Jangan Takut Nuklir, Teknologi Ini Justru Selamatkan Pasien Kanker
Stigma nuklir sebagai bahaya dipatahkan. Kedokteran nuklir di Jogja justru bantu deteksi dan terapi kanker dengan akurasi tinggi.
Anggota DPRD DIY, Anton Prabu Semendawai (berdiri) memaparkan materi dalam bedah buku berjudul berjudul Stunting, Penanganan dan Pencegahan yang digelar di Gor Kira, Kalurahan Balecatur, Kapanewon Gamping, Jumat (17/7)./ Harian Jogja - Catur Dwi Janati
SLEMAN - Stunting atau tengkes ternyata tidak selalu identik dengan faktor kemiskinan, melainkan juga dipicu oleh minimnya pengetahuan orang tua mengenai pemenuhan gizi anak. Itulah sebabnya, lewat bedah buku berjudul Stunting, Penanganan dan Pencegahan yang diinisiasi Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY, masyarakat diedukasi bahwa pemenuhan nutrisi yang baik untuk mencegah tengkes tidak harus mahal, melainkan bisa memanfaatkan bahan pangan lokal yang terjangkau.
Dalam bedah buku yang digelar di GOR Kira, Kalurahan Balecatur, Kapanewon Gamping, Sleman, Jumat (17/7) tersebut, anggota DPRD DIY, Anton Prabu Semendawai, mengatakan bahwa munculnya kasus tengkes tidak bisa hanya dilihat dari kacamata ekonomi. Pasalnya, kasus stunting terkadang juga masih ditemukan terjadi pada keluarga yang berstatus mampu secara ekonomi.
“Tengkes itu kan tidak dilihat dari hanya pola ekonomi, walaupun baseline-nya masalah ekonomi. Tetapi orang yang mampu pun juga rentan dengan stunting,” kata Anton, Jumat.
Meski ekonomi acap menjadi dasar dari salah satu faktor penyebab tengkes, penanganannya harus dilihat dengan sudut pandang yang lebih luas. Menurut Anton, cara pandang yang lebih luas akan memuat beragam aspek faktor yang memengaruhi angka stunting, selain aspek ekonomi.
Selain ekonomi, tengkes juga dipengaruhi oleh infrastruktur sarana dan prasarana, salah satunya sanitasi.
“Jadi memang [tengkes] ini holistik,” kata dia.
Sementara itu, Redaktur Penerbit Lebah Buku Group, Maya Lestari, menilai kegiatan bedah buku semacam ini penting untuk mengedukasi cara pencegahan dan penanganan tengkes di lingkungan masyarakat. Dengan edukasi mengenai persoalan gizi maupun pemenuhan nutrisi anak, diharapkan angka kasus tengkes dapat ditekan.
“Jadi dengan menjelaskan betapa pentingnya gizi seimbang, memperhatikan nutrisi untuk anak dari kecil, itu setidaknya bisa membantu pelan-pelan untuk mencegah stunting di masa yang akan datang,” ujar dia.
Saat ini, kata Maya, pola pemberian makanan yang kerap menghidangkan Ultra Processed Foods (UPFs) bisa berdampak buruk pada anak.
“Itu kan membawa dampak yang tidak terlalu baik untuk tubuh dan itu bisa menyumbang penyakit-penyakit kronis atau degeneratif juga seperti diabetes,” ujarnya.
Tengkes, kata dia, juga bisa dipicu karena kurangnya pengetahuan. Faktor kurangnya pengetahuan ini, kata dia, bisa dicegah dengan memberikan edukasi terus-menerus kepada masyarakat dan menjelaskan bahwa makanan bergizi itu tidak mesti mahal.
“Banyak kok makanan-makanan yang murah di sekeliling kita yang sebenarnya sangat baik ya untuk tubuh,” ujar dia.
Narasumber lainnya, Bagas Aulia Darmawan, menilai program bedah buku dari DPAD DIY ini bertujuan mengajak masyarakat memahami, mengkritisi, dan mengambil manfaat dari isi buku. Harapannya, isi buku yang dibedah dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Stunting bukan lagi masalah tinggi badan, tetapi masyarakat juga mengetahui tentang masa depan anak,” ujarnya.
Tanggung Jawab Bersama
Dia berharap dari kegiatan ini masyarakat bisa mengetahui pengetahuan pencegahan stunting sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
“Mencegah stunting adalah tanggung jawab bersama. Jadi masyarakat juga harus sadar jika stunting itu adalah tanggung jawab kita bersama. Mulai dari keluarga, kader posyandu, pemerintah desa, tenaga kesehatan, sekolah, dan seluruh masyarakat.”
Sementara itu, Pustakawan Ahli Utama DPAD DIY, Budiyono, berharap masyarakat bisa memahami dan menularkan isi buku berjudul Stunting, Penanganan dan Pencegahan kepada orang lain. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Stigma nuklir sebagai bahaya dipatahkan. Kedokteran nuklir di Jogja justru bantu deteksi dan terapi kanker dengan akurasi tinggi.
Polresta Jogja menegaskan bahwa seluruh layanan SIM Keliling hanya melayani perpanjangan SIM A dan SIM C yang masih berlaku.
Kemampuan literasi keluarga menjadi kunci utama dalam penanganan dan mitigasi tengkes (stunting).
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menerima penghargaan Impactful Regional Leadership dalam acara Solopos Best Brand & Innovation (SBBI) Award 2026
Perpanjang SIM A dan C di Kulonprogo lebih mudah melalui SIM Keliling. Jadwal lengkap dan lokasi.
Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Sleman kembali membuka layanan SIM Keliling.