sukses Branding UMKM di Kantor Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Sleman, Selasa (30/6). Harian Jogja/ Andreas Yuda Pramono.
SLEMAN—Branding merupakan kesan dan pengalaman yang dirasakan pelanggan, bukan sekadar tampilan visual atau logo. Gagasan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam bedah buku berjudul Rahasia Sukses Branding UMKM karya Heri Cahyo Bagus Setiawan yang digelar di Kantor Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Sleman, Selasa (30/6).
Buku terbitan CV Satu Spasi (Cantrik Pustaka Group) itu memuat 16 rahasia branding yang dapat langsung dipraktikkan oleh pelaku UMKM. Dalam pemaparannya, perwakilan penerbit, Wahyudi, menjelaskan bahwa branding berperan penting dalam meningkatkan produksi sekaligus memperluas pasar.
Menurutnya, masyarakat digital saat ini cenderung memilih produk yang memiliki identitas dan mampu membangun keterhubungan dengan konsumen. Karena itu, pelaku usaha perlu membangun branding yang kuat agar produknya lebih mudah dikenali dan dipercaya.
Untuk menggambarkan pentingnya branding, Wahyudi mengajak peserta membayangkan dua bungkus peyek dengan ukuran dan harga yang sama, tetapi dikemas secara berbeda.
“Suatu hari Anda berada di pasar dan ingin membeli peyek. Di depan Anda ada dua bungkus peyek dengan ukuran dan harga yang sama. Yang satu dikemas menggunakan plastik bening biasa, dan satunya lagi dikemas dengan rapi, memiliki logo, nomor izin usaha, logo halal, serta nomor WhatsApp yang bisa dihubungi apabila ada keluhan,” kata Wahyudi.
Ia menjelaskan, pembangunan branding perlu dimulai dari fondasi berupa jati diri usaha dan penentuan target pasar. Setelah itu, pelaku usaha dapat membangun identitas visual, memperkuat kemasan, memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), hingga mengembangkan usahanya ke level yang lebih tinggi.
Selain itu, pengalaman pelanggan (customer experience) juga menjadi faktor penting dalam membangun branding. Pelayanan yang ramah, respons yang cepat, serta perhatian kepada konsumen dinilai mampu mendorong pembelian ulang. “Yang pertama kali dibeli pelanggan bukan produknya, tetapi kepercayaannya. Proses membangun kepercayaan itulah yang dikenal sebagai branding,” katanya.
Wahyudi juga mengajak pelaku UMKM mengevaluasi usahanya melalui tiga pertanyaan sederhana, yakni apakah produk mudah dikenali hanya dari tampilannya, apakah kualitas produk tetap konsisten pada setiap pembelian, dan apakah pelanggan selalu memperoleh respons yang cepat serta ramah.
Selain membangun branding, pelaku UMKM juga didorong memanfaatkan media digital untuk memperluas pemasaran. Praktisi UMKM, Afika Rahman, mengatakan masyarakat kini menggunakan gawai untuk mencari informasi sekaligus meminta rekomendasi sebelum membeli suatu produk. “Selain branding yang dibangun dengan baik, mau tidak mau kita harus menggunakan media dalam proses pemasarannya. Hasilnya tentu berbeda,” kata Rahman. Paling tidak, menurutnya, pelaku UMKM dapat mulai memasarkan produknya melalui fitur story WhatsApp.
Di sisi lain, Anggota DPRD DIY, Tri Nugroho, mengatakan perkembangan teknologi digital menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi pelaku UMKM. Karena tidak dapat dihindari, pelaku usaha perlu memanfaatkannya secara bijak dan optimal.
Ia mendorong pelaku UMKM terus belajar agar mampu beradaptasi dengan perubahan.
Salah satu caranya ialah meningkatkan pengetahuan melalui membaca buku. Menurutnya, bedah buku menjadi salah satu sarana untuk memperluas wawasan pelaku usaha. “Tanpa membaca, tanpa mengikuti perkembangan zaman, kita tidak bisa sukses,” kata Nugroho.
Senada, Pustakawan Ahli Madya Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, Muhammad Hadi Pranoto, mengatakan DPAD DIY mengembangkan perpustakaan digital e-Jogja yang menyediakan lebih dari 20.000 judul buku elektronik. Koleksi tersebut dapat dimanfaatkan pelaku UMKM untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan kapasitas usahanya.
Selain itu, DPAD DIY juga menjalankan program Bank Buku, yakni penyaluran buku sumbangan masyarakat kepada komunitas atau wilayah yang membutuhkan. Kalurahan maupun kelompok masyarakat dapat mengajukan permohonan bantuan buku kepada DPAD DIY dengan menyebutkan jenis buku yang diperlukan. (ADV)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Branding UMKM dinilai menjadi kunci membangun kepercayaan konsumen, memperluas pasar, dan meningkatkan daya saing di era digital.
DPR mendesak pemerintah mengangkat seluruh guru PPPK menjadi penuh waktu serta mengusulkan gaji minimal Rp7 juta per bulan.
Promo tiket Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko masih berlaku hingga 3 Juli 2026. Ada buy 1 get 1, diskon tiket, dan promo naik candi.
BLT Kesra Rp900.000 belum dipastikan cair pada Juli 2026. Simak penjelasan terbaru, syarat penerima, dan cara cek status bansos.
Kelurahan Kadipaten mendorong pemanfaatan pekarangan pangan melalui pelatihan untuk memperkuat ketahanan pangan dan menambah penghasilan warga.
Mi Lethek Yu Murti di Srandakan Bantul naik kelas dengan kemasan modern. Kini dipasarkan di 50 toko dan omzetnya tembus Rp20 juta.