BEDAH BUKU: Literasi Jadi Kunci Tangkal Tengkes
Kemampuan literasi keluarga menjadi kunci utama dalam penanganan dan mitigasi tengkes (stunting).
Anggota DPRD DIY, Anton Prabu Semendawai (berdiri) memaparkan materinya dalam bedah buku yang digelar di Balai Pertemuan RW 08 Kepuhsari, Kapanewon Maguwoharjo, Sleman Jumat (17/7)./ Andreas Yuda Pramono
SLEMAN-Kemampuan literasi keluarga menjadi kunci utama dalam penanganan dan mitigasi tengkes (stunting). Dengan adanya literasi di tingkat keluarga, memungkinkan masyarakat melakukan langkah awal pencegahan maupun penanganan tengkes. Pengetahuan mengenai penyebab, gejala, kebutuhan gizi, hingga pola pengasuhan anak dinilai mampu mempercepat respons masyarakat terhadap potensi kasus tengkes di lingkungan sekitar.
Anggota DPRD Sleman, M. Arif Priyo Susanto, mengatakan penanganan tengkes tidak dapat hanya dibebankan kepada keluarga maupun pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat melalui budaya kepedulian antarwarga.
“Ketika ada tetangga yang memiliki bayi, balita, atau ibu hamil, lingkungan sekitar harus ikut memberi perhatian dan dukungan sehingga apabila ada persoalan bisa segera ditangani,” kata Arif dalam acara bedah buku berjudul Tengkes: Penanganan dan Pencegahan yang digelar oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY dan DPRD DIY di Balai Pertemuan RW 08 Kepuhsari, Kapanewon Maguwoharjo, Sleman, Jumat (17/7).
Menurut Arif, budaya kepedulian dapat menjadi sistem deteksi dini kasus tengkes di tingkat masyarakat. Warga yang mengetahui adanya persoalan kesehatan pada ibu hamil maupun anak dapat segera melaporkan kepada fasilitas kesehatan atau membantu mengantarkan ke puskesmas maupun rumah sakit.
Arif menilai kemampuan masyarakat untuk bergerak cepat tersebut sangat dipengaruhi oleh tingkat literasi keluarga mengenai tengkes. Masyarakat yang memahami penyebab, pencegahan, serta penanganan awal tengkes akan lebih siap mengambil tindakan ketika menemukan kasus di lingkungannya.
Sementara itu, anggota DPRD DIY, Anton Prabu Semendawai, menilai tingginya angka tengkes tidak selalu berkaitan dengan kondisi ekonomi keluarga. Rendahnya literasi gizi dan pola asuh justru menjadi salah satu penyebab munculnya tengkes, termasuk pada keluarga yang secara ekonomi tergolong mampu.
“Tengkes tidak hanya terjadi pada keluarga kurang mampu. Ada juga keluarga yang sebenarnya mampu, tetapi pola asuh dan pemahaman gizinya kurang,” kata Anton.
Berdasarkan data yang dipaparkan Anton, prevalensi tengkes di Sleman mengalami kenaikan sebesar 2,3% menjadi 17,3%. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pengetahuan keluarga menjadi sama pentingnya dengan intervensi bantuan pangan maupun ekonomi.
Pencegahan tengkes, kata dia, harus dimulai sejak periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Namun, masih terdapat ibu hamil yang membatasi konsumsi makanan demi menjaga bentuk tubuh selama kehamilan maupun orang tua yang kurang mengawasi pola konsumsi anak.
“Literasi keluarga mengenai gizi, kesehatan reproduksi, dan pola pengasuhan menjadi salah satu kunci untuk menekan angka tengkes sekaligus mempersiapkan kualitas sumber daya manusia menuju Bonus Demografi 2045,” kata dia.
Perwakilan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, Budiyono, menambahkan literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi harus berlanjut pada perubahan perilaku berdasarkan pengetahuan yang diperoleh masyarakat.
“Ketika masyarakat membaca, mereka memahami persoalan seperti tengkes dan mengetahui langkah-langkah pencegahannya,” kata Budiyono.
Menurut Budiyono, peningkatan literasi pada akhirnya akan berdampak pada kualitas hidup masyarakat, termasuk dalam upaya mencegah tengkes sejak dini. DPAD DIY, kata dia, memanfaatkan program bedah buku sebagai sarana mendekatkan bahan bacaan kepada masyarakat sekaligus memperkuat budaya membaca sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Gambaran Awal
Redaktur Penerbit Lebah Buku, Maya Lestari, mengatakan buku Tengkes: Penanganan dan Pencegahan karya Dara Ayu Suharto dan Meganita Mantowi dipilih karena memuat penjelasan menyeluruh mengenai penyebab, dampak, serta langkah pencegahan tengkes yang dapat diterapkan keluarga.
“Isi buku ini sangat penting mengingat Indonesia masih mengalami kasus-kasus tengkes di banyak daerah,” katanya.
Menurut Maya, kegiatan bedah buku berfungsi seperti sebuah trailer yang memberikan gambaran awal mengenai isi buku sehingga masyarakat terdorong untuk membaca lebih jauh dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. (ADV)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kemampuan literasi keluarga menjadi kunci utama dalam penanganan dan mitigasi tengkes (stunting).
Apple kembali jadi perusahaan paling bernilai di dunia dengan kapitalisasi US$4,88 triliun, salip Nvidia. Investor mulai beralih dari chip AI ke ekosistem.
Rekor pertemuan Prancis vs Inggris di perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026: Les Bleus unggul 5-3. Laga di Miami, Minggu 04.00 WIB. Simak head-to-head lengka
Saham Netflix anjlok lebih dari 10 persen setelah perusahaan mengurangi transparansi data penonton dan memproyeksikan pertumbuhan pendapatan yang lebih lambat.
Rekomendasi mobil bekas di bawah Rp50 juta: Honda City Z, Toyota Kijang LGX, Hyundai Atoz. Simak harga, kelebihan, dan tips inspeksi sebelum membeli!
Harga emas Antam, Galeri 24, dan UBS di Pegadaian kompak turun pada Sabtu 18 Juli 2026. Emas Antam 1 gram kini dibanderol Rp2,711 juta, turun Rp28 ribu dibandin